Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

kiat SUKSES PKM




Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor MRur.Sc
Institut Pertanian Bogor
2009
Pendahuluan
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) diluncurkan oleh DP2M DIKTI dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin yang mandiri dan arif.  Dalam hal ini mahasiswa diberi kesempatan untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggung jawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandiriannya melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmunya masing-masing.
Sampai saat ini terdapat lima jenis kegiatan PKM yang ditawarkan, yaitu:
(a)   PKM Penelitian (PKMP) yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkreasi melalui penelitian sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing, baik dalam bentuk mono maupun multi disiplin.
(b)   PKM Penerapan Teknologi (PKMT) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkreasi dan berinovasi melalui penciptaan jasa seperti pembukaan, pemasaran, penataan ruang produksi dll; atau karya teknologi seperti peralatan, prototipe, model, proses dll yang diperlukan oleh kelompok,  masyarakat produktif, kelompok usaha tani, industri kecil, maupun pedagang kecil sesuai dengan bidang ilmu masing-masing baik dalam bentuk mono maupun multi disiplin.
(c)   PKM Kewirausahaan (PKMK) yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berkreasi atau berinovasi melalui penciptaan keterampilan berwirausaha dan berorientasi pada keuntungan (profit).
(d)   PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkreasi melalui kegiatan peningkatan kecerdasan, keterampilan, pengetahuan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan hidup, maupun pengembangan kelembagaan masyarakat
(e)   PKM Penulisan Ilmiah (PKMI) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkreasi melalui kegiatan penulisan ilmiah baik yang bersumber dari PKMP, PKMT, MKMK, PKMM maupun kegiatan ilmiah lainnya.
Seringkali mahasiswa / kelompok mahasiswa dalam upayanya mendapatkan dana melalui PKM ini  mengalami berbagai kesulitan dalam hal menemukan ide, penulisan, koordinasi kelompok, penyusunan anggaran dll yang berdampak pada rendahnya daya saing proporsal yang dibuatnya.  Oleh sebab itu,  tulisan  ini dibuat untuk membantu mahasiswa dalam pencarian ide dan penyusunan proporsal yang diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi mahasiswa untuk menyusun proporsal PKM yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan peluangnya untuk dibiayai.
pa itu kreativitas ?
Dalam penulisan proporsal PKM,  kata kunci terpenting adalah  “KREATIVITAS” yang merupakan ciri khas  program ini.  Oleh sebab itu, penulisan PKM yang tidak mengandung unsur kreativitas sangatlah susah untuk dapat lolos dan dibiayai.  Perlu ditekankan bahwa  PKM ini tidak sama dengan proporsal yang disusun oleh mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya yang pada umumnya bersifat sangat  ilmiah.
Kata kreatif yang menjadi kunci keberhasilan penyusunan proporsal PKM ini  menurut Encyclopedia Britanica (2002) adalah “The ability to make or otherwise bring into existence something new, whether a new solution to a problem, a new method or device, or a new artistic object or form”.  Sedangkan definisi  menurut Roget’s II Thesaurus, kreatif  itu adalah “ characterized by or productive of new things or new idea : innovative, inventive”  Jadi mahasiswa yang kreatitif itu memiliki tiga  ciri, yaitu adalah “promoting construction or creation”, “having ability of power to create” dan “having the power or productive of new things or new ideas”.  Ide baru yang dimaksud disini tidak selalu harus seluruhnya baru (original) ataupun harus canggih, akan tetapi dapat berarti sesuatu ide yang dibuat dengan cara memodifikasi ide yang sudah ada sehingga berubah menjadi ide lain yang lebih kreatif.
Sebagai contoh apabila suatu kelompok mahasiswa mengajukan judul seperti “Komersialisasi produk bakso”, maka akan sulit bagi kelompok ini untuk mendapatkan dana PKM,  mengapa? Kita semua sudah tau bahwa produk bakso tersebut sudah sangat dikenal dimasyarakat.  Oleh sebab itu,  judul yang diajukan oleh kelompok mahasiswa ini menjadi “biasa-biasa” saja yang tidak ada unsur kreativitas didalamnya, artinya kelompok mahasiswa ini mengajukan kegiatan PKM yang sudah menjadi kegiatan keseharian masyarakat.  Lain halnya jika judul PKM di atas dirubah menjadi “Komersialisasi produk bakso berkalsium tinggi, sehat dan aman untuk dikonsumsi”.  Dalam hal ini,  mahasiswa berusaha untuk memadukan hasil penelitian yang sudah ada dan memanfaatkan tren gaya hidup sehat masyarakat dalam unsur “bakso” yang sangat digemari oleh masyakat Indonesia.  Sumber kalsium yang digunakan oleh mahasiswa ini misalnya berupa hasil olahan dari limbah pemotongan ayam, yaitu berupa tulang rawan kaki yang harganya sangat murah.  Tulang rawan ini selanjutnya diproses untuk menjadi tepung tulang rawan yang merupakan sumber kalsium utama bakso yang dibuatnya.  Dengan mamadukannya dengan proses pembuatan yang higienis, maka tercipta bakso baru yang diharapkan dapat mengakomodasikan tren gaya hidup sehat dengan menkonsumsi kalsium tinggi.  Sehingga disamping susu berkasium tinggi yang harganya relatif mahal, masyarakat diberi alternatif lain yang lebih murah, tanpa mengubah kegemarannya mengkonsumsi bakso.
Contoh lain dari judul PKM yang cukup kreatif adalah “Pemanfaatan limbah whey keju dalam pembuatan nata”  ada dua unsur kreatif yang terkandung pada judul ini, yaitu limbah whey dan nata yang dibuat dari whey.  Dalam pembuatan keju, sering whey menjadi limbah, karena nilai ekonomisnya sangat rendah.  Apabila limbah ini dibiarkan, maka limbah ini dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.  Dengan memanfaatkan limbah ini dan mengubahnya menjadi produk lain, yaitu menjadi nata, maka diharapkan kelompok mahasiswa ini dapat membantu memecahkan masalah lingkungan.
Apabila terdengar kata nata, secara otomatis kita membayangkan suatu produk yang dibuat dari air kelapa yang bentuknya kubus kecil dengan  warna putih dan rasa khas kelapa, yaitu yang sering disebut nata de coco.  Kelompok mahasiswa ini telah berhasil mencari alternatif lain dalam pembuatan nata secara kreatif, yaitu dengan cara menumbuhkan bakteri dalam whey.  Kualitas nata yang dihasilkan sangat baik, sebab disamping aroma dan kekenyalannya cukup baik, produk ini dapat dibuat dengan berbagai rasa dan bentuk sesuai dengan selera masyarakat.
Contoh ketiga judul PKM yang dinilai cukup kreatif adalah “Ekstrak daun sirih sebagai obat mastitis pada sapi perah”  Kelompok mahasiswa ini berusaha untuk memecahkan masalah utama dalam industri sapi perah, yaitu penyakit mastitis.  Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang mengakibatkan susu menjadi rusak dan tidak layak untuk dikonsumsi.  Disamping itu, susu yang dihasilkan oleh sapi yang terkena mastitis akan ditolak oleh industri pengolahan susu yang tentunya mengakibatkan kerugian yang besar bagi peternak.  Dalam pengobatan mastisis ini, biasanya digunakan antibiotik yang harganya mahal dan tidak terjangkau oleh peternak rakyat.  Dengan memanfaatkan pengetahuan tradisional masyarakat tentang khasiat daun sirih sebagai antiseptik dan mungkin juga antibiotik, kelompok mahasiswa ini mencoba mencari alternatif pengobatan lain selain menggunakan antibiotik.  Dengan berbagai teknik ekstraksi dan cara aplikasinya, kelompok ini telah berhasil mengurangi kejadian mastitis pada sapi perah melalui pengobatan yang yang ramah lingkungan.
Jadi dengan mengamati contoh di atas, jelas tergambar bahwa program PKM yang diajukan tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru, akan tetapi merupakan modifikasi ide yang telah ada dengan cara lebih kreatif.
Seringkali mahasiswa dalam pencarian ide dan penyusunan proporsal terjebak dalam nilai kemutlakan ilmiah.  Perlu selalu diingat bahwa  sesuatu yang ilmiah itu belum tentu kreatif demikian juga sebaliknya.  Sebagai contoh apabila ada kelompok mahasiswa yang mengajukan judul “mekanisme penyerapan kalsium dalam darah orang dewasa”, maka kemungkinan besar evaluator menilai  proporsal yang diajukan dengan judul ini tidak kreatif, sebab judul tersebut terlalu ilmiah dan tidak mengandung untur kreativitas.  Hal-hal seperti inilah yang sering terjadi dimana mahasiswa menulis proporsalnya dengan mengacu pada tugas akhirnya tanpa memodifikasinya sesuai dengan persyaratan PKM.
nda ingin berhasil ?
Beberapa kiat-kiat berikut diharapkan dapat meningkatkan peluang keberhasilan  lolosnya proporsal anda:
Pilihlah judul dan topik yang menarik.   Biasanya hal yang paling pertama dilihat oleh evaluator pada proporsal PKM adalah judul dan topik PKM yang  diajukan.  Oleh sebab itu, usahakan judul yang diajukan dibuat semenarik mungkin.  Jika dibandingkan antara dua judul berikut “Pembuatan bahan dasar kosmetik dari mentimun dan bengkuang” dan “Pembuatan bahan dasar kosmetik dari feces dan urine sapi”, tentunya judul kedua lebih aneh dan menarik.  Tentu saja judul yang menarik saja tidak menjamin proporsal tersebut pasti lolos.  Penyusun proporsal harus dapat menyakinkan evaluator bahwa dengan berbekal pengetahuan yang sudah ada (tercermin dari tinjauan pustaka), metode pelaksanaannya (tercermin pada materi dan metode), serta keberhasilan pelaksanaannya (tercermin pada penjadwalan dan pembiayaanya),  ide yang tercantum pada judul proporsal tersebut dapat terealisasikan dengan baik.  Sering juga evaluator menghadapi suatu kenyataan bahwa banyak proprorsal yang judulnya sangat menarik, akan tetapi ternyata setelah dibaca isi proporsalnya tidak mencerminkan dan mendukung judul tersebut, akibatnya evaluator tidak meloloskan proporsal tersebut..  Sebagai contoh pernah ada proporsal yang diajukan  dengan judul “Sistem pengangkatan air tanah tanpa energi listrik di daerah papua”.  Judul ini sangat menarik bagi evaluator sebab jika PKM ini berhasil dengan baik, tentunya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat.  Setelah proporsal tersebut dibaca seluruhnya ternyata kelompok mahasiswa ini merencanakan membuat sumur gali sebanyak 5 buah dengan kedalaman masing-masing 20 meter.  Selanjutnya untuk mengangkat air tanah digunakan timba yang dikerek dan  air tersebut dialirkan pada saluran yang dibuat ke rumah penduduk.  Jadi jelas bagi evaluator bahwa ide yang diusulkan tersebut sudah merupakan teknik yang telah diterapkan masyarakat luas di daerah lain.
Seringkali mahasiswa mengalami  kesulitan dalam membuat  ide awal yang akan ditulis dalam proporsal.  Kita harus ingat bahwa untuk menjadi kreatif, kita harus dapat membuka belenggu kebiasaan yang ada.  Sebagai contoh dalam menulis sesuatu, ditabukan untuk menulisnya dengan menggunakan tinta merah dan dianjurkan untuk menulisnya dengan tinta warna hitam atau biru, rapi dan dengan haruf yang sama besarnya.  Kebiasaaan seperti ini tanpa kita sadari telah menjadi belenggu kreativitas kita.  Selama komposisi huruf dan warna menarik, tulis saja sesuai dengan imajinasi anda.  Tentu saja kita harus melanggar kebiasaan, yaitu dengan cara menulis kalimat dengan berbagai kombinasi huruf dan warna, termasuk warna merah didalamnya.  Jadi jika kita ingin berpikir kreatif, cara berpikir kita harus melewati batas-batas kebiasaan, tradisi  atau norma yang ada.
Selanjutnya setelah kita telah terbebas dari belengggu ini akan mengalir berbagai ide liar yang terpikir sesaat.  Ide-ide liar yang mengalir ini harus segera ditulis segera sebelum kita lupa.  Dalam menciptakan ide-ide ini kita tidak perlu takut membuat kesalahan, sebab nantinya setelah dicatat, kita harus kembali membaca dan merenungkan serta merangking ide-ide tersebut berdasarkan prioritas, realisasi ide dan peluangnya untuk berhasil didanai.  Dengan cara ini dalam satu hari saja  tidak menutup kemungkinan akan banyak sekali ide yang muncul dan diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang tidak mengikuti kompetisi PKM, dengan alasan tidak memiliki ide.
Tulis Porporsal sesuai dengan panduan. Menulis proporsal sesuai dengan format yang diminta oleh pihak DIKTI merupakan suatu keharusan.  Setelah membaca judul, biasanya evaluator melihat dulu apakah proporsal yang akan dievaluasi tersebut sudah sesuai dengan format yang diminta.  Sering kali, karena mengejar batas akhir pengumpulan, proporsal dikirim tanpa lembar pengesahan atau ada bagian-bagian yang seharusnya ada di proporsal didak ada di dalam proporsal.  Seleksi awal kelengkapan bagian-bagian yang harus ada dalam proporsal PKM merupakan cara yang efektif bagi evaluator untuk menentukan kelayakan proporsal tersebut untuk dibiayai.  Dalam hal ini bagaimana mungkin evaluator akan yakin bahwa kelompok mahasiswa tersebut dapat menjalankan program PKM nya, jika dalam menulis proporsalnya saja sudah tidak lengkap dan jelas.  Oleh sebab itu, apabila sudah mendapatkan kesepakatan ide yang akan dituangkan dalam proporsal, bacalah dan panduan penulisan PKM (biasanya dikirim ke masing-masing perguruan tinggi, atau dapat diperoleh melalui internet) dengan cermat dan ikuti semua persyaratan yang tercantum dalam format, termasuk didalamnya besar huruf, ukuran kertas, bagian-bagian yang harus ada, tata cara penulisan pustaka dll.  Jadi sangat disayangkan jika ide yang baik dari mahasiswa tidak didanai dalam kegiatan PKM, karena ditulis tidak sesuai dengan format.
Konsultasikan proporsal dengan pakarnya.   Memang harus kita sadari bahwa kualitas sumber daya manusia dan antusiasme pembina kemahasiswaan dan mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan PKM sangat bervariasi.  Ada perguruan tinggi yang sudah memiliki sistem pembinaan dan kaderisasi mahasiswa untuk mengikuti PKM yang sangat baik, akan tetapi tidak dapat kita pungkiri juga ada perguruan tinggi yang tampaknya kurang perduli dengan kegiatan PKM ini.  Biasanya di perguruan tinggi yang perduli dengan program PKM, penyebaran informasi PKM telah dilakukan dengan baik.  Disamping itu,  untuk meningkatkan minat biasanya dilakukan pelatihan-pelatihan cara penyusunan proporsal PKM secara teratur.  Di perguruan tinggi seperti ini biasanya, mahasiswa hampir tidak memiliki kesulitan untuk berkonsultasi dengan pakar (pembimbing), sebab pembimbing tersebut sudah terbiasa dan memiliki kemampuan yang memadai untuk meningkatkan motivasi,  menajamkan serta membungkus ide dari mahasiswa untuk menjadi proporsal yang menarik.
Hal lain yang penting untuk diingat bahwa para pakar tersebut tentunya tidak hanya terdapat di laboratorium dan jurusan (departemen) dimana mahasiswa tersebut berada.  Mahasiswa harus secara aktif berkonsultasi dan mencari pakar yang diharapkan dapat membantu menuangkan idenya ke dalam proporsal di luar bagian/laboratorium, di luar jurusan/depertemen, bahkan di luar fakultasnya.  Melalui cara ini diharapkan mahasiswa dapat memperluas wawasannya dan mempertajam idenya.
Bentuklah kelompok yang memiliki pengetahuan yang menunjang.  Pembentukan kelompok penyusun proporsal akan sangat menentukan keberhasilan suatu prorsal.  Oleh sebab itu, janganlah pola pemikiran kita terkungkung oleh kurungan laboratorium, bagian, jurusan atau fakultas dimana mahasiswa berada.  Sebagai contoh untuk judul PKM “Pembuatan alat pembuat tapioka tanpa ampas”,  komposisi anggota tim, harus berasal dari berbagai disiplin ilmu, yaitu teknik mesin untuk merancang peralatan, agronomi untuk mengetahui biologi dan stuktur fisik singkong, serta teknologi pangan untuk mengevaluasi kualitas pati tapioka yang dihasilkan.  Oleh sebab itu,  jika judul ini hanya dilakukan oleh mahasiswa jurusan mesin saja, dikhawatirkan akan ada unsur yang tidak terbahas dengan baik dan akan berakibat kurangnya kualitas proporsal.
Dalam rangka kaderisasi, susunlah anggota tim yang terdiri dari berbagai tingkat sehingga diharapkan ada unsur pembinaan yang berkelanjutan.  Hindari penyusunan seluruh angota kelompok yang terdiri dari mahasiswa tingkat akhir semuanya.  Perlu kita ingat bahwa rentang waktu dari pemberitahuan, pelaksanaan sampai ke PIMNAS sering kali memakan waktu 1 tahun.  Oleh sebab itu,  jika komposisi anggota tim semuanya terdiri dari mahasiswa tingkat akhir, maka dikhawatirkan, pelaksanaan PKM tidak berjalan dengan baik sebab secara bersamaan mahasiswa tersebut disibukkan dengan tugas akhir.  Disamping itu sering kali judul PKM yang diundang ke PIMNAS tidak dapat dihadiri oleh anggota timnya, karena semua anggotanya telah lulus.  Kaderisasi merupakan kunci keberhasilan suatu perguruan tinggi dalam mempertahankan reputasi ilmiah mahasiswanya dalam ajang PKM.  Oleh sebab itu,  perguruan tinggi diharapkan dapat menyusun strategi pembinaan ilmiah mahasiswanya agar prestasi ilmiahnya dapat menonjol dan konsisten.
Disamping dua hal di atas, perlu juga diperhatikan keserasian dan kecocokan anggota tim.  Diharapkan bahwa semua angota tim memiliki penjabaran tugas yang jelas dan berbeda dengan anggota tim lainnya agar efisiensi dapat tercapai.  Oleh sebab itu,  di dalam pedoman penyusun proporsal PKM diharuskan untuk mencantumkan Riwayat Hidup lengkap bagi ketua dan anggota kelompok, serta pembimbing.  Dalam hal ini,  evaluator akan menilai  kesesuaian bidang mahasiswa dan pembimbing dengan topik yang diajukan.  Hal ini penting untuk dinilai agar ada suatu jaminan bahwa kelompok tersebut dengan bimbingan pembimbing dapat melaksanakan dengan baik apa yang tertulis di proporsal.
Pelajari kriteria penolakan.  Sejalan dengan proses penulisan proporsal, kriteria penolakan suatu proporsal harus dipelajari dengan baik agar hal-hal yang menyebabkan ditolaknya suatu proporsal dapat dihindari.  Masing-masing jenis PKM memiliki kriteria penolakan yang tertentu pula.  Sebagai contoh untuk PKMP dan PKMT  kriteria penolakannya adalah sebagai berikut:
  1. Latar belakang kurang mendukung teknologi yang direncanakan.  Perumusan masalah/teknologi tidak dirumuskan dengan jelas.  Kriteria penolakan ini berhubungan dengan Latar Belakang Permasalahan yang tertulis di proporsal.
  2. Kreativitas yang spesifik tidak diungkapkan.  Metode tidak dijelaskan dengan jelas atau diragukan mampu mencapai tujuan penelitian/teknologi yang dirumuskan. Kriteria penolakan ini berhubungan dengan Metodologi Pelaksanaan yang tertulis di proporsal.
  3. Luaran dianggap sudah umum atau tidak sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan.  Kreteria penolakan ini berhubungan dengan Luaran yang diharapkan yang tertulis di proporsal
  4. Kemungkinan terciptanya manfaat bagi pengembangan diri pribadi mahasiswa diragukan. Kriteria penolakan ini berhubungan dengan kegunaan penelitian untuk menumbuhkan jiwa kreativitas bagi mahasiswa yang tertulis di proporsal
  5. Pembagian tugas dan kerjasama antar anggota tidak ditonjolkan.  Kreteria penolakan ini berhubungan dengan kegunaan penelitian dalam hal pengembangan kemandirian dan semangat kerjasama tim bagi mahasiswa yang tertulis di proporsal.
  6. Manfaat program bagi kelompok masyarakat sasaran atau pengguna diragukan.  Kreteria penolakan ini berhubungan dengan kegunaan penelitian yang berhubungan dengan merangsang perkembangan kreativitas masyarakat yang tertulis di proporsal
  7. Tidak sesuai dengan format inti pedoman.  Kreteria penolakan ini berhubungan dengan penjadwalan kegiatan yang tertulis di proporsal.
  8. Ruang lingkup tidak sesuai dengan bidang kegiatan yang dipilih dan pembiayaan yang lebih tinggi dari pedoman. Kreteria penolakan berhubungan dengan komponen penyusunan anggaran biaya yang tertulis dalam proporsal
  9. Alasan diluar a sampai h yang akan ditulis oleh evaluator secara spesifik.
Dalam pembobotan penilaian,  unsur kreativitas (latar belakang perumusan maslaah, metodologi pelaksanaan dan luaran yang dihasilkan) memiliki  bobot 40%.  Unsur kegunaan program (bagi mahasiswa, masyarakat, dan kerjasama tim) memiliki bobot 40%.  Unsur kesesuaian  dengan format memiliki bobot 10%.  Unsur kesesuaian ruang lingkup program, jumlah anggota tim dan jumlah biaya memiliki bobot 10%.  (catatan : bobot penilaian dapat berobah dari satu periode pengusulan PKM ke periode berikutnya.  Baca Pedoman Penulisan Proposal PKM yang dikeluarkan oleh DP2M Dikti)
Evaluator akan memberikan nilai untuk masing-masing kreteria penilaian ini dengan kisaran angka mulai dari satu sampai lima yang bermakna: 1 (sangat kurang), 2 (kurang), 4(baik) dan 5 (sangat baik).  Batas nilai minimum lolosnya suatu proporsal adalah 350.  Oleh sebab itu, diperlukan suatu strategi yang jitu agar proporsal yang diajukan lolos.  Untuk dapat lolos, suatu proporsal harus memiliki nilai minimum 4 untuk dua unsur utamanya, yaitu kreativitas dan kegunaan.  Jika nilai kedua unsur ini tidak mencapai empat, sudah dapat dipastikan proporsal yang diajukan tidak lolos. (Catatan : kerteria lolosnya suatu proposal dapat dibaca di panduan resmi PKM)
Buatlah perencanaan secara menyeluruh.  Penyusun proporsal diharapkan dapat merencanakan seluruh kegiatan PKM nya dengan baik sebelum mengajukan proporsal agar dapat mengantisipasi tahapan-tahapan yang akan dilalui.  Perencanaan ini harus disesuaikan dengan tahapan-tahapan yang akan dilalui oleh penyusun proporsal apabila proporsalnya kelak diterima.  Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Permintaan proporsal ke perguruan tinggi.  Pengumuman ini biasanya dilakukan oleh DIKTI dan dikirimkan ke perguruan tinggi.  Disamping itu informasi tentang PKM dapat pula diperoleh melalui website DIKTI.  Pengumuman ini biasanya berisi tentang jenis PKM yang ditawarkan, pedoman penulisan dan batas akhir pengumpulan proporsal.
  2. Proporsal yang telah dikirimkan oleh masing-masing perguruan tinggi selanjutnya dipilah-pilah dan diberikan lembaran identitas sesuai dengan jenis PKM yang diajukan dan kode perguruan tinggi pengusul.
  3. Poporsal yang telah dipilah-pilah selanjutnya dibagikan ke pakar PKM untuk dievaluasi.  Setiap judul proporsal akan dievaluasi oleh dua orang pakar secara independen.
  4. Dikti selanjutnya akan mengundang para evaluator ini  untuk memberikan kesempatan pada  pakar yang menilai proporsal yang sama untuk menentukan proporsal mana yang lolos dan proporsal mana yang ditolak, setelah dibuat nilai rata-rata evaluator untuk masing-masing proporsal.  Kedua evaluator selanjutnya membuat kesepakatan untuk menentukan berapa dana yang seharusnya dialokasikan untuk proporsal yang diterima sesuai dengan ruang lingkup dan volume kegiatannya
  5. Hasil ini selanjutnya  akan dievaluasi oleh tim kecil untuk dilihat distribusi perguruan tinggi pengusul dan keseuaian dengan anggaran yang akan dialokasikan.
  6. Hasil evaluasi ini selanjutnya diumumkan secara serentak keseluruh perguruan tinggi pengusul.  Bagi proporsal yang diterima dicantumkan besarnya biaya yang dialokasikan, sedangkan bagi proporsal yang ditolak dicantumkan alasan penolakannya.
  7. Selanjutnya kelompok mahasiswa yang diterima proporsalnya akan menerima dana pelaksanaan kegiatan PKM dan melaksanakan PKM selama 4 bulan.  Dana yang dialokasikan diberikan dalam dua tahapan, yaitu tahapan pelaksanaan sebesar 70% dan sisanya sebesar 30% akan diberikan apabila telah menyerahkan laporan akhir kegiatan PKM.
  8. Menjelang akhir pelaksanaan kegiatan, DIKTI akan mengirimkan evaluator untuk menilai sampai sejauh mana kegiatan telah dilaksanakan dan dinilai hasil pelaksanaannya.  Berdasarkan hasil pemantauan ini evaluator akan mengusulkan kelompok mana yang akan diundang menghadiri PIMNAS untuk menyampaikan hasil penelitiannya.
  9. Selanjutnya dengan menggabungkan hasil evaluasi di lapangan dan hasil yang disampaikan lewat Laporan Akhir,  ditentukan kelompok mana yang akan diundang ke PIMNAS.
  10. Di PIMNAS para finalis diberi kesempatan untuk menyajikan hasil kegiatan PKM nya dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk poster dan dalam bentuk presentasi oral.  Hasil ini selanjutnya akan dinilai oleh dewan juri untuk ditentukan kepompok mana yang akan mendapatkan penghargaan secara nasional.
enutup
Mengingat kegiatan PKM ini memiliki unsur khas yang berupa kreavitas, diharapkan kelompok pengusul harus mempelajari tujuan pelaksanaan PKM dan hal-hal lain yang telah diuraikan di atas.  Setelah mempelajari semuanya pengusul diharapkan dapat membuka belenggu kreativitas agar ide-ide dapat mengalir dengan deras.  Pengusul proporsal juga diingatkan agar dapat menjadwalkan kegiatannya secara menyeluruh dan mentargetkan PKM nya sampai ke PIMNAS.  Melalui cara ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan motivasinya mengikuti kegiatan PKM.
Banyak sekali manfaat bagi mahasiswa dan institusi dengan mengikuti PKM ini.  Kegiatan PKM disamping dapat dikaitkan dengan penyelesaian tugas akhir, kegiatan ini sangat berguna untuk menumbuhkan kreativitas mahasiswa yang tidak semuanya dapat diberikan dalam bentuk perkuliahan.  Disamping itu kegiatan PKM ini diharapkan dapat melatih mahasiswa dalam kerja berkelompok.   Adalah merupakan suatu kebanggaan bagi mahasiswa dan institusi apabila dapat memenangkan penghargaan di PIMNAS yang merupakan ajang adu kualitas ilmiah di tingkat nasional yang paling bergengsi.

Minggu, 18 September 2011

HARI MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA


Tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa kedokteran Indonesia memiliki peran penting dalam membangun bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan, mahasiswa kedokteran menetaskan pemikirannya dengan membentuk organisasi yang memiliki cita-cita yang luhur bagi bangsa Indonesia. Organisasi ini diberi nama budi utomo.
Budi utomo banyak memberikan prestasi bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Selain itu, organsasi pemuda ini juga mengkonduksi pemikiran rakyat Indonesia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mandiri dan besar. Sehingga rakyat Indonesia sadar bahwa mereka tidak bisa tinggal diam dengan penjajahan yang terjadi selama ini.
Peristiwa bersejarah lain adalah peristiwa malari. Hariman siregar sebagai mahasiswa kedokteran Indonesia menjadi pelopor dalam pergerakan mahasiswa untuk menolak liberalisme dan campur tangan asing dalam urusan rumah tangga Indonesia. Inilah beberapa contoh perjuangan mahasiswa kedokteran Indonesia sebagai wujud kepeduliannya terhadap rakyat Indonesia.
Tahun 2011 ini adalah tahun bagi mahasiswa kedokteran Indonesia. Tiga puluh tahun yang lalu di Makasar, tepatnya pada tanggal 20 september 1981 Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia ( ISMKI ) berdiri dan dideklarasikan sebagai wadah bagi mahasiswa kedokteran Indonesia. Hari jadi ISMKI ini juga dijadikan
sebagai hari mahasiswa kedokteran Indonesia. Dahulu ISMKI bernama Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia ( IMKI ). IMKI dideklarasikan oleh mahasiswa kedokteran Indonesia di Cimacan pada tahun 1969. Dikarenakan adanya kebijakan pemerintah mengenai Normalisasi Kebijakan Kampus ( NKK-BKK ) maka IMKI berubah nama menjadi ISMKI.

ISMKI memiliki fungsi sebagai wadah utama bagi mahasiswa kedokteran Indonesia untuk beraktifitas, berkreasi, menyampaikan aspirasi dan wadah untuk membangun bangsa Indonesia.
Dalam menjalankan fitrahnya, ISMKI memiliki berbagai tantangan. Dimulai dari antusias mahasiswa kedokteran Indonesia yang menurun dalam beraktivitas diluar bangku kuliah, sampai permasalahan pragmatism wadah organisasi mahasiswa kedokteran Indonesia.
Jika kita melihat kondisi wadah mahasiswa kedokteran sekarang ini, banyak bermunculan berbagai wadah yang bergerak sesuai dengan area kerjanya masingmasing. Diantara profesi lain, mahasiswa kedokteranlah yang memiliki banyak organisasi. Memang bukan hal yang salah, namun jika pada akhirnya aktivitas dan
pergerakan mahasiswa kedokteran Indonesia menjadi pragmatis dan terpecah belah, apakah kita mahasiswa kedokteran Indonesia diam begitu saja. Mahasiswa kedokteran akan semakin terpecah belah dan berjalan tidak sinergis satu dengan yang lainya.
Tantangan lain adalah banyak sumber daya manusia yang tidak sadar label mahasiswa kedokteran yang tersemat dalam pribadi masing-masing. Kebanyakan dari mahasiswa kedokteran Indonesia menutup mata terhadap keadaan di sekelilingnya dengan alasan hanya ingin hidup dari ilmu bangku kuliah saja. Pada tahun 2008 lalu di makasar telah dideklarasikan tentang jati diri mahasiswa kedokteran Indonesia.
Mahasiswa kedokteran Indonesia memiliki peran sebagai agent of change, agent of health dan agent of development. Jati diri ini akan menjadi bermakna jika benar diterapkan oleh mahasiswa kedokteran Indonesia, namun akan sia-sia jika hanya sebagai simbol semata.
Pada dasarnya ISMKI memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik lagi. Sudah 30 tahun ISMKI berdiri, itu artinya sudah banyak para pelaku sejarah yang mengiringi perjalanan ISMKI.Pada momentum HMKI ini, para pelaku sejarah ISMKI akan didudukkan bersama untuk memberikan masukan dan berdiskusi dengan generasi muda yang sedang gigih membangun bangsa Indonesia melalui wadah ISMKI. Inilah momentum bersejarah bagi mahasiswa kedokteran Indonesia untuk merapatkan barisan, menjawab tantangan dan duduk bersama untuk melahirkan karya bagi Indonesia. Tahun ini akan menjadi tahun gemilang bagi mahasiswa kedokteran Indonesia.

Universitas Yarsi menjadi tuan rumah untuk acara HMKI pada tahun ini. Dengan membawa konsep,Pemuda
Indonesia serta Peranan Mahasiswa untuk Kesehatan Bangsa, Kegiatan HMKI akan diisi dengan banyak kegiatan diantaranya adalah:

1. Workshop, Talkshow dan Diskusi Panel
2. Diskusi Interaktif Organisasi Mahasiswa Kedokteran
3. Sarasehan

Dimana Workshopnya sendiri, dibagi menjadi tiga sesi dengan tiga pembicara yang luar biasa,

dengan menggiring tema besar Mahasiswa Indonesia, Riwayatmu Kini
a) Efektifitas Peran dan Pergerakan Mahasiswa Dalam Pembangunan Bangsa, dengan pembicaranya adalah Mantan aktivis Mahasiswa, Hariman Siregar
b) Permasalahan Bangsa Indonesia dan Peran Pemuda Indonesia dengan pembicaranya dari perwakilan Menpora 
c) Pendidikan Tinggi dan Pembangunan Karakter Mahasiswa Indonesia dengan pembicaranya adalah seorang Akademisi Anis Baswedan




Kemudian kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif, yang bertemakan Rapatkan Barisan, Gapai Impian. Ini adalah sesi yang paling seru dimana masing-masing perwakilan organisasi duduk di depan, berbicara tentang kondisi mahasiswa kedokteran Indonesia. Kemudian ada diskusi interaktif bersama audiens. Ditutup dengan deklarasi.

Organisasi-organisasi tersebut adalah :
a) Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia ( ISMKI )
b) Asean Medical Student Association ( AMSA )
c) Centre Indonesian Medical Student Activity ( CIMSA )
d) Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran ( FULDFK )
e) Perhimpunan Tim Bantuan Medis Kedokteran Indonesia ( PTBMKI )

Acara yang dipastikan berlangsung selama seharian ini, dijamin bakalan seru dan membuka mata kita sebagai mahasiswa Kedokteran Indonesia.
Oh ya, ACARA INI diadakan TANGGAL 25 SEPTEMBER 2011 lho,,
jadi bagi yang berminat, segera hubungi saya panitianya, atau bisa mengunduh PROPOSALNYA DI SINI

Saya sendiri sedih karena sampai saat ini belum bisa memastikan untuk berangkat mengikuti kegiatan ini, karena banyaknya agenda yang sudah saya buat sebelum-sebelumnya yang bertepatan dengan Acara HMKI ini..
SEMOGA ACARANYA LANCAR DAN MEMBAWA PERUBAHAN BAGI MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA

BAGI YANG BERNASIB SAMA DENGAN SAYA, YANG MUNGKIN TIDAK BISA BERKONTRIBUSI HADIR DI SANA SECARA LANGSUNG,
TEMAN2 TETAP BISA BERKONTRIBUSI DENGAN CARA MEMASANG PHOTO DIOATAS SEBAGAI PROFIL PICRTURE DI FB TEMAN2..
SEHINGGA MOMENTNYA BISA DAPAT DI SETIAP INSTITUSI..
YUK RAME2 JADIKAN PROFIL PICTURE.. ^__^

Selasa, 16 November 2010

WAWASAN ALMAMATER

img_0056 uns logo

Pengertian Universitas
Universitas atau “University" merupakan tempat dimana seluruh gejala yang ada di alam semesta ini dilihat, diamati, dipelajari, diteliti, dianalisis, dicatat, didokumentasikan, diajarkan disebarluaskan, dan diamalkan. Hasil pengamatan, kajian, dan penelitian tersebut adalah berupa ilmu pengetahuan yang kemudian diajarkan, disebarluaskan, dan diamalkan untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia.
Hakekat Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan merupakan proses, methode dan produk akhir:
1. Proses: Rangkaian aktifitas yang mempunyai karakteristik tertentu (seperti manusia) yang mempunyai maksud tertentu dan bersifat kognitif (baru memberi pengetahuan pada seseorang), belum mempengaruhi (affektif). Tujuan ilmu pengetahuan adalah "explanation" (untuk empirisme) dan "understanding" atau 'verstehen" (untuk phenomenologi).
2. Methode: Prosedur dari pikiran (human mind), langkah dan tindakan yang harus dilakukan (seperti observasi, deskripsi, definisi, kategorisasi, eksperimentasi, generalisasi, evaluasi, dan prediksi). Dari apa yang dimengerti oleh pikiran kita tentukan langkah lanjutan seperti identifikasi, koleksi, formulasi, dediksi, verifikasi, dlsb.
3. Produk: Pengetahuan itu sendiri.
Proses Diagram Ilmu Pengetahuan

ilmu pengetahuan merupakan kompilasi fakta;
Fakta adalah rangkalan proposisi; Proposisi adalah koleksi pernyataan;
Pernyataan adalah kalimat yang menjadi pengetahuan tertentu
(empiric, replicable, quantifiable, verifiable, measurable)
Aliran Empirisme
Ilmu pengetahuan adalah satu karena dasar, methodologi dan tujuannya adalah sama. Tidak ada "natural science" atau "social science." Yang ada adalah "unified science" atau "universal science." Tujuan pengetahuan adalah menemukan objektifikasi sesuatu seperti apa adanya dengan suatu distansi.
Aliran Phenomenologi
Membedakan antara natural science" dan "social science"yang menjadi fakta adalah gejala yang disebut appearance" atau sesuatu yang kelihatan dan mempunyai arti. Tidak ada distansi antara manusia dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan didapat dengan cara satu interaksi dialektis antara orang yang mengamati dengan sesuatu yang lain yang diamati.
Tugas Alma Mater
1. Kognitif: memberi pengetahuan utamanya kepada anak-anak didiknya (mahasiswa)
2. Affektif: mengubah sikap akan-anak did iknya (mahasiswa)
3. Psikomotorik: mengubah perilaku anak-anak didiknya (mahasiswa)
Wawasan Kemahasiswaan
1. Mahasiswa sebagai insan yang memiliki berbagai dimensi, yaitu sebagai bagian dari: (a) civitas akademika, (b) generasi muda bangsa yang terdidik untuk menggunakan penalaran, (c) pelaku sejarah yang ikut berperan dan menentukan sejarah, (d) warganegara.
2. Peran pendidikan tinggi amat penting dan strategis: kegiatan penelitian dan keilmuan dapat menghasilkan berbagai pemikiran dan konsepsi untuk memajukan harkat dan martabat manusia serta budaya bangsa, (b) pengembangan Ipteks dapat menghasilkan rekayasa teknologi dan karya seni yang bermutu sesuai kebutuhan pembangunan.
3. Generasi muda termasuk mahasiswa telah berperan dalam perjuangan kemerdekaan.
4. Sebagai aset nasional dan sumberdaya insani yang strategis, mahasiswa perlu diberi peluang seluasluasnya untuk mengaktualisasikan dirinya secara utuh: (a) kebebasan akademik dalam rangka pengembangan Ipteks dan mitra dosen dalam proses belajar dan mengajar, (b) penataan Ormawa senantiasa berpegang pada prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa, (c) peka terhadap masalah yang sedang berkembang di masyarakat dan diberi peluang untuk ikutserta dalam menanggulangi berbagai masalah masyarakat, (d) memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warganegara yang lain.
Pengembangan kemahasiswaan diselenggarakan dengan strategi yang tepat melalui pendekatan sistem, dengan memperhatikan seluruh komponennya, seperti: mahasiswa, tenaga pembimbing, sasaran, materi, metoda, dana, sarana, kelembagaan, program dan kegiatannya.
Sasaran Khusus
1. Sikap ilmiah para mahasiswa dididik dan dilatih agar memiliki: (a) hasrat ingin tahu dan belajar terus menerus, (b) daya analisis yang tajam, (c) kejujuran, (d) rasa tanggungjawab yang tinggi, (e) keterbukaan terhadap pendapat baru, pendapat yang berbeda, dan kritis, (f) siskap bebas dari prasangka, (g) orientasi masa depan, (h) sikap mengharagai nilai, norma, kaidan dan tradisi
2. Sikap keahlian atau profesional para mahasiswa perlu diberi motivasi agar memiliki: (a) keinginan untuk mencapai tingkat keahlian yang lebih tinggi, (b) kemandirian dan kemahiran sesuai minat ilmu, bakat dan kemampuan serta arah profesinya, (c) etika profesi yang tinggi, (d) kesejawatan yang tinggi.
Pemberdayaan Mahasiswa
•  MemberikanPencerahan
•  Menggugah Kesadaran Akan: Hakekat kita sebagai makhluk tertinggi ciptaan Sang Maha Khaliq; Hakekat kita sebagai makhluk sosial; Hakekat kita sebagai makhluk sosial; Pelestarian lingkungan; Penghormatan akan HAM, dlsb.
•  Menanamkan Nilai-nilai Keluhuran: Nilai-nilai Ketuhanan; Nilai-nilai Kemanusiaan; Nilai-nilai Kebangsaan; Nilai-nilai Demokrasi; Nilai-nilai Persamaan, Keadilan, dlsb.
•  Memberikan Pencerdasan
•  Memperluas wawasan dan penguasaan IPTEKS;
•  Melatih Ketrampilan di berbagai bidang kehidupan.
Ruang Lingkup Pemberdayaan:
•  Penalaran dan Keilmuan
•  Minat, Bakat & Karier
•  Kesejahteraan
•  Organisasi
•  Pengabdian Pada Masyarakat
Pembimbing Mahasiswa
Dosen atau tenaga kependidikan yang karena tugas atau jabatannya ikut bertanggungjawab menangani bidang kemahasiswaan. Mereka dituntut untuk:
•  Memilik pengetahuan, pengalaman dan berminat pada bidang kemahasiswaan
•  Bersedia ditugaskan pada bidang kemahasiswaan
Hakekat Manusia
•  Manusia adalah makhluk dua dimensi (bidimensional human being) karena ia diciptakan dari dua unsur yang berbeda, yaitu unsurtanah yang kotor dan unsur ruh yang suci;
•  Manusia memiliki dua kecenderungan yang berbeda, yaitu kecenderungan untuk berbuat yang tidak baik, hina dan nista, serta kecenderungan untuk berbuat yang baik, suci dan mulia;
•  Kepadanya kemudian diberikan kebebasan untuk memilih, apakah mau berbuatyang tidak baik, yang akan membawanya ke arah kehinaan dan kenistaan, atau berbuat yang baik, yang akan membawanya ke arah kemuliaan;
•  Pilihan yang dilakukan olehnya akan menentukan nasib mereka, baik di dunia maupun di akherat;
•  Agar manusia tidak tersesat didalam memilih maka oleh Sang Maha Khaliq diajarkan kepadanya ilmu Pengetahuan dan diberikan kepadanya petunjuk berupa agama;
•  Ilmu pengetahuan dan Agama dengan demikian merupakan kebutuhan penting bagi setiap insan manusia.
Pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Agama
Albert Einstein:
Ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta, sebaliknya Agama tanpa ilmu pengetahuan akan lumpuh." David Hume: Akal itu ibarat seberkas sinar akan bisa pergi ke mana-mana kalau ada yang membawa, dan yang membawa akal ke mana-mana adalah nafsu."
Sukanto:
•  Didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang disebut qalbu. Kalau segumpal daging itu baik, maka baiklah manusia, kalau buruk, maka buruklah manusia;
•  Qalbu atau hati nurani merupakan pusat gravitasi dari seluruh aktivitas manusia. Qalbu atau hati nuranilah yang menggerakkan akal maupun seluruh anggota badan kita;
•  Oleh karena itu agar akal dan seluruh anggota badan kita digerakkan ke arah yang baik maka qalbu atau hati nurani kita harus senantiasa disirami dengan nilai-nilai keluhuran, termasuk nilai-nilai agama.
Sayid Muh Rasyid Ridha:
•  Ilmu adalah alat yang digerakkan oleh akhlak. Bila akhlak orang yang berilmu itu rusak maka ilmunya akan seperti pedang di tangan orang majnun (gila), berbahaya dan tidak berguna;
•  Ilmu telah berjasa memberi kemudahan hidup, juga untuk mati, tetapi tidak dapat memberi keindahan hidup;
•  Dengan ilmujarakjauh mudah dicapai, alam bagaikan siang, bumi dan ruang angkasa dapatdijelajahi, dan sebagainya, tetapi hidup bertambah seram dan suram;
•  Keindahan hidup baru ada setelah manusia mampu meningkatkan akhlak, bersikap baik dalam segala segi kehidupannya;
•  Ilmu mempermudah, sedangkan akhlak memperindah.
(DIUNDUH DARI GERBANG.UNS.AC.ID)

Kamis, 01 April 2010

master of ceremony atau pembawa acara

PENGANTAR
Setiap manusia diberi anugerah suara oleh Sang Pencipta terkecuali bagi mereka yang kurang beruntung mempunyai cacat bawaan sejak lahir ( bisu dan tuli ) tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan diri belajar menjadi Master of Ceremony atau Pembawa Acara. Seorang Master of Ceremony diibaratkan sebagai benang emas yang menghubungkan item yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah acara dan bisa disebut ‘link man’. Seorang MC yang baik bisa mengangkat acara yang dibawakannya sehingga warna dan kesan yang mendalam bagi audiens. Tentu saja untuk mencapai hal tersebut diperlukan persiapan yang matang. Profesionalisme seorang MC sangat diperlukan, PROFESIONALISME itu berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi. Profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan / ketrampilan tertentu. Seorang MC terutama untuk acara – acara yang bersifat resmi atau formal harus dibekali pengetahuan tentang teknik perencanaa dan pelaksanaan kegiatan keprotokolan.

Pembawa acara adalah orang yang membawakan narasi atau informasi dalam suatu acara atau kegiatan, ataupun dalam acara televisi, radio dan film. Pembawa acara biasanya membaca naskah yang telah disiapkan sebelumnya, tapi sering juga mereka harus memberikan komentar atau informasi tanpa naskah.
Membawa Acara adalah proses berbicara dengan cara mengatur susunan atau jalannya acara agar acara tersebut bisa berjalan dengan baik dan tersusun sistematis. Dalam kegiatan yang diacarakan, selalu ada orang yang bertugas memberitahu dan mengatur pelaksanaan setiap mata acara. Pergantian dari satu mata acara ke mata acara berikutnya selalu mengikuti perintahnya. Orang-orang yang terlibat dalam setiap mata acara itu pun selalu mematuhinya. Lancar tidaknya suatu acara sangat bergantung kepadanya. Dialah yang disebut pembawa acara. Pembawa acara adalah orang yang mengatur atau memberikan narasi dan informasi mengenai susunan suatu acara atau kegiatan (Wikipedia, 2008:1).
Menurut Wiyanto dan Astuti (2002:2) Pembawa Acara adalah orang pertama yang berbicara dalam suatu acara (Wiyanto dan Astuti, 2002:2). Sebagai pembawa acara, dia haus bisa menarik perhatian hadirin untuk segera merasa terlibat dalam pertemuan itu. Kalau upaya ini gagal, jalannya acara menjadi hambar, tidak berkesan dan mengecewakan. Sebaliknya bila pembawa acara pandai menguasai dan mengasyiki hadirin, maka acara menjadi lancar dan menyenangkan. Dengan demikian kesuksesan sebuah acara berada di tangan pembawa acara.
Dalam menjalankan tugasnya, pembawa acara berbicara di depan khalayak umum. Berbicara di depan umum ini mudah-mudah susah. Dikatakan mudah karena setiap hari kita berbicara. Dikatakan susah karena tidak semua orang berani melakukannya karena dipengaruhi oleh rasa takut dan malu. Jika sudah berpengalaman kedua rasa tersebut akan hilang sehingga tidak menjadikan demam panggung dan acara pun berjalan lancar.
Konsep Dasar Protokol
Dalam protokol ada tiga ( 3 ) unsure yang penting yaitu :
1. TATA CARA
Mempunyai azas keseragaman, disebut kegiatan protokoler, yang pelaksanaannya berdasarkan peraturan, rumus-rumus aturan tertentu. Tujuannya agar tercipta citra yang positif dengan acara yang anggun, meriah dan sukses.
2. TATA KRAMA / ATAU SOPAN SANTUN
Menerapkan pengertian protocol sebagai unsure pelayanan. Hal ini disebut etika, dan dalam etika meliputi aturan – aturan tertentu ( akan saya bahas tersendiri dalam hal ‘etika’ ). Misalnya : bagaimana seorang protocol / MC memanggil seorang pejabat untuk menyambut ( gunakan istilah yang sopan )
3. TATA ATURAN
Pengaturan pelayanan dalam kegiatan resmi yang pelaksanannya sesuai ‘ preseance ‘ ( order of precedence ) Misalnya : sambutan yang dilakukan pejabat yang tertinggi jabatannya dilakukan paling akhir.
Pewara bisa diartikan " seorang yang memiliki kemampuan untuk menghantarkan jalannya suatu acara sejak perencanaan sampai pelaksanaan dengan mengacu pada aturan-aturan yang berlaku" atau juga bisa diartikan sebagai " pengatur tertibnya acara dan menghantarkan acara dengan baik kepada audience", dengan demikian maka seorang pewara harus memiiki kriteria sebagai berikut :
a. Memiliki bakat yang memadai
Untuk menjadi seorang pewara yang baik haruslah memilki bakat, hal ini mengacu pada teori bahwa sifat-sifat dan watak manusia yang menjadi pewara dipengaruhi oleh warisan biologis yang terdiri dari 3 macam ; behaviour, intelligence dan natural ability.Namun tidak berarti menutup kesempatan bagi yang tidak berbakat untuk menjadi seorang pewara.Karena menurut Thomas Alfa Adison bakat hanyalah 1 % dan 99 % adalah keringat, so usaha juga penting agar bisa mengembangkan bakat.
b. Percaya Diri
Profesi apapun yang ingin anda tekuni haruslah dilandasi dengan kepercayaan diri, apalagi sebagai seorang pewara.Agar mampu menguasai masa dan mempengaruhinya maka kepercayaan dirilah yang akan menolong.
c. Pandai beradaptasi
Pewara yang hebat adalah pewara yang mampu beradaptasi dengan lingkungan audience dan tidak merasa asing. Karena sikapnya yang asing justru akan merusak image pewara dihadapan audience.
d. Etika yang baik
Kepribadian yang baik dengan memperhatikan setiap tindak atau perilaku dan sopan santun mewarnai kehidupan dan aktifitas kita. Pancaran kepribadian yang baik dari sorang pewara akan menguntungkan dirinya sendiri karena menimbulkan rasa kagum, diterima keberadaannya dan dijadikan tauladan.
e. Kemampuan olah suara yang baik
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang pewara untuk memiliki vocal/suara yang baik (suara mikrofonis atau berkarakter) adalah :
  • melatih vocal dengan tekhnik beragam
  • memiliki intonsi yang baik dengan membedakan intonasi datar, intonasi monoton dan
  • intonasi variatif dengan memperhatikan pengaturan tempo yang baik.
    artikulasi yang baik agar suara yang dikeluarkan terdengar mengandung arti bagi pendengar. Suara yang dikeluarkan mampu menjiwai isi atau makna dari kata atau kalimat yang diutarakan.
  • Penguasaan bahasa yang baik dan benar
Setiap pewara dituntut mampu mengucapkan setiap kata dan kalimat dari bahasa manapun dengan baik dan benar, hal ini bisa dicapai dengan banyak membaca, mendengarkan, memperhatikan dan mengucapkan. Bahasa yang digunakan oleh pewara adalah bahasa komunikatif, praktis dan efisien.
  • Memilki wawasan dan pengetahuan yang luas
Untuk memiliki pengetahuan yang luas, pewara haruslah memiliki dasar pendidikan yang khusus maupun yang umum, antara lain dengan mengikuti kursus, pelatihan, gemar membaca dan terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi.
  • Body language yang baik
Karena seorang pewara adalah sebagai pusat perhatian audience, maka sikap tubuh haruslah baik, di saat duduk, berdiri, menyampaikan acara dan berbicara, karena jika berlebihan khawatir pewara akan dijuluki pewara yang over acting
  • Kreatif dan penuh inisiatif serta mampu berfikir cepat dan tepat
Pewara harusah inisiatif dan kreatif, hal ini dibutuhkan agar seorang pewara tetap memperhatikan setiap perubahan yang terjadi dan tanggap akan segala kemungkinan yang terjadi di saat pewara melaksanakan tugasnya.
  • Sense of humor
Ketika acara berlangsung pewara dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang menyenangkan bagi audience. Sikap riang yang memancar akan meluluhkan suasana yang kaku dan kurang bersahabat, oleh karena itu memiliki rasa humor adalah keharusan bagi seorang pewara, terlebih lagi di saat memandu acara hiburan, namum juga bukan berarti seorang pewara harus menjadi seorang pelawak karena humor yang berlebihan dan tidak pada tempatnya juga akan mengurangi kredibilitas pewara.
Jenis Acara
1. Acara Resmi
Acara yang diselenggarakan dengan berlandaskan peraturan-peraturan yang baku seperti:
- Upacara bendera
- Serah terima jabatan
- pengambilan sumpah dan pelantikan
- dll
2. Acara on official/pribadi/familiar yang lebih berkesan santai namun tetap membutuhkan persiapan yang matang untuk kelancaran setiap acara seperti :
- Acara pernikahan
- Acara seminar
- Acara pengajian dan arisan
- Acara hiburan
- dll
Rumus Nada
Demi mempermudah pewara dalam mengatur alih vocal dan nada suara sesuai dengan jenis acara, seorang pewara juga harus mengetahui rumus nada yang sudah dijadikan standar ideal dalam dunia pewara, rumus nada tersebut terangkum dala rumus nada
Do Re Mi Fa Sol
Nada Do Re…..untuk acara pengajian, pernikahan dan seminar
Nada Mi Fa…..untuk serah terima jabatan, pelantikan dan seminar
Nada Sol………untuk upacara bendera.
Nada Do Re Mi Fa Sol…….untuk acara hiburan
Pembawa acara harus mengetahui berbagai hal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa terutama penggunaan bahasa lisan. Pembawa acara harus memperhatikan faktor kebahasaan yang meliputi pelafalan, diksi, intonasi dan penalaran (Wiyanto dan Astuti, 2002:5).
1. Pelafalan
Pembawa acara harus mampu melafalkan bunyi bahasa secara tepat agar tidak menimbulkan kasak-kusuk pendengar. Misal kata "sodara" yang seharusnya dilafalkan saudara. Jika hal ini sering terjadi, maka perhatian pendengar akan terganggu dan pelaksanaan acara pun ikut terganggu.
Pengucapan kata-kata harus jelas terdengar. Untuk itu gerakan alat-alat ucap terutama lidah, bibir dan gigi haus leluasa. Demikian pula dengan volume suara haus pas sesuai dengan kebutuhan pendengar. Selain itu juga lebih penting yaitu kelancaran. Pembawa acara haus bisa berbicara lancar, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat agar pendengar dapat dengan mudah memahaminya.
2. Diksi
Diksi merupakan pilihan kata yang digunakan pembawa acara dalam memandu acara. Kata-kata yang digunakan hendaknya tepat, jelas dan bervariasi.
Hal tersebut untuk mempermudah pendengar dalam memahami. Di samping itu hendaknya menggunakan kata-kata yang sudah dikenal (akrab) di telinga masyarakat. Misalnya menggunakan kata "tepat" daripada efektif, kata "hemat" daripada efisien. Memang kata yang belum dikenal dapat membangkitkan rasa ingin tahu namun akan menghambat kelancaran berbicara.
3. Intonasi
Intonasi memadukan peran penting dalam berbicara. Penggunaan intonasi yang baik, pendengar akan dapat memahami informasi dan meningkatkan daya tarik sehingga pendengar pun senang, bangga dan puas mengikuti jalannya acara.
Intonasi menyangkut empat hal, yaitu tekanan, nada, tempo, dan jeda. Tekanan menyangkut keras lemahnya suara, sedangkan nada berkaitan dengan tinggi rendahnya suara. Tempo berhubungan dengan cepat lambatnya berbicara dan jeda menyangkut perhentian. Keempat hal tersebut harus dipahami secara serasi untuk memperoleh intonasi yang baik dan menarik.
Pembawa acara yang baik tidak akan mengucap kata-kata atau kalimat­ - kalimat sama cepatnya. Kadang-kadang pembawa acara berbicara lambat diikuti tekanan lemah dan nada rendah, kadang kadang pula pembicara berkata cepat disertai tekanan keras dan nada tinggi untuk membangkitkan semangat pendengar. Jika pembawa acara berbicara cepat, waktu yang digunakan sedikit. Sebaliknya jika berbicara lambat, waktunya akan banyak. Dengan demikian pembawa acara perlu memainkan waktu, tempo dalam berbicara untuk memperjelas informasi.
Pembawa acara tidak mungkin berbicara dalam satu nafas dan perlu berhenti pada tiap-tiap akhir kalimat. Perhentian (jeda) bertujuan memberi kesempatan kepada pendengar dalam memahami kalimat yang baru diucapkan sekaligus untuk menarik nafas bagi pembawa acara.
Tekanan, nada, tempo, dan jeda hams dipadukan secara harmonis artinya keras lemahnya suara, tinggi rendahnya suara, cepat lambatnya suara dan perhentian hams dikombinasikan dengan baik agar suara yang terdengar bukan suara datar yang monoton melainkan suara bergelombang yang enak didengar.
4. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan (informasi) secara singkat, lengkap, dan mudah diterima pendengar. Kalimat bisa menarik kalau ada variasi. Variasi kalimat dapat dibentuk melalui perpaduan panjang pendek, letak SPOK, aktif pasif, berita, tanya, perintah dan pilihan kata. Dengan bekal pengetahuan tersebut, pembawa acara dapat menyusun kalimat­kalimat efektif yang menarik. Selain itu kalimat yang digunakan harus logis (masuk akal), misalnya :
a. waktu dan tempat saya berikan
b. Bapak Agung saya persilakan
c. hadirin dimohon berdiri
Bukan seperti pada kalimat berikut yang biasa digunakan pembawa acara lain,
a. waktu dan tempat saya persilakan
b. kepada Bapak Agung saya persilakan
c. hadirin dimohon untuk berdiri
Persiapan Pembawa Acara
Persiapan penting sebelum melaksanakan tugas pewara pastikan bahwa andalah yang bertanggung jawab memandu jalannya acara dengan baik.
- Kenali jenis acara yang anda pandu, koordinasikan dengan panitia atau protocol acara
mengenai susunan acara dan petugasnya.
- Usahakan melakukan gladi bersih.
- Usahakan menggunakan lembar susunan acara 1/4 kertas folio dan setu lembar berisi
satu item acara, demi menghindari terjadinya pengulangan redaksi yang telah dibacakan atau menyampaikan acara yang sudah disampaikan.
- Mengenakan pakaian yang cocok dengan acara
- Hadir di tempat acara minimal satu jam sebelum acara dimulai.
- Cek kehadiran undangan dan petugas acara.
- Bersikap tenang dengan konsentrasi penuh.
- Kendalikan emosi dan berdoa

PENCARIAN