Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Arti sebuah Waktu

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil,
dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya.
Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota
kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak
oleh kedua orang tuanya.
Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya
dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya
datang menghampiri dia.
Dan tiba-tiba ibunya bilang "Kamu boleh pergi ke kota nak".

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum.
Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota.
Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat
di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, " andai ku bisa
membangun rumah mewah dan dapat mengoperasi wajahku yang biasa
menjadi luar biasa ini." Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya
datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya
"kenapa nak kamu tersenyum sendiri?"
"Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses
di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini", kata dia.
Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya,
kemudian nenek itu berkata "Kamu tinggal putar jam itu sesuai
dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu".
"Baik nek", kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut
sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi.
Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama
di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang
di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.

Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun
menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya,
dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang
pernah dia temui sekali lagi.
Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang
semula cantik jelita menjadi tua dan keriput.
Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang.
Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang
memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu.
Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu
telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan
menangisi nasibnya.

Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari
kejadian wanita tadi?

Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri
kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia,
damai, dan mulia.
Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan
kedisiplinan waktu untuk belajar.
Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan,
tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.
Semoga bermanfaat

Sabtu, 24 Maret 2012

Lebih baik menjadi Kepala Semut daripada Ekor Gajah

Terinspirasi dari beberapa buku yang saya baca akhir2 ini (saya lupa buku yang mana), tapi saya suka dengan pernyataan diatas.
Pernyataan diatas saya asumsikan adalah lebih baik menjadi seorang wirausaha daripada seorang pegawai, pernyataan ini jangan ditelan mentah2..bukan berarti saya tidak menyukai jadi pegawai.
Pernyataan diatas adalah sekedar motivasi, bahwa menjadi seorang pengusaha itu tidak mudah, tidak gampang, modal niat dan tekad tidak cukup untuk menjadi pengusaha (namun itu modal awal yang paling penting), menjadi pengusaha juga harus siap kere, tidak takut rugi, siap melawan depresi, dijauhi banyak orang karena dianggap gila dan sebagainya..
Dan yang paling penting yang perlu digarisbawahi adalah, sebagian orang berkata menjadi pengusaha itu enak karena kaya, uangnya banyak, hartanya melimpah,dsb. Sebenarnya tidak juga, menjadi pengusaha itu belum tentu lho bisa Kaya,
dalam buku kiyosaki, definisi kaya yang sesungguhnya yang saya sepakati juga adalah bahwa KAYA adalah mampu memiliki banyak hari yang bisa dicurahkan untuk keluarga,saudara dan teman2.
Seorang pengusaha di sini tidak lah harus berpenghasilan besar, melainkan cukup (besar lebih baik dari cukup),,setidaknya biaya hidupnya mampu terbayarkan dan memiliki sisa dari penghasilannya.
Seorang pegawai tambang atau seorang pegawai pelayar pesiar, bisa dibayangkan berapa besar penghasilannya,mereka digaji dollar bahkan oleh perusahaan yang merekrutnya (bisa 100$ dalam sehari bahkan lebih)..
namun seorang pengusaha belum tentu memiliki penghasilan setinggi itu, ada yang mungkin perbulan hanya 10juta saja..
Namun yang membedakan adalah, para pegawai tambang atau pelayar pesiar itu mereka adalah EKOR GAJAH, mereka harus mengikuti sang kepala mau pergi kemana, harus mengikuti aturan ini itu sesuai perintah perusahaan, waktu mereka digunakan sepenuhnya untuk perusahaan. kalau gajah nya masuk jurang sang ekor juga pasti masuk jurang, Nah loh!
Lain halnya dengan pengusaha, mereka adalah kepala semut, meski hanya semut, tapi mereka menjadi kepala, bisa menentukan keinginan untuk menghabiskan waktu nya sehari-harinya (meski juga tidak mudah),,

ini lah perbedaan antara pegawai dan pengusaha. dan sebagian besar orang, termasuk saya juga, berencana unutk menjadi ekor gajah dulu, baru kemudian menjadi kepala semut, dan berkembang menjadi kepala dinosaurus,hehehee...
yang penting adalah kita sudah merencanakan hidup kita dengan baik, menjadi pegawai pun tidak apa2,saya sendiri butuh lompatan besar jika memang menjadi pegawai kita bisa memiliki pengalaman yang baik, dan banyak waktu untuk keluarga juga, mengapa tidak? 


NO EXCUSE

Sudah lama saya tidak membuat postingan artikel, rasanya blog ini jadi sepi sekali,,,,tapi ya memang begitu adanya,karena saya belum berniat untuk mengembangkan blog ini lebih lanjut, melainkan hanya sebagai selingan saja..

kembali saya ingin sharing mengenai motivasi menjadi Wirausaha,, saya masih merasa tidak pantas sebenarnya membuat artikel ini, apalagi kalau disuruh menjadi pembicara di bidang wirausaha atau bisnis,
MENGAPA ??
karena saya ini sebenarnya belum punya bisnis, hanya teori doank , kalau pun bisnis, ya bisnis kecil-kecilan, yang paling mudah adalah menjadi broker atau proyek tertentu,, belum bisnis yang benar2 bisnis menurut saya, menurut saya lho yaa...
karena yang saya anggap bisnis yang sejati itu adalah sebuah usaha yang dilandasi dengan plan dalam jangka panjang, dengan modal yang sudah direncanakan, dan memiliki sebuah sistem yang mengaturnya. dan selama ini bisnis yang saya lakukan adalah dalam rangka mengumpulkan modal sekaligus sebagai sarana belajar saya untuk memulai bisnis yang sejati itu,

MODAL? ya benar, saya sedang dalam masa mengumpulkan modal untuk memulai bisnis yang lebih besar, Namun kenyataan yang terjadi adalah bisnis kecil2 yang saya mulai ini kadang untung kadang rugi, kalau untung banyak pun, akhirnya habis buat beli buku, byr spp, beli hp, dsb..hingga akhirnya saya tidak pernah bisa mendapatkan modal yang saya inginkan itu..

Hingga akhirnya, sampai pada beberapa bulan ini, saya terkena musibah (maslah keluarga) yang membuat saya bersedih namun juga bersyukur,,ya, saya bersyukur karena tiba2 muncul modal 100 juta di depan saya,,tapi ni modal bukan sembarang modal, karena ini modal hidup mati saya dan keluarga saya di masa depan nanti.
Sampai di sini akhirnya masuk ke tema judul artikel ini, "NO EXCUSE"
Begitu mendapatkan modal segitu untuk usaha, kemudian otak saya langsung berpikir cenat-cenut, saya gunakan untuk usaha apa ya?? puter sana puter sini, cari sana cari sini, saya jadi semakin bimbang untuk menggunakan uang ini dalam bentuk usaha apa..saya browsing internet mengenai peluang usaha yang paling tepat,,saya buka website waralaba, memilih -milih waralaba yang cocok, kemudian saya buka website alat-lat industri, pengen rasanya punya pabrik sendiri, sampai akhirnya saya buka halaman demi halaman yellow pages untuk mendapatkan inspirasi bisnis...

dari sinilah saya memahami makna dari para senior entrepreneur, bahwa modal uang hanyalah ALASAN bagi seseorang untuk memulai usaha,
ketika orang ditanya, mengapa kamu tidak segera membuka usaha?jawabnya, "belum ada modal Pak!", atau "modalnya tidak cukup Pak"..
Namun ketika giliran tiba2 disodorkan uang dalam jumlah besar, "Nih buat Usaha",, baru deh kelimpungan, "buat apa ya, buat apa ya". 

ini membuktikan uang bukan alasan untuk kita memulai usaha, dengan adanya uang ditangan pun, belum tentu seseorang bisa langsung membuka usaha.
bener kan? coba deh kalau tiba2 hari ini anda dapat uang 20 juta aja, apakah anda sudah siap merencakan usaha anda?
Saya yakin sebgian besar dari kita tidak siap, membayangkan sebuah bisnis saya belum,,apalagi merencanakan, ya kan? :)

tentulah, MODAL PALING AWAL ADALAH NIAT DAN TEKAD, modal yang lain pasti akan ngikut dengan sendirinya,, itu pasti...
Setidaknya dari sini, saya berani menasihati karena saya sudah merasakan nya sendiri, bahwa jangan pernah beralasan memulai bisnis karena modal, karena terbukti itu hanya alasan kita saja teman2..YAKINLAH..
kalau belum ada waktu? silakan dijawab sendiri, manusia akan terus sibuk, dan baru ada waktu kalau sudah di kuburan (kata dokter Aan),,hehe..pokoknya saya berani jamin, ketika kita memiliki niat untuk berbisnis, pasti lah selalu ada bisikan2 setan untuk menunda, untuk membayangkan yang tidak2, untuk membuat ragu, dsb..
sebenarnya itu bukan bisikan setan, otak kita memang disetting untuk selalu berasa dalam kondisi aman, dan berbisnis dinilai oleh otak kita sebagai hal yang tidak aman, sehingga wajarlah bila otak secara otomatis menghalangi pencapaian itu... berterima kasihlah pada otak, dia berniat baik kok dengan melindungi kita..tapi sesekali coba tantang dia yaaa.. :)


sedikit curhat..
dan tibalah saya untuk mengikhlaskan diri saya,,untuk menunda idealisme saya menjadi dokter secepat mungkin ,,karena menjadi dokter bukan cita2 saya (masak cita2 kok gampang dan pendek), melainkan menjadi dokter adalah idealisme saya. karena saya bisa berbagi dan mengabdi kepada masyarakat dengan baik apabila menjadi dokter. sementara cita2 saya adalah membuat satu juta keluarga miskin di Indonesia menjadi sehat, sejahtera dan bahagia. dan itu tidak mungkin bisa saya lakukan kalau saya hanya menjadi dokter " biasa",,Saya harus jadi PENGUSAHA !!

dan saran saya, sekedar saran sih, namanya juga saran..
lebih baik kaya dan sejahtera dulu sebelum jadi dokter, agar lebih ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat (ini saran untuk yang dulu pengeeeeeennnnn banget jadi dokter agar bisa mengabdi kepada masyarkat),,

tapi jika keluarga kalian sudah KAYA, ya monggo, segeralah lulus dengan cepat dan jadilah dokter yang HEBAT BAGI MASYARAKAT. :)

Rabu, 12 Oktober 2011

Kisah Motivasi Dokter Alvita



Sapaan yang cukup lembut mengawali perjumpaan dengannya. ”Saya Vita,” kata perempuan berpakaian dokter memperkenalkan diri, beberapa waktu lalu. Sebagai dokter yang baru mengambil spesialisasi nuklir di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, pagi itu Vita tugas piket di bagian nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung
Dokter Alvita Dewi Siswoyo, atau yang biasa disapa Vita, sekian tahun lalu lama menjadi pasien dan langganan rumah sakit. Berulang kali dia menjalani operasi, tambah lagi enam seri kemoterapi, serta 70 kali radioterapi. ”Kanker kedua telah mengubah hidup saya. Kanker pertama adalah misteri, kanker kedua merupakan malapetaka,” tutur dokter berusia 26 tahun itu.
Karena penderitaan itulah, Vita bertekad menjadi dokter. Pengalamannya menjadi pasien yang sering merasa tertekan, sedih, kadang putus asa, diyakini menjadi bekal yang cukup buat memahami pasien. ”Saya ingin menyebarkan kepada para pasien penderita kanker serta keluarganya bahwa masih ada harapan dan kita tetap bisa hidup dan berguna untuk orang lain,” kata Vita.
Suratan takdir membuat Vita harus kehilangan salah satu matanya. ”Saya tak pernah tahu rasanya punya dua mata,” ucapnya. Padahal, ketika lahir pada 19 Januari 1983, orangtuanya, pasangan dr Loekito Siswoyo dan Vera Wibowo, mendapatkan bayinya dalam keadaan normal.
Seperti orangtua lain umumnya, Loekito ingin merayakan setiap momen penting perkembangan buah hatinya. Pada ulang tahun Vita, keluarga merayakan, antara lain dengan tiup lilin. Blup! Tiba-tiba lampu mati.
Loekito merasa ada sesuatu yang mencurigakan ketika melihat mata Vita memancarkan cahaya seperti mata kucing. Foto yang dicetak kemudian semakin memperjelas adanya sinar tajam dari mata kiri Vita.
Benar saja, setelah melalui sejumlah pemeriksaan dokter ahli di Jakarta, Vita dinyatakan menderita penyakit yang cukup serius, retinablastoma. Dokter menyarankan untuk segera mengangkat mata kiri guna menghindari penyebaran ke tempat yang lebih jauh.
Operasi yang cukup mendadak itu membuat Vera yang ketika itu sedang hamil anak kedua mengalami pendarahan. Maka, ibu-anak itu berada di rumah sakit yang sama untuk perawatan yang berbeda.
Terus bertanya Kendati tidak memiliki mata lengkap, Vita kecil sangat aktif menjalani banyak kegiatan. Les musik, menyanyi, dan berenang adalah sebagian dari kegiatannya di sela-sela aktivitas sekolah. Vita masih ingat, semasa kecil dia adalah anak periang, sampai suatu hari dia mendapat ejekan dari teman sekolahnya.
”Sejak itu saya jadi pendiam dan menarik diri,” katanya. Tak seperti remaja lainnya, sepulang sekolah Vita lebih banyak diam di rumah dan mengutak-utik pelajaran. Dia tak berhenti bertanya, mengapa bisa terkena kanker dalam usia yang masih begitu muda. Mengapa matanya harus hilang? Mengapa dunia tidak adil terhadap dirinya?
Belum selesai dengan berbagai macam pertanyaan, pada usia 16 tahun, petaka datang. Vita dinyatakan menderita kanker jaringan tulang lunak atau yang sering disebut ewing sarcoma stadium 3. Jenis kanker ini cukup langka dan biasa menimpa anak usia 10-20 tahun.
Sejak dokter di Jakarta menemukan kanker di tumit kaki, Vita menjalani serangkaian pemeriksaan yang membuat kecil hatinya. Pemeriksaan berlanjut saat orangtuanya membawanya mencari kemungkinan baru di Singapura. Jika rasa sakitnya sedang menyerang, semalaman Vita tak tidur. Untuk berjalan saja, dia tak mampu sehingga harus menggunakan kursi roda. ”Derita apa lagi yang harus kujalani? Kenapa aku lagi?” begitu tanyanya hari ke hari. Bangku sekolah terpaksa ditinggalkan selama setahun.
Duka sesama penderita kadang bisa membangkitkan semangat, tetapi kadang justru menghancurkan. Begitulah yang dialami Vita. Pada proses pengobatan, dia berteman dengan Jessica yang terdeteksi kanker tulang stadium 1. Mereka saling memberi dan berbagi seperti dua sahabat yang diikat oleh penderitaan yang sama.
Secara awam, Jessica yang waktu itu berusia 14 tahun semestinya lebih mempunyai banyak harapan dibandingkan Vita. Namun, nasib berkata lain. Dalam suatu pertemuan tak sengaja di kantin rumah sakit, dia menyaksikan sahabatnya itu duduk di kursi roda dengan kaki sebelah yang sudah diamputasi. ”Ya Tuhan, saya sudah kehilangan mata, saya tidak mau lagi kehilangan kaki,” ucapnya dalam hati. ”Sejak itu, saya tak mau bertemu Jessica karena saya tak tahu harus bicara apa.”
Motivator Waktu terus berjalan. Vita yang dulu kini sudah menjadi dokter dan motivator bagi pasien-pasien penderita kanker. Saat enam bulan magang di Yayasan Kanker Indonesia, Vita sering mendapat telepon yang sekadar minta didengar.
Sebagai mantan pasien, Vita memahami sepenuh jiwa suasana batin penderita kanker. Ia juga bisa ikut merasakan rasa tak nyaman akibat pengobatan. Nasihat agar pasien bersabar, seperti yang umum disampaikan saat kita menjenguk pasien yang sedang terbaring sakit, menurut Vita, tak guna. ”Dulu saya benci kalau ada orang yang bilang, ’Sabar ya, Vit’. Enak saja bilang sabar, sabar,” katanya mengenang ucapan-ucapan yang sering disampaikan kerabatnya.
Vita merasa beruntung mendapat kasih yang melimpah dari orangtuanya. Masih terus diingatnya ucapan ibunya bahwa di balik kekurangan, pasti ada kelebihannya. Adalah ibunya yang begitu telaten mencekoki dengan jus buah apel, tomat, dan wortel. Sehari Vita bisa menghabiskan masing-masing 1 kilogram, yang dibuat secara segar dalam beberapa kali. Begitu bosannya, Vita sering protes. ”Memangnya perut saya sampah, setiap hari makan begini,” ucapnya. Ibunya tak pernah membalas dengan ucapan, hanya sesekali air matanya jatuh. Sementara ayahnya yang dinilai sebagai orang sangat kuat pun sempat dilihatnya menangis.
Kebahagiaan demi kebahagiaan datang kemudian. Hanya beberapa saat setelah kembali ke kota asalnya, Semarang, Vita dipinang seorang pria. Satu hadiah lagi, pada Mei lalu, dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran untuk spesialisasi kedokteran nuklir.
Wawancara yang menjadi bagian cukup menentukan benar-benar membesarkan hati. ”Sama sekali tidak ada pertanyaan yang meragukan mata saya yang hanya satu. Beruntung pewawancara lebih menggali potensi saya daripada kekurangan fisik saya.”

Kamis, 06 Oktober 2011

Kalimat Inspiratif



Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tersebut, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja
Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.
Ibu menjawab: “Mengapa?
Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.
Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?
Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi. Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana .
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?”
Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja

Sabtu, 24 September 2011

Balada Si Tangan Kiri



“Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu”
Kalimat ini menduduki peringkat ke 2 dalam kategori “alasan terbaik untuk tidak bersedekah” dalam kamus saya setelah alasan “biar dikit yang penting ikhlas”.
Entah kenapa kalimat itu jadi favorit bagi saya, tapi sepertinya banyak juga teman2 yang sepaham dengan saya kala itu. Sampai-sampai mau memasukkan uang seribu rupiah ke kotak infak waktu sholat jum’at saja saya sampai menyimpan tangan kiri kedalam saku celana biar tangan kiri nggak tau… ( hehehe.. yang ini becanda )
Apa akibatnya.? Tiap mau bersedekah atau mengajak orang lain bersedekah, kalimat itu selalu terngiang ditelinga sehingga selalu mengurungkan niat saya untuk bersedekah.
Setelah akhirnya kemudian seorang guru menjelaskan kepada saya bahwa hadits yang berbunyi “Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu” itu sebenarnya lebih dimaksudkan untuk menjaga perasaan dan kemuliaan diri orang yang menerima sedekah.
Kemudian dia menunjukkan sebuah ayat menarik dalam Al Qur’an :
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu TIDAK SALING MENGAJAK memberi makan orang miskin, (Q.S.Al Fajr 15-18 )
Nah, bagaimana caranya “tangan kiri” tidak boleh tahu kalau di Al Qur’an sendiri kita malah diharuskan mengajak sang “tangan kiri” (orang lain).?
Ada ayat lain tentang sedekah terang-terangan : Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan TERANG-TERANGAN, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( Al Baqarah 274 )
Ayat lain tentang sedekah terang-terangan : Ar Ra’d.22, Ibrahim 31, An Nahl.75, dan Al Faathir 29,.
Yang tidak boleh itu adalah menyiarkan ke orang lain bahwa kita telah menyedekahi si Anu sekian, si Fulan sekian sehingga membuat mereka merasa malu pada orang –orang.
Salah satu manfaat sedekah terang-terangan ialah kita bisa memotivasi orang lain untuk ikut bersedekah dan kita juga mendapat kebaikan dari orang yang bersedekah karena ajakan kita tanpa mengurangi sedikitpun kebaikan dari orang itu sendiri. Mantap nggak tuh..?
Nah, karena sudah paham, sekarang saatnya saya mengajak “tangan kiri” untuk ikut bersedekah..
==
Mau mengikuti twit dari PS setiap harinya? follow PS di twitter @pencintasedekah

Rabu, 21 September 2011

Menikmati Hidup




PS sempat tersenyum geli membaca cerita dibawah ini ;
Seorang pengusaha tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, ketika seorang nelayan merapatkan perahunya.
“Berapa lama waktu yang anda habiskan untuk menangkap ikan sebanyak ini?”, tanya pengusaha kepada nelayan.
“Tidak lama, cukup 5 jam”, jawab nelayan.
“Mengapa tidak pergi lebih lama dan menangkap lebih banyak lagi?”
“Ini sudah cukup buat keluargaku.”
“Apa yang anda lalukan di luar waktu menangkap ikan?”
“Bermain dengan anak-anakku, tidur siang, makan siang bersama keluargaku, berjalan-jalan di desa, bermain gitar dan ngobrol dengan teman-temanku – hidup yang begitu kunikmati.”
“Aku punya ide untuk membantumu”, ujar si pengusaha.
“Aku lulusan master dari Harvard. Saranku, habiskan waktu lebih banyak untuk menangkap ikan, beli perahu yang lebih besar, dapatkan lebih banyak uang, beli lagi beberapa perahu”.
“Jangan jual ikan ke perantara, jual langsung ke pengolahan sampai anda memiliki pabrik sendiri. Kendalikan produk, distribusi dan produksinya”.
“Setelah itu, anda pindah ke kota besar, kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha ini.”
“Menarik. Tapi berapa lama waktu dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu?”, tanya nelayan yang mulai tertarik.
“Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat”, jawab si pengusaha.
“Setelah itu apa, Pak?”
“Inilah bagian yang paling menarik. Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran.”
“Wah, miliaran ya. Lalu apa setelah itu Pak?”
“Lalu anda bisa istirahat dan pulang ke rumah. Pindah ke desa kecil di tepi laut, memancing, bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama istri, berjalan-jalan di desa, main gitar serta ngobrol dengan teman-teman dekat”, jawabnya
“bukankah itu yang sudah saya lakukan sekarang, kenapa mesti menunggu 15-20 tahun?”
Nelayan itu berlalu meninggalkan pengusaha sambil tersenyum.
–
Follow @PencintaSedekah di twitter


Sabtu, 17 September 2011

Kakek yang berumur 10 Tahun




Dikisahkan, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh seorang guru. Di antara anak-anak itu, terlihat seorang kakek duduk di sana.

Seusai pelajaran, seorang pemuda dengan penasaran menghampiri dan bertanya kepada si kakek, “Kek, apakah kakek seorang guru?”

“Bukan…, aku bukan seorang guru. Aku juga sedang belajar, sama dengan anak-anak itu.”

“Lho, memangnya, berapa umur kakek?”

“Umur kakek tahun ini, tepat 10 tahun.”

“Ah…, kakek bercanda! Perkiraanku, umur kakek sudah 70 tahunan…”

“Ha ha ha, tebakanmu benar! Bila dihitung dari saat kakek lahir hingga kini, umur kakek memang 70 tahun. Tetapi, 60 tahun yang telah dilewati jangan dihitung. Yang benar-benar dapat dihitung adalah kehidupanku sepuluh tahun terakhir ini.”

Si pemuda menunjukkan wajah kebingungan. Ia pun bertanya, “Apa artinya, Kek?”

Sambil menghela napas panjang si kakek menjawab, “Sejak kecil sampai usia 20 tahun, yang seharusnya waktu terbaik untuk belajar, tetapi kakek sibuk bermain dan bersantai. Karena semua kebutuhan hidup telah disediakan berlimpah oleh orangtua kakek. Kemudian 20 tahun berikutnya, waktu yang seharusnya untuk mengejar karir dan berjuang, kakek malah menggunakannya untuk berfoya-foya-menghamburkan harta yang diperoleh dengan susah payah oleh orangtua kakek. Dan 20 tahun ketiga, waktu yang seharusnya untuk mengumpulkan tabungan sebagai persiapan pensiun di masa tuaku, malahan kakek gunakan untuk pergi tamasya, menghabiskan sisa harta yang masih ada. Semua hanya untuk mengejar kesenangan sesaat. Coba, kamu pikir, bukankah 60 tahun telah kulewati itu sia-sia? Tidak ada satu pun yang kupelajari.”

“Lalu bagaimana dengan sepuluh tahun terakhir hidup kakek?”

Dengan mata berkaca-kaca si kakek bertutur, “Sepuluh tahun terakhir aku sadar, 60 tahun hidup dilalui tanpa makna, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita… Sungguh hidup yang sia-sia, tidak berguna. Saat sadar, kakek sudah hidup sebatang kara dan tanpa harta.Untuk hidup pun harus ditunjang dari belas kasihan orang lain. Anak muda, jangan meniru kehidupan seperti yang telah kakek jalani. Karena, waktu adalah modal utama paling berharga yang dimiliki oleh setiap manusia. Pergunakanlah baik-baik untuk belajar,berusaha, dan berkarir. Efektivitaskan waktumu pada tujuan yang jelas, dan berjuang meraih keberhasilan. Maka kelak di hari tuamu, kamu akan menjalani kehidupan ini dengan bangga dan bahagia.

Rabu, 14 September 2011

#WajibKaya


Tadi, jam 7 Malam, PS ngasi kultwit di twitter. Buat teman2 yg nggak punya akun twitter, PS bagi deh disini :)
Kita akan mulai twit #WajibKaya sesaat lagi
1.Banyak yg bilang “yg penting kaya hati”, pdahal itu pembenaran saja atas kemiskinan yg dialaminya dan malas utk usaha lbh keras #WajibKaya
2.Kalau memang KayaHati saja, katakan itu pada orangtua atau keluarga yg terbaring di rumah sakit butuh biaya berobat #WajibKaya
3.Katakan juga pada ayah-ibu yg sudah lamaaaa ingin menunaikan ibadah ke tanah suci. #WajibKaya
4.Kaya hati itu memang penting, tapi Kaya Harta tak kalah penting, buktinya kemiskinan adalah masalah serius bagi semua orang #WajibKaya
5. PS pernah mengalami adik meninggal di RS dg keadaan keluarga kami yg miskin, dia dirawat seadanya sampai akhirnya meninggal #WajibKaya
6. Rasanya sangat terpukul waktu itu. Kalau kami kaya harta, tentu adik dirawat di VVIP, bukan hanya di kelas lll #WajibKaya
7. Sungguh hancur hati melihat jenazah adik tersayang terbujur di ruangan seadanya, padahal itu hari terakhirnya di dunia #WajibKaya
8. Sejak itu PS bertekad harus meraih Kaya Harya selain mengusahakan Kaya Hati #WajibKaya
9. Dengan Kaya Harta, kita minimal tidak menjadi beban bagi orang lain, sebaliknya justru memberi manfaat #WajibKaya
10.Si Miskin memandang orang kaya itu identik dg hal-hal yg negatif, padahal tidak begitu, justru sebaliknya #WajibKaya
11. Harusnya si Miskin terinspirasi dan sungguh2 meraih kekayaan duniawi #WajibKaya
12. Menjadi kaya berarti bisa memberi #sedekah lebih besar kpd si miskin #WajibKaya
13. Si Kaya bisa “membeli” pahala amalan-amalan” si miskin meskipun dia tidak melakukannya #WajibKaya
14.a. Contoh, membeli pahala umrah, dg mengumrahkan orang lain, Membeli pahala puasa dg memberi makan berbuka bagi yg puasa #WajibKaya
14.b Membeli pahala majelis zikir dg membiayai majelis zikir tsb, membangun rumah ibadah mrk dll #WajibKaya
15 Kekayaan brpihak pd mrk yg mengetahui ilmunya kemudian bersungguh2 untk memperjuangkannya #PercepatanRezeki #WajibKaya
16. Nabi dan mayoritas Sahabat, Kaya. Dg kekayaan itu mereka membiayai dakwah hingga islam tersebar #WajibKaya
16. Nabi brsabda ; FAKIR dekat dg KUFUR. Khalifah Ali brkata ; Kalau kemiskinan itu manusia, aku yg pertama memenggal lehernya” #WajibKaya
17. Doktrin “Kaya harta” tidak penting muncul karna mayoritas pendakwah yg menyampaikannya tidak kaya #WajibKaya
18. Kaya itu memang relatif, patokannya seberapa besar manfaat yg bisa kita beri kepada orang lain #WajibKaya
19. Makin besar manfaat yang kita bagi, maka makin tinggilah nilai kekayaan kita. #WajibKaya
20.Begitu juga dengan kemiskinan ; seberapa besar kita “menggantungkan hidup” dan menyusahkan orang lain maka makin miskin kita #WajibKaya
21.Maka, bersungguh2lah meraih kekayaan, mempelajari ilmunya dan bergaul dengan mereka yg sudah sukses dan follow mrk biar nular #WajibKaya
22.Ikuti seminar, pelatihan ataupun Training. Investasi di ilmu seperti itu bisa jadi “jalan pintas” meraih kekayaan #WajibKaya
23.Masuk dan aktif dlm komunitas Kaya, mengayakan orang lain dan mencerahkan. Bukan kaya utk diri sendiri #WajibKaya contoh ; @TanganDiAtas
24.Jadilah KAYA, Kaya Hati sekaligus Kaya Harta #WajibKaya

SEDEKAH FOR DUMMIES


“Sedekah itu seikhlasnya” kalimat itu biasanya yang saya gunakan kalo diminta sumbangan. “Maksudnya seikhlasnya apa sih pak” tanya temen saya, “kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan”, jawab saya. ” sering sedekah?” tanya temen saya, ” ya karena jarang punya uang ya jarang”, jawab saya. ” Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya”, saya nambahin.
Lain waktu,
“Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah”, kata anak saya, “Bilangin gak ada “, jawab saya. “Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja” kata hati saya.
Lain waktu lagi,
“Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid”, kata istri saya. “Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya”, jawab saya.
Kata “ikhlas” menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.
Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.
Pertemuan saya dengan komunitas TDA ( Tangan Di Atas ) di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.
Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.
Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.
Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.
Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?
Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas…..
Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung……Just Action !!!
Salam berbagi
Ato Sunarto

Selasa, 13 September 2011

Ilmuwan RI Jadi Cover Majalah di AS




Jakarta - Prestasi memang tak bisa lepas dari ilmuwan Indonesia di luar negeri. Seorang ilmuwan asal Indonesia mejeng di majalah berkelas di Amerika Serikat (AS), EEWeb Pulse, karena berprestasi.

EEWeb Pulse merupakan sebuah majalah online untuk komunitas praktisi dan akademisi bidang teknik elektro yang berbasis di Amerika. 

Putra bangsa itu adalah Dr Taufik, ilmuwan Indonesia pertama yang tampil sebagai cover di majalah yang beredar hingga luar AS itu. Taufik dikenal sebagai pengajar di Cal Poly State University bidang kelistrikan dan energi.

"Pada tahun 2005-2006 Dr Taufik juga memperoleh 'Outstanding Faculty Advisor Award' yang langsung diberikan oleh Rektor Cal Poly di depan seluruh pejabat-pejabat, dosen dan staf di Cal Poly," demikian rilis Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) yang diterima detikcom, Senin (12/9/2011).

Masih banyak prestasi yang diraih oleh Taufik. Pada 2004, Taufik menyabet juara satu pada kompetisi 'Annual California State University Student Research Competition dan kompetisi 'Space Elevator Junior Competition' se-AS yang disponsori oleh NASA. Dia meraih juara 3.

Ilmuwan kluster bidang informatika dan teknik elektro Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) ini juga pernah menjabat Ketua IEEE Cabang Central Coast California selama 2 tahun (2004 dan 2005) dengan jumlah anggota (akademis, praktisi, dan mahasiswa) sekitar 1.100 orang. 

Ketika ditanya perihal segudang prestasinya tersebut, dengan rendah hati Taufik menjawab, "Saya hanya ingin membantu Indonesia dengan apa yang saya bisa."
SUMBER DETIK.COM

4 Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)


Inspirasi dari Entrepreneur





Laporan oleh Hayat Mansur
Walau banyak kasus korupsi dan persoalan lainnya, ekonomi negara kita bisa tetap berjalan. Ini tentu saja berkat ada penggerak-penggerak di masyarakat yang tidak tergantung pada peraturan dan pemerintah. Mereka yang jarang diketahui orang ini disebut entrepreneur. Ini beberapa dari mereka dan upaya yang telah dilakukan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita.
Wimar’s World Rabu malam (28/3) menghadirkan tiga orang entrepreneur yaitu Bob Sadino (pemilik supermarket Kem Chicks), Hadrijanto Satyanegara (PR Manager Patrakom), dan Fred Hehuwat (salah satu pendiri Yayasan ASHOKA Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang tidak putus asa bahkan bersemangat dan memberi contoh kepada kita. Berikut potongan percakapan mereka dengan Wimar Witoelar.
Empat Modal Entrepreneur
Wimar: Katanya, Anda dulu pelaut, lalu bagaimana Anda bisa sampai menjadi entrepreneur dengan membuka supermarket?
Bob: Sederhana saja. Saya dulu bekerja di negeri Belanda dan berkeliling Eropa. Ketika kembali ke Indonesia, saya melihat telor di sini berbeda dengan telor yang saya lihat di Eropa.
Wimar: Apa bedanya?
Bob: Beda bentuknya. Jadi, saya meminta orang mencari ayam yang bisa bertelor.
Wimar: Apakah saat itu Anda sudah ahli ayam atau telor?
Bob: Salah satu faktor saya menjadi seperti saat ini karena saya beruntung tidak mengetahui apa-apa.
Wimar: Apakah Anda mempunyai banyak teman di bank yang bisa menyediakan modal?
Bob: Bank hanya untuk menabung saja
Wimar: Jadi tidak betul orang membutuhkan modal untuk membangun usaha baru.
Bob: Apa pengertian modal itu? Banyak orang hanya menterjemahkan modal itu hanya benda yang bisa dilihat dan dihitung saja, pokoknya uang. Sebetulnya ada modal yang tidak bisa dilihat. Ini modal pegangan bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur yaitu,
  1. Harus mempunyai kemauan
  2. Tekad yang bulat
  3. Keberanian mengambil peluang. Ada sejuta peluang di luar sana termasuk di dalam badan kita sendiri
Wimar: Bob, saya bertemu banyak sekali orang yang ingin menjadi enterpreuner. Katanya, itu susah sekali karena iklim tidak kondusif, peraturan tidak berpihak pada pengusaha. Bagaimana ini Bob?
Bob: Ketiga faktor tadi belum membuat seseorang untuk masuk menjadi enterpreuner. Faktor keempat adalah Anda jangan cengeng dan tahan banting.
Manfaatkan Teknologi
Wimar: Kita beralih ke Hadrijanto. Perusahaan Anda menyediakan sarana telekomunikasi di perusahaan terpencil. Bagaimana perusahaan Anda bisa berbisnis di daerah terpencil?
Hadrijanto: Kita melihat ada peluang usaha dan keterbatasan saran telekomunikasi terutama di luar Pulau Jawa. Mereka mempunyai kebutuhan dan terkadang mereka memiliki uang. Telekomunikasi itu bukan lagi kebutuhan sekunder tapi sudah primer. Karena itu kita berupaya membantu menyediakan sarana telekomunikasi di daerah terpencil.
Wimar: Berapa banyak dan dimana contohnya?
Hadrijanto: Di Kalimantan Timur seperti di daerah pedalaman Samarinda, Tabang. Kalau sekarang jumlahnya sekitar 150 unit
Wimar: Jadi karena daerah terpencil maka mereka mesti wireless. Jadi dipergunakan satelit.
Hadrijanto: Iya, kita mengadakan warung telekomunikasi satelit (Wartelsat).
Wimar: Kuncinya di sini mahal tapi kok bisa dikerjakan dan orang tidak membayar mahal. Jadi, siapa yang memberikan dukungan sehingga ini tersedia?
Hadrijanto: Sebenarnya yang mendukung itu teknologi. Kita memanfaatkan teknologi yang ada. Kita melakukan rekayasa teknologi di dalamnya sehingga kita bisa. Secara kualitas memang tidak bisa mencapai seperti cyber atau berlangganan, tapi untuk daerah terpencil cukup memadai agar ada sarana telekomunikasi.
Wimar: Apakah investasi itu akan kembali dari sisi uang?
Hadrijanto: Mungkin bukan kembali tapi kita berusaha mencapai break event point saja. Itu sudah bagus.
Wimar: Itu mungkin perbedaannya antara perusahaan tempat Anda bekerja dengan Bob Sadino. Kalau Bob, pure entrepreneur yaitu investasi dan uang kembali. Sedangkan Anda, ada yang investasi dan kembali dalam bentuk menyenangkan masyarakat.
Social Entrepreneur ASHOKA
Wimar: Ini yang ketiga Fred Hehuwat. Dia pada 1983 mendirikan Yayasan ASHOKA Indonesia. Saya tahu karena turut mendirikannya, tapi saya tidak tahu kelanjutannya. ASHOKA memakai konsep social entrepreneur. Apa konsep itu dan apa yang dikerjakan Ashoka saat ini?
Fred: Kalau kita biasanya mengaitkan dengan kegiatan ekonomi. Memang lahirnya istilah social entrepreneur ini dari Ashoka. Kalau kita membandingkan sektor ekonomi dan industri yang perkembangannya sangat maju maka bidang sosial seperti pendidikan dan kesehatan tertinggal. Kalau kita melihat kondisi di Indonesia, kondisi sosial merupakan yang sangat parah. Siapa yang menangani ini? Biasanya kita menggantungkan harapan pada pemerintah. Kita semua tahu pemerintah banyak keterbatasannya. Kalau ini tidak ada jalan pintas yang diciptakan maka keadaannya makin lama makin ketinggalan.
Wimar: Apa orang yang dibina ASHOKA?
Fred: Kita membina orang-orang yang memiliki program-program entrepreneur. Awalnya, seseorang melihat keadaan, mengenal lapangan, mempunyai ide cemerlang, mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah, tidak tergantung fasilitas, dan sebagainya, maka ide cemerlang itu akan kita bantu. Kita mencari orang-orang seperti itu.
Wimar: Berapa orang yang sudah dibina sejak 1989?
Fred: Sekarang ada sekitar 140 orang di Indonesia.
Wimar: Ini konsepnya internasional. Kalau dengan contoh konsep internasional, kita mungkin lebih mengerti social entrepreneur itu?
Fred: Kalau kita melihat social entrepreneur yang top adalah Muhammad Yunus dari Banglades dengan program di Grameen Banknya sehingga meraih hadiah Nobel. Idenya itu yang paling unik dan bagus.
Wimar: Kalau saya membaca di brosur Anda, ASHOKA banyak juga bergerak di daerah-daerah. Bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi di sana?
Fred: Saya kira mereka tidak akan menunggu sesuatu tapi melihat keadaan. Kemungkinan-kemungkinannya berbeda. Kendalanya juga berbeda. Jadi mereka sama sekali tidak menunggu sesuatu dari luar. Dari mereka sendiri tumbuh ide, "Oh, keadaannya begini. Ini yang bisa saya lakukan."
Wimar: Bagaimana Anda memilih orang yang akan dibina itu?
Fred: Saya kira kita memang memilah-milah orang terutama berdasarkan penilaian,
  1. Apakah idenya itu baru?
  2. Apakah orang yang melakukan itu, menurut penilaian kami, mempunyai kemampuan?
  3. Bagaimana dampaknya ide tersebut? Kalau dampaknya kecil maka kita tidak tertarik.
Wimar: Kalau Bob Sadino 50 tahun lalu yaitu saat masih remaja, apakah bisa menjadi pilihan ASHOKA? Apakah syarat-syarat yang ada pada diri Bob itu yang dicari ASHOKA?
Fred: Mungkin sifat-sifatnya iya, tapi bidangnya mungkin tidak. Bob tentu ingin berhasil secara komersial, sedangkan yang kita nilai adalah bagaimana dampaknya pada kehidupan sosial.
Alfi (penelpon dari Bekasi): Saya sangat tertarik dengan Yayasan ASHOKA Indonesia. Bagaimana mekanisme kontrol terhadap orang yang didukung sebagai entrepreneur di ASHOKA?
Wimar: Jadi pertanyaannya bagaimana niat baik orang tersebut bisa dikontrol?
Fred: Pertama, kita memiliki jaringan yang cukup banyak sehingga dapat memberi informasi ke kita. Kedua, kita tentu memonitor bagaimana perkembangan selanjutnya dari orang yang didukung. Sesungguhnya ASHOKA sendiri tidak mau banyak mengontrol. Kalau entrepreneur mau berkembang jangan terlalu banyak dikontrol, jadi kita hanya memonitor saja.
Dampak Perubahan Pemerintah
Wimar: Kita telah mengalami perubahan drastis pemerintahan sejak 1998 hingga sekarang. Jika dibandingkan dengan situasi sebelumnya, apakah ada perbedaan perubahan tersebut untuk masing-masing bidang entrepreneur?
Fred: Sangat berbeda. Dulu kita untuk mendirikan ASHOKA harus mengumpet-umpet. Sekarang sangat leluasa
Bob: Iya ada perbedaan. Tapi Saya dari dulu tidak tertarik dengan pemerintah. Saya hanya ingin kami jangan terlalu banyak diatur-atur karena yang tahu mengenai usaha saya adalah saya.
Hadrijanto: Kalau kita melihat lebih baik sekarang karena peraturan pendukungnya jauh lebih baik dan sikap dari teman-teman daerah juga sudah lebih terbuka.

PENCARIAN