Kamis, 18 Juli 2013

Pola Tidur di Bulan Ramadhan



Saya mengucapkan terima kasih pada blog ini, sekaligus meminta maaf. Terima kasih karena blog ini ibarat pensieve milik dumbledore yang merupakan kumpulan serpihan ingatan saya di masa lalu, yang terkadang memberikan pencerahan bagi saya di masa ini.
dan minta maaf karena lama gak pernah ngepost tentunya, emang gak penting juga kebanyakan posting. karena saya tidak nyari duit disini, dan saya tidak berbagi ke banyak orang juga melalui blog ini,
tetapi saya memang ada rencana membuat blog ini menjadi .com biar lebih keren, tapi mau dikemana isinya juga belum jelas.


Saat Anda membaca artikel ini, berarti saya telah menyelesaikan sahur saya pada hari ke 10 ramadhan. Ternyata sudah 10 hari ramadhan..
dan artikel ini saya beri judul Pola tidur di Bulan Ramadhan, karena saya cukup bermasalah dengan urusan pola tidur di Bulan Ramadhan.

Masalah pertama, saya tidak pernah bertanya kepada Ahli baik Ahli agama maupun ahli kesehatan mengenai Pola tidur yang baik.
Masalah kedua, saya sering sekali mengalami serangan kantuk mendadak, terutama saat menjalankan shalat Isya-tarawih. ni sangat berbahaya karena tidak khusyuk. bahkan saya hampir memvonis diri saya terkena narkolepsi. What is Narkolepsi?

Masalah pertama saya jawab dengan cara bertanya kepada Ahlinya,
dan jawabannya sebagai berikut :

Bada tahmid dan sholawat….
Satu fenomena yang sangat berkesan mendalam selama bulan ramadhan ini yang bisa diamati termasuk juga pada saat mengamati diri sendiri adalah fenomena mengantuk dan tidur . Begitu hebatnya gejala mengantuk dan tidur ini selama bulan ramadhan terutama di malam hari sampai pagi harinya. Ada apa sebetulnya? Apa yang menjadi penyebabnya? Apakah karena tiupan syetan? Bukankah syetan terbelenggu di bulan Ramadhan oleh saum kita?
Selidik punya selidik, tanya punya tanya ternyata soal mengantuk dan tidur ini terdapat juga dalam QS 8:11. Begitu lengkapnya Al Quran sampai soal menguap alias ngantuk saja dibahas didalamnya. Allah berfirman:
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).
Kalau dilihat dari firman tersebut maka ternyata mengantuk itu adalah salah satu anugerah atau kenikmatan dari Allah SWT untuk kita. Lalu Nikmat mana lagi yang akan kalian dustakan? Kata Allah dalam QS Ar Rahman. Tentu hal ini harus kita syukuri begitu banyak kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita termasuk nikmat mengantuk ini. Tapi apakah cara bersyukur kita adalah dengan melampiaskannya untuk selalu tidur melulu? Tentu saja tidak. Pernah terfikir kalau tidur melulu apa tidak sebaiknya mati sekalian? Tidur berkepanjangan tanpa harus bangun-bangun lagi... Nikmaat!!. Pasti pada tidak mau kecuali sudah siap dengan bekalnya.
Jadi bagaimana mensikapi anugrah ngantuk dan tidur ini?
Mari kita lihat sama-sama apa yang terjadi di bulan Ramadhan. Ada beberapa pola yang berubah selama bulan ramadhan ini sebagai berikut:
1.    Pola makan. Pola makan bepindah menjadi lebih kurang di malam hari pada saat berbuka dan pada saat sahur. Belum lagi pada saat berbuka yang terjadi adalah balas dendam segala dimakan sampai betul-betul kekenyangan. Apa akibat yang terjadi? Tentu saja mengantuk dan ingin tidur.
2.    Pola tidur. Pola tidur berubah karena malam harus bangun untuk sahur minimal apalagi kalau ditambah Qiyamul Lail untuk menghidupkan malam. Maka jumlah jam tidur menjadi sedikit. Apa akibat yang terjadi? Tentu saja sama mengantuk dan ingin tidur.
Bagaimanapun dua pola tersebut pola yang memberikan Kenikmatan yang amat sangat baik pola makan maupun pola tidur. Dan biasanya yang berbau Kenikmatan ini adalah selalu terkait dengan apa yang namanya Hawa Nafsu.  Maka pada akhirnya tentu saja menjadi terkait dan berhubungan dengan perjuangan kita melawan hawa Nafsu ini terutama di bulan Ramadhan ini sebagai bulan pelatihannya.
Bicara mengenai Hawa Nafsu, ada sebuah kisah dalam Hadist Qudsy tentang pencipataan Hawa Nafsu. Konon Allah SWT pernah berdialog dengan Hawa Nafsu sebelum diberikan kepada Makhluknya yg bernama Manusia .
Allah SWT bertanya kpd Hawa Nafsu : Ma Anta  ?? ( Siapakah Engkau ?? )
Hawa Nafsu menjawab : Ana …Ana wa Anta …Anta….(Aku adalah Aku dan Engkau adalah Engkau) dengan angkuhnya…
Singkat cerita sampai dengan tiga kali Allah SWT mengajukan pertanyaan dan Hawa Nafsu tetap menjawab demikian dengan angkuhnya. Kemudian Allah SWT memerintahkan MalaikatNya untuk memasukkan Hawa Nafsu ke dasar neraka yang paling dalam….Naudzubillahi min Dzalik….Selama 70 ribu tahun….
Setelah itu Allah SWT kembali memerintahkan MalaikatNya untuk mengangkat Hawa Nafsu dari Neraka setelah dihukum selama 70 ribu tahun dan Allah SWT kembali bertanya kepada Hawa Nafsu …Siapakah Engkau ???
Kembali dg angkuhnya hawa nafsu menjawab : Ana…Ana wa Anta ..Anta….
Sampai dengan tiga kali ditanya dan hawa nafsu tetap menjawab demikian….
Dengan murka Allah SWT memerintahkan MalaikatNya untuk memasukkannya kembali ke dalam neraka dg tanpa diberikan MAKANAN dan MINUMAN…..selama 70 ribu tahun pula…..
Setelah menjalani hukumannya, kembali Allah memerintahkan MalaikatNya untuk menghadapkan hawa nafsu…..lalu Allah SWT kembali bertanya kepada hawa nafsu
Alllah SWT : Ma Anta ..? (Siapakah Engkau)
Hawa Nafsu menjawab : Aku adalah hambaMU dan Engkau adalah Tuhanku yg menciptakan aku.
Begitulah hawa nafsu yang terkendali akan menjadikan dia sebagai Hamba bukan sebagai yang diper-Tuhan. Allah SWT berfirman dalam QS 38:26;
Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.
Kembali ke masalah ngantuk dan tidur yang ternyata berkaitan dengan Hawa nafsu adalah bagian dari hikmah Ramadhan sebagai bulan training pengendalian nafsu dimana salah satu caranya adalah melawan kantuk dan mengendalikan tidur. Bagaimana salah satu kenikmatan ini harus ditempatkan pada porsinya bukan untuk dilampiaskan secara berlebihan. Makan berlebihan akibatnya ngantuk. Tidur berlebihan akibatnya waktu menjadi tidak bermakna atau sia-sia sehingga menjadikan kita pemalas.
Bagaimana kiat melawan kantuk ini? Adalah sebagai berikut:
1.    Kita harus belajar mengendalikan makan. Lebih tertib dan teratur. Kalau di bulan Ramadhan pastikan pada saat berbuka bukan sebagai ajang balas dendam. Makanlah secukupnya pada saat berbuka. Bisa juga dilanjutkan makan setelah taraweh.
2.    Sebaiknya tidak merubah pola tidur di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Jika pola tidur terbaik adalah di bulan Ramadhan yaitu dengan mengurangi jumlah jam tidur dan banyak menghidupkan malam. Maka dibulan selain bulan Ramadhan seharusnya sama.
3.    Menanamkan semangat yang tinggi, misalnya dengan selalu mengingat keutamaan-keutamaan Ramadhan terutama dalam menghidupkan malam-malamnya. Pahala yang berlipat ganda. Keridloan Allah dalam genggaman dll.
Jadi kesimpulannya melawan kantuk adalah bagian dari training di bulan Ramadhan yaitu training melawan hawa nafsu.
Semoga di akhir Ramadhan Jangan sampai hasilnya malah jadi ahli tidur alias TUTI (Tukang Tidur)..Naudzubillah... akan tetapi target Taqwallah yang bisa tercapai.  Dalam QS 51 : 15-18, Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).
Wallahualam bishshawab. dikutip dari Pesantrenvirtual
Dan ternyata saudara, masalah besar nya adalah melibatkan pola makan kita, saya mengalami serangan kantuk tadi malam saat sholat Isya-Tarawih. Usut punya usut, ternyata saya berbuka dengan mie ayam. Yaa mie ayam kesukaan saya pokoknya,.
Mie ayam nya tu sedikit, tidak lah mengenyangkan, tapi di dalam mie ayam mengandung zat yang sering kita sebut dengan istlah vetsin alias MSG alias Penyedap rasa.
ini berbahaya sekali saudara-saudara. , vetsin memicu terjadinya kanker. vetsin secara nyata membuat tekanan darah kita meningkat.dan apa hubungannya sampai membuat kantuk? owh ada patofisiologi nya juga, silakan dicari sendiri saya bukan dosen. mungkin di sini bisa membantu --> vetsin

Kamis, 12 April 2012

Arti sebuah Waktu

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil,
dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya.
Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota
kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak
oleh kedua orang tuanya.
Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya
dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya
datang menghampiri dia.
Dan tiba-tiba ibunya bilang "Kamu boleh pergi ke kota nak".

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum.
Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota.
Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat
di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, " andai ku bisa
membangun rumah mewah dan dapat mengoperasi wajahku yang biasa
menjadi luar biasa ini." Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya
datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya
"kenapa nak kamu tersenyum sendiri?"
"Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses
di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini", kata dia.
Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya,
kemudian nenek itu berkata "Kamu tinggal putar jam itu sesuai
dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu".
"Baik nek", kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut
sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi.
Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama
di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang
di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.

Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun
menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya,
dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang
pernah dia temui sekali lagi.
Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang
semula cantik jelita menjadi tua dan keriput.
Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang.
Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang
memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu.
Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu
telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan
menangisi nasibnya.

Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari
kejadian wanita tadi?

Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri
kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia,
damai, dan mulia.
Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan
kedisiplinan waktu untuk belajar.
Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan,
tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.
Semoga bermanfaat

Kamis, 29 Maret 2012

BUKA MATA, ANAK FK BOLEH BACA

Copass dari dokter senior, semoga berkenan dan saya copass di sini agar bisa dibaca lebih banyak orang, sekaligus merubah mindset sedari mahasiswa agar mempersiapkan diri lebih baik.

BACA LENGKAP , sampai komen2nya harus dibaca, karena itu yang menarik :D


To The Point saja
Berapa gaji dokter negeri (PNS) di Indonesia ?
Alhamdulillah, sekarang cukup banyak. Mungkin ada yang menyebut sedikit, semua bergantung pada sudut pandang masing-masing.
Penulis sebenarnya tidak paham betul tentang sistem penggajian dan rincian nya yang rumit itu, gak pernah ikut ngitung juga. Karenanya angka-angka yang ditampilkan adalah total penerimaan gaji berdasarkan arsip slip gaji.
Berapa sih ?
Sabar dong, nggak usah buru-buru.
Baiklah, mari kita simak “gaji dokter negeri di Indonesia” dalam kurun waktu 1987 hingga Desember 2006.
Sebagai sampel adalah riwayat penggajian penulis dan istri yang juga PNS (2001 beliau berhenti) berdasarkan arsip slip gaji. Pada dasarnya, pengaturan besaran gaji dokter negeri (pns) sama dengan gaji pegawai PNS lainnya. Jumlahnya bergantung pada pangkat, jabatan dan masa kerja ditambah tunjangan, potongan dan rincian lain.
Misalnya seorang dokter golongan III.a III.b masa kerja 3 tahun, tentu lebih sedikit dibanding gaji paramedis golongan II.d masa kerja 12 tahun, walaupun paramedis tersebut adalah anak buahnya yang hanya melaksanakan 2 atau 3 jenis pekerjaan.
Sedikit gambaran diatas sudah bisa dipahami kan.
RIWAYAT GAJI DOKTER
Ketika penulis pertama kali menerima gaji sebagi calon pegawai negeri sipil (cpns) Republik Indonesia tercinta golongan III.a III.b pada akhir 1986, gaji pokok 80% sebesar Rp80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) ditambah tunjangan dan potongan akhirnya diterima sekitar seratus sepuluh ribu rupiah.
Setelah penjadi PNS 100%, kala itu gaji naik dan totalnya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.
Seiring dengan waktu, kenaikan golongan dan pangkat, gaji dokter negeri naik pesat, hingga pada Desember 1995, total gaji Rp390.300,- (tiga ratus sembilan puluh ribu tiga ratus rupiah)
Perinciannya sebagai berikut:
Nama: cakmoki
Gaji bulan: Desember 1995
Gaji bersih: Rp423.700,-
Potongan:
Korpri: Rp1.500,-
Dharma Wanita: Rp100,-
Simpanan wajib koperasi: Rp6.000,-
Asuransi: Rp2.000,-
Ongkos Angkut Beras: 500,-
IDI:3.000,-
HUT IDI: Rp20.000,-
Jumlah potongan: Rp33.400,-
Sisa yang dibayarkan: Rp390.300,- ( inilah yang diterima)
Tahun berikutnya, Desember 1996, jumlah gaji naik lagi dengan pesatnya menjadi: Rp399.300,-
Dan pada bulan Desember 1997, naik lagi menjadi Rp430.900,-
Tahun demi tahun berlalu dengan grafik naik turun sesuai potongannya. Pada saat Gus Dur jadi presiden, ketika itulah gaji pns mengalami lonjakan kenaikan sejalan dengan kebijakan otonomi daerah.
Akhirnya pada Desember 2006, gaji dokter negeri golongan IV.a, masa kerja 19 tahun, ditambah tunjangan jabatan dan tunjangan lainnya berjumlah sangat besar, yakni Rp2.748.000,- (dua juta tujuh ratus empatpuluh delapan ribu rupiah).
Jumlah potongan hanya Rp2.000,- oleh asuransi.
Mungkin tidak sama persis, tapi gambarannya tak jauh berbeda, tergantung kebijakan daerah di era otonomi, biasanya berbeda dalam hal tunjangan.
Oya saat tahun 2006, jumlah THR di kota kami sama rata, yakni sebesarRp500.000,-
Bagaimana gaji dokter PTT ?
Duh teman sejawat angkatan PTT ini sungguh generasi doker yang ditelantarkan induknya. Penulis paling tidak setuju dengan kebijakan PTT bagi dokter , karena sejatinya masih banyak tempat di pelosok negeri yang memerlukan kehadiran dokter.
Untuk dokter spesialis negeri yang tambahan waktu pendidikannya mencapai lebih 4 tahun, disetarakan dengan S2 yang pendidikannya 2 tahun. Spesialis banyak lho. Jika selama ini pembaca mungkin melihat dokter spesialis bedah, kandungan, anak, penyakit dalam, mata, syaraf THT dan sejenisnya, dan prakterk sesuai spesialisasinya, ada juga dokter spesialis kedokteran forensik (kedokteran kehakiman), itu lho dokter yang ahli bedah mayat. Nah dokter spesialis tersebut tidak mungkin praktek sesuai spesialisasinya, pasiennya siapa hayo.
Penulis ingin memandang dari sisi yang seimbang.
Ketika pembaca mendengar dokter spesialis bedah maka yang terbayang adalah gelimang uang berpuluh juta tiap bulan sesuai bidang keahliannya, begitu pula saat membayangkan spesialis kandungan, anak atau sejenisnya yang sudah tak asing bagi pembaca.
Tapi tidak demikian ketika mendengar dokter spesialis kedokteran forensik, mau praktek di mana dan siapa pasienya.
Para dokter dengan berbagai tambahan keahlian non klinis semisal kedokteran masyarakat, anatomi, mikrobiologi, fisiologi TIDAK seperti bayangan pembaca kendati gelarnya jejer-jejer sampai kertasnya gak cukup saking panjangnya gelar. Beliau-beliau mungkin lebih banyak mengabdikan diri di bidang keilmuan yang diminatinya.
Memang ada tambahan tunjangan dan pengaturan gaji pokok sesuai rumpun sistem penggajian, tapi jumlahnya tidak sampai selisih berjut-jut.
GAJI DAN PRAKTEK
Seorang dokter diijinkan untuk membuka praktek di luar jam kerja. Dapat juga merawat penderita di RS Swasta. Semua itu ada aturan mainnya yang diatur oleh kode etik dan UU tentang Praktek Kedokteran.
Melihat besaran contoh gaji di atas yang mungkin dianggap tidak mencukupi, tidak lantas dijadikan pembenaran untuk berperilaku keliru, misalnya demi mengejar tambahan lalu tega meninggalkan tempat tugas pada jam kerja untuk mengejar tambahan. Tentu ini salah, lantaran sudah ada waktu di luar jam kerja, misalnya praktek malam atau merawat penderita sore atau malam hari.
Apakah ada dokter nakal ?
Jangan khawatir, dijamin ada, misalnya memeras penderita, atau operasi kategori sedang dikatakan (ditulis) kategori besar. Penderita tidak tahu dan tidak mencari tahu karena mungkin sudah “merasa ditolong”, padahal kantong dan simpanannya “bobol”.
Hanya itu ? Tidak, masih beragam tips dan trik kotor berkedok “demi” ini dan “demi” itu.
Apakah semua dokter sekarang seperti itu ?
Tidak, dijamin tidak, sekali lagi tidak semua.
Setelah membaca garis besar ilustrasi di atas, menurut penulis sungguh keliru jika orang tua menyekolahkan anaknya di kedokteran dengan harapan kaya raya. Kalau ingin kaya suruh jadi pedagang, atau jadi koruptor sekalian asal nggak ketangkap.
P E S A N
Apabila ada diantara anak atau kerabat pembaca “ngotot” ingin jadi dokter, mohon ditanya ulang apa motivasinya. Jika ingin kaya, segera saja dilarang agar dunia kedokteran tidak bertambah keruh ketambahan calon dokter sekaligus calon pemeras.
Namun apabila memang ingin memanfaatkan ilmunya kelak untuk kemaslahatan, maka dorong dan support amat diperlukan untuk memperbaiki dunia kedokteran negeri ini. Mohon jangan lupa untuk memberi nasehat terus menerus dan mengingatkannya bahwa tujuan jadi dokter adalah untuk memberi manfaat bagi sesama.
Praktek atau merawat di RS Swasta untuk tambahan penghasilan tentu tidak dilarang, tapi sekali lagi mohon selalu diingatkan agar biaya pengobatan murah, ramah, bersahabat, membagi pengetahuan, mau berbaur dengan warga sekitar dan beramal bila ada rejeki.
Di sisi lain perlu juga diingat bahwa dokter tidak selalu identik dengan kota besar dan kemewahan. Seyogyanya ada yang merelakan diri di pedesaan, agar mayoritas penduduk negeri di desa ada yang ngopeni. Tak usah terlalu risau dengan penghasilan, asal mau jujur dan usaha keras niscaya ada saja tambahan.
Usaha keras, caranya ?
Gampang, sekali lagi simak resepnya: biaya pengobatan murah, ramah, bersahabat, membagi pengetahuan, mau berbaur dengan warga sekitar dan beramal bila ada rejeki.
( kalau sempat, ngeblog ya)
Akhirnya, selalu memandang ke bawah agar tidak kesandung.
Semoga menjadi bahan renungan

218 Tanggapan ke “Gaji dokter negeri di Indonesia”

  1. sinungFebruari 23, 2007 pukul 9:31 am
    salam kenal cak moki :)
    sepertinya saya pernah membaca di http://www.h2-indonesia.com bahwa ada rencana departemen kesehatan menggaji dokter di kisaran 7-juta-an, cmiiw.
    sekalian nanya :)
    untuk setiap layanan di lembaga kesehatan (puskesmas/rs);
    tenaga kesehatan akan mendapatkan jasa_pelayanan (JP);
    dengan rasio tertentu dari tarif atas suatu layanan;
    apakah ‘jasa layanan’ ini merupakan kompensasi tambahan atas gaji yang selama ini diterima oleh tenaga kesehatan ?
    terima kasih
    sinung
  2. HelgeduelbekFebruari 23, 2007 pukul 10:48 am
    Kalau gaji guru lebih parah tapi mungkin disesuaikan dengan lamanya pendidikan yang harus di tempuh kali yah. Terus kalau dokter itu untuk spesialisasi tertentu apakah dilakukan pembedaan dalam sistem penggajiannya cak? apa podo kabeh?
    Kalo guru khan gak dibedain semua sama, guru bahasa indonesia, PPKn (dulu PMP) dan guru fisika/kimia/biologi sama saja. PAdahal proporsi kerja berbeda. Bukannya meminta dibedakan sih, cuman mbok sedikit proporsional.
    Hehehe malah curhat dewe iki.
  3. ndarualqazFebruari 23, 2007 pukul 11:41 am
    iya, bener tuh kata pak Urip, kalo gaji guru lebih ngenes. kebetulan bapak-ibu saya guru sd di Ponorogo, Jatim, setiap bulan gaji yang diterima kena potongan kurang ebih 300 ribu, gak taulah buat apa.
    itu masih mending, malah teman ibu saya yang juga guru sd di tempat yang sama sempet menerima gaji hanya 16 ribu dengan rician [potongan yang sangat sangat dan sangat tidak masuk akal. (kebetulan saya sempat ngintip rekapan gaji yang dibawa sama ibu saya)
  4. EvyFebruari 23, 2007 pukul 12:24 pm
    hehehe…ngomong soal gaji mayan ngenes, dulu gaji pertamaku cuman habis buat ngontrak rumah tiap bulan, tapi ya lumayan rejeki ada aja dr praktek sore, klo kerja pagi sih emang harus niat buat charity,tapi capek-nya audzubillah pulang sampe rumah udah jam 10 malem, berangkat jam 6 pagi, ga pernah ketemu anak2…week end juga emergency… ya gitu udah udah diniatin jd dokter..
    Pak Urip :
    Dr. Spesialis ga nambah kok tgtg ama pangkat PNS-nya aja…sama jabatannya, cuman ya Alhamdulillah rejeki sudah di atur sama GustiAllah..
  5. grandiosa12Februari 23, 2007 pukul 2:37 pm
    artikelnya menarik sekali.. saya setuju sekali dokter harus merakyat tapi harus lebih dihargai keringatnya. Mestinya tidak hanya dokter, semua profesi pengabdi negeri harus ditingkatkan kesejahteraannya dengan syarat semakin proffesional dalam bidangnya. Mudah2an ilmu yang dimiliki berguna bagi masyarakat luas.
  6. larasFebruari 23, 2007 pukul 3:49 pm
    Kayaknya profesi dokter emang di set untuk praktek ya cak…
    kalo prakteknya enggak laris manis ya rugi…uUpst!
    Btw kalau dokter forensik kedatangan pasien mbalah medeni….
    Mengingat dokter nakal yg hobi membobol kantong pasien (sembuh nomer seket)dijamin ada, maka tiap kali berurusan dengan rumah sakit saya cuma bisa berdoa mudah2an dipertemukan dengan dokter yg jujur dalam segalanya.
  7. cakmokiFebruari 23, 2007 pukul 4:10 pm
    @ sinung,
    Salam kenal juga Pak.
    Wah, gabar gembira untuk sejawat dokter, mudah-mudahan bukan isu.
    Maaf, saya sudah keluar sistem (boleh tidak boleh tetap keluar), karena di kota kami bidang kesehatan sudah terlalu jauh dipolitisir sehingga tujuan utama untuk memberikan layanan berkualitas hanya sebatas jargon belaka :D
    Jawaban untuk pertanyaannya:
    Selama ini, jasa medis (atau nama lain) ada, di luar komponen gaji. Saya dulu pernah mengusulkan ini. Besarannya tidak sama setiap daerah seiring kebijakan otonomi daerah. Bisa dimasukkan ke item Daftar Anggaran Satuan Kerja (DASK), jumlah totalnya sekitar 600 ribu per tahun. Resikonya mengurangi anggaran rutin.
    Akar masalah menurut saya tidak mutlak di komponen tambahan, tapi lebih ke arah kinerja.
    Kelemahannya, males atau rajin dapatnya sama dan ini akan menimbulakn dampak: yang males tambah males sedang yang rajin bisa ikut males.
    Kecuali dihitung berdasarkan beban kerja, inipun tidak mudah karena tolok ukurnya banyak variabel.
    Kalau saya cenderung swakelola, artinya pemilihan petugas berdasarkan kinerja, resikonya yang males harus rela out dari institusi pelayanan, mungkin bisa dipindah ke kantor yang tidak memberi layanan. Apa pemerintah berani ? :(
    Saya pernah melihat seorang dokter setelah meriksa 5 pasien, pergi terus sembunyi tidur. Lha yang beginian ini apa pantas menerima jasa kompensasi ?
    @ helgeduelbek,
    Sama pak, nggak ada beda umum maupun spesialis, termasuk antara spesialis satu dan lainnya. Yang membedakan hanya jenjang pendidikan, artinya spesialis apapun sama sepanjang jenjangnya setara.
    Reality: dokter yang senang keluyuran dengan yang serius dan rajin jugasama gajinya.
    Pendidikan gitu juga kan ? Saya juga prihatin nasib Guru, disuruh berkualitas tapi gajinya ngepress. Mestinya yang rajin dan punya tugas tambahan jangan dikasih piagam doang, ya minimal diberi rumah biar mengajar tenang :D
    Bedanya, dokter bisa praktek, dan kalo baik dianteri shodaqoh oleh pasien. Bilang teman saya, sudah didatangi masih diberi duit. Hahaha
    @ ndarualqaz,
    hehehe, sama-sama anak guru mas. Untunge spp saya di kedokteran hanya 45 ribu per tahun, jadi masih bisa bayar.
    Ponorogo mana ? Saya banyak kerabat di Kota Warok. Waktu tugas lapangan di Pulung, desa Patik sebelum Singgahan. Sudah ada listriknya belum ya. Gak ngenyek lho :D
    @ evy,
    Mending saya, gak ngontrak Mbak. Dapet rumah dinas panggung dari kayu beratap sirap, jadi kalo ada tikus seru, kayak pilm detektif.
    Ga pernah ketemu anak2 ? Kalo ketemu “anak mertua” tiap malam kan? :D
    @ grandiosa12,
    Ayo Mas, giliran dosen nulis gaji. hehehe
    Setuju, yang profesional mestinya dapat kompensasi setara.
    Kenyataannya yang rajin malah sering telat ngurus pangkat. Memble maupun profesional gajinya tetap sama :(
    Saya punya sepupu dosen sekolah s3 di Inggris, rajin, pinter tapi masih ngontrak nyelempit di gang. Uhhhh
  8. cakmokiFebruari 23, 2007 pukul 4:53 pm
    @ laras,
    Mungkin juga Bu. Tapi yang jelas sih diberi kesempatan praktek. Ada juga koq yang gak praktek, sebagian kecil para dokter yang di struktural adakalanya gak praktek. Mungkin gak kober.
    Kalo dokter menghitung untung rugi saat praktek, menurut saya dokter tersebut mungkin keliru. Gak perlu ngoyo, yang penting usaha pakai resep di atas dan harus telaten.
    Mudah-mudahan gak ketemu dokter nakal tukang bobol dompet Bu :D
  9. Tri AchmadiFebruari 23, 2007 pukul 5:04 pm
    Yang namanya PNS dimana-mana gajinya sama, baik itu guru, dokter, atau pegawai Pemda. Yang membedakan adalah penghasilan di luar gaji. Saat ini guru mempunyai tunjangan fungsional yang besarnya tergantung golongan, besarnya kira2 350rb/bln. Di daerah-daerah tertentu besarnya tunjangan ini bisa 2,5 juta lebih. (contoh DKI Jakarta) Selain itu guru yang menjadi wali kelas juga mendapat peghasilan tambahan.
    Kalau sertifikasi guru dah jalan (akan dimulai tahun ini), guru akan mendapat tunjangan profesi sebesar 1 X gaji pokok. Misal seorang sarjana menjadi guru PNS dengan golongan III/a dengan gaji pokok kira-kira 1,2 juta + tunjangan profesi 1,2 juta. Total 2,4 juta.
    Sementara untuk dokter yang baru jadi PNS, golongannya III/b (bukan III/a). Gaji pokok sekitar 1,4 juta. Pendapatan lainnya saya kurang tahu persis. Berdasarkan pengalaman istri saya yang pernah jadi dokter PTT di RSUD, selain dapat gaji setingkat PNS baru gol III/a, juga dapat penghasilan tambahan resmi kira-kira 1,5 X gajinya. Jadi dokter PNS baru penghasilannya bisa diatas 3,5 juta. Kalau ditambah praktik sendiri penghasilannya bisa menjadi sangat luar biasa. Yang menjadi masalah kalau ada dokter yang bukan PNS, tapi pasien dari praktik sendiri sepi!!!!
  10. cakmokiFebruari 23, 2007 pukul 5:35 pm
    @ Tri Achmadi,
    Selamat untuk Guru, moga cepat terealisasi. Ada salah satu Kota di provinsi kami (kaltim) yang sudah memberi tunjangan Guru memadai. Tiap kota nggak sama, tergantung kebijakan Kepala Daerah nya.
    III.b ya, hehehe dah lupa, trims sudah saya update.
    Hebat tuh istrinya bisa lebih 3,5 juta per bulan. Itu sih tergantung kebijakan masing-masing RSUD dan Pemda/Pemkot/Pemprov setempat.
    Saya yang 20 tahun dan merasakan nikmatnya satu-satunya transport goyangan perahu di Mahakam, seperti di atas itu (2,7 jt). Untuk saya gak masalah, wong dulu 110 ribu (itupun diterima 8 bulan kemudian) juga tetep enjoy :D
    Pernah tahu dokter PTT di pedalaman ? Hiyyy, gajinya harus ambil di kota lewat sungai. Untuk ambil gaji aja mereka harus keluar uang tidak sedikit. Tunjangan mereka tidak sebesar istri bapak. Setelah PTT pun sulit mendapat tempat, akhirnya seperti yang bapak gambarkan itu. Lontang lantung, praktek sepi. Itulah keluhan temen-temen pasca PTT dari pedalaman :(
    Trims kunjungannya. Semoga sukses
  11. anisFebruari 23, 2007 pukul 7:14 pm
    di puskesmas istri saya, gaji tertinggi sekitar 2,7 juta, seorang dokter gigi golongan IVA (yah..berarti memang udah lama banget kerja pokoknya). Kepala puskesmasnya, juga dokter, meskipun sama-sama IV A gajinya hanya 2,2 jutaan karena tunjangan struktural sebagai kepala puskesmas hanya sekitar 300ribuan. Istri saya, dokter, IIIB, masa kerja baru 4 tahun ya sekitar 1,5 jutaan. Itupun sudah termasuk tunjangan suami (yang non PNS) dan anak. Alhamdulillah, saya tiap bulan mendapat tunjangan dari istri….
  12. Dani IswaraFebruari 23, 2007 pukul 7:29 pm
    semoga mjd lbh baik lg..shg subsidi saya jg ikut lancar :D..maklum..mahasiswa..
    kl PTT-nya dipenuhi oleh daerah (gemana dg daerah yg krg mampu ya..) dgn imbalan yg sesuai (ah lg2 ‘pengabdian’..), semoga jg para dokter tetap mengedepankan kemanusiaan..
    ‘tabungan’ kan gak cuman di dunia nyata..
  13. AdyFebruari 23, 2007 pukul 8:08 pm
    Sepertinya saya pernah dengar di berita di TV kalo gaji PTT sekarang tinggi terutama yang di daerah terpencil dan sangat terpencil.. Kalo ga salah untuk daerah terpencil dapat gaji perbulan 1,750 juta dan sangat terpencil 2,1 juta + 7 juta (tunjangan PTT daerah terpencil dan sangat terpencil) cuma kontraknya 1 tahun saja.. Mohon kalo ada yang punya info tentang ini dibagi apa masih issue atau sudah berlaku.
  14. fertobhadesFebruari 23, 2007 pukul 10:23 pm
    Kalau gaji dokter yang “bukan PNS” kira-kira berapa ya Pak ?
    Saya pernah ngantar ortu ke RS Jantung Harapan Kita, dan kliniknya dibedakan jadi 2 : Klinik Umum dan Eksekutif. Dan yg saya lihat di daftar dokter praktek, ada dokter2 yg praktek di Eksekutif (atau apalah namanya) yg nggak ada di Klinik Umum. Emang sih rata-rata udah Profesor atau sederet gelarnya :-) Kira-kira berapa ya gaji mereka ?
    *katanya PNS kan mengabdi, Pak ?* :-)
  15. cakmokiFebruari 24, 2007 pukul 1:27 am
    @ anis,
    Struktural dan fungsional, nggak pernah selesai ya. Saya dulu milih fungsional nggak boleh, jadinya tunjangan kalah tinggi, mana naik pangkatnya 5 tahun sekali belum termasuk telatnya.
    Hahaha, 1,5 juta ? Nunjang suami ? Koq yo melas tho. Pengabdian !!!
    Makanya saya nggak rela kalo kesehatan dipolitisir apalagi oleh petinggi kesehatan sendiri.
    Berarti tulisan saya perlu ditambah kadar kepedasannya ya :D
    @ Dani Iswara,
    semoga mjd lbh baik lg… Saya trenyuh mendengarnya.
    Subsidi kayaknya tergantung daerahnya. Saya pernah dimintai tolong membuat rincian biaya untuk S2 karena bilang temen-temen sebelumnya pas-pasan. Halah pengabdian lagi, sampai pensiun ? :( Itu jawaban ts kalo saya bilang pengabdian.
    Saya hanya bisa mendo’akan dari jauh:
    Semoga sukses dan banyak tabungan di dunia nyata dan “nanti”
    @ Ady,
    Maaf mas Ady, saya nggak punya info seindah itu, moga aja benar.
    Kapan sih, sekarang ? Nanti-nanti ? Atau mudah-mudahan ?
    Hehehe, sekedar info: kemarin saya nguruskan slip gaji mantan staf yang baru lulus SpA di sebrang kaltim untuk mbayar pajak. Gaji per bulan adalah: 900 Ribu :(
    Tentang 7 juta, ntar saya cari info ya
    @ fertob,
    Gaji dokter yang bukan PNS saya tidak tahu Pak, temen-temen gak pernah ngasih info. Rahasia kali. Biasanya tergantung di institusi mana dia bekerja. Tiap RS beda-beda.
    Kalo RS elit sekelas Harapan Kita mungkin gajinya lumayan segaaar.
    Apalagi profesor, nggak berani nanya dong :D
    Teman-teman yang spesialis di RS elit nggak pernah ngaku soal gaji, mungkin sekali waktu akan saya tanya.
    Ya betul, PNS harus mengutamakan pengabdian. Sayapun selalu mengucapkan kata itu jika teman-teman yang dari pinggiran hutan berkeluh kesah.
    Tapi ketika mereka mengatakan bahwa di pelosok tempat bertugas gak ada TK untuk anaknya, SD yang amat sangat minim, rasanya hati teriris juga :(
    Tapi kita boleh sedikit berbangga Pak, diantara dokter-dokter yang jauh dari hiruk pikuknya kendaraan dan terang benderangnya lampu, masih ada koq yang berjiwa pengabdian walaupun kehidupan mereka tak jauh beda dengan warga sekitarnya.
    Di kota, di pinggir kota atau di manapun juga sama, ada yang pengabdian. hehehe *membela diri*
  16. anisFebruari 24, 2007 pukul 3:51 am
    kalo gak salah nih…survei prof Laksono Trisnantoro dan dr Andreasta Meliala tentang pendapatan dokter di Jogja menemukan: rentang gaji dokter (baik umum dan spesialis) antara 3-30an juta. Bagi yang PNS, gajinya saya kira sama. Selebihnya tergantung entrepreunership masing-masing. Yang tertinggi jelas spesialis. Tetapi tidak semua spesialis akan makmur. Spesialis kulit yg bertugas di RSUD jarang memiliki pasien rawat inap, jadi pendapatannya sebagian besar (atau hanya?) dari rawat jalan. Ini akan sangat berbeda dengan spesialis lain, apalagi yang 4 besar.
  17. prayogoFebruari 24, 2007 pukul 7:08 am
    Mungkin memamng semuanya nggak akan pernah cukup, tetapi satu hal yang harus kita tanamkan pada diri kita, yakni bersukur. Bersukur dengan semua karunia yang telah Allah berikan kepada kita.
    Gaji seratus di sukurin, gaji sejuta di sukurin, gaji satu miliar di sukurin, dan nggak gajianpun di sukurin.
  18. Kang KomborFebruari 24, 2007 pukul 7:20 am
    Itu kan kalau gaji PNS-nya, Dok. Di RSUD kan juga ada biaya konsultasi (biaya dokter), itu lari ke mana ya? Mosok nggak ada yang nyangkut di saku dokter?
    Kalau gaji dokter seperti yang digambarkan Cakmoki, saya jadi maklum kalau banyak dokter yang ngobyek praktek di mana-mana. Bukan untuk melayani masyarakat tapi buat tambah beli segenggam berlian. Gaji cuma cukup buat nempus berar thok jeee…
  19. ndarualqazFebruari 24, 2007 pukul 9:43 am
    cak moki ternyata juga pernah nyanthol di ponorogo tho? saya sumoroto cak. kalo pulung itu timur, saya barat (di peta jawa ada lho nama kecamatan saya, malah di google earth juga kelihatan.
    pak sekarang pulung sudah jadi wilayah maju pak. listrik sudah masuk sejak lama, sudah ada pabrik kelas menengah, sekolahnya lumayan maju, pokoknya beda sama dulu (bapak saya pas dinas ngajar pertama juga di pulung. bahkan saya juga hampir lahir di sana).
    pernah main lagi ke pulung gak cak. orang pulung itu tipe orang yang suka nginget orang, apalagi orang yang membantu masyarakat, dan dokter yang pernah praktek di sana pastidi ingat sama warga dan disambut. (bapak juga masih sering main ke sana dan selalu disambut, padahal sudah 12 tahun lalu)
  20. Saiful AdiFebruari 24, 2007 pukul 10:06 am
    Nasip guru, dosen n dokter hampir sama: kalo hanya mengandalkan gaji dan tunjangan lainya di kantor orang luar indonesia (seperti malaysia) akan kaget kok bisa hidup ya. Tapi kita yakin aja dah, Yang Maha kuasa akan cukupi kita.kalao ga ngingat kesana bisa stress trus bisa deh kita. ya ga..?
  21. cakmokiFebruari 24, 2007 pukul 10:07 am
    @ anis,
    pendapatan dokter di Jogja 3-30an juta. Ini gaji apa total pendapatan termasuk gaji ? Kalau pendapatan, yang kisaran 3-5 juta sama dengan gaji karyawan Perusahaan Aspal Curah dan sama dengan tukang cukur tetangga saya. Iya, menurut ts spesialis kecil tanpa visite, bilangnya agak ngenes. Malah yang di Surabaya temen-temen praktek ke luar Kota.
    Walupun begitu kan tetap “dianggap” kaya tho ? Hahaha
    @ prayogo,
    Iya Pak, kami tak lupa bersyukur dan mudah-mudahan tambah bersyukur :D
    @ Kang Kombor,
    Betul Kang, jasa di RSUD lari kemana ? Ah Kang Kombor ini bisa aja, sengaja mancing-mancing supaya saya nulis “area sensitif” ya :D
    Pertengahan tahun lalu saya diminta Sekda membuat draft Sistem Pengelolaan RSUD secara transparan dan akuntabel, sudah selesai. Kulitnya sudah saya posting. Dengan dorongan ini saya pertimbangkan untuk lebih terbuka, supaya khalayak juga tahu.
    Uang konsul konon tergantung “pihak manajemen”. Beberapa spesialis yang saya tanya di RSUD Samarinda, Jember, Surabaya dan Magelang ternyata jasa visite dipotong. Untuk klas III si dokter dapat 3.000 (tiga ribu) sekali visite. Yang lain belum tahu.
    Sebenarnya semua diatur perda, tapi kebanyakan biaya melambung. Postingan lama ada menyinggung soal ini
    Kalau saya dulu dapat Rp5.000,- untuk sekali konsul mendatangi pasien yang perlu di cek atau gawat, misalnya malam hari. Kalo 2 kali konsul pasien yang sama dalam sehari tetap 5000 (ada perda dan kuitansinya). Kalo jam kerja ya gak ada dong. Jadi kalo ada 20 konsul malam, dapat Rp100.000,-. Namanya enjoy, uang gak begitu masalah, yang penting bisa nolong dan pasiennya disembuhkan Tuhan YME.
    Terlepas dari masalah besaran rupiah, saya tetap tidak setuju jika dokter ngobyek di saat jam kerja, lalu meninggalkan tugas utama. Apalagi nambah koleksi berlian untuk pameran. Apalagi nggak ngurusi masyarakatnya. Menjadi dokter ya harus mengutamakan layanan.
    Tapi ini pendapat saya lho, dokter yang di Blog sepertinya sama.
    Paling tidak, diskusi di postingan ini bisa diketahui pembaca, seperti itulah kira-kira gambaran dokter. Dan bagi dokter yang sempat membaca, moga jadi bahan renungan, yang suka bersyukur mudah-mudahan tetap bekerja serius dan menikmati berapapun rejekinya, sedangkan yang suka ngumpulin uang melulu mudah-mudahan cepat kaya. Eh, satu lagi, tetap ngeblog ding. Hahaha
  22. cakmokiFebruari 24, 2007 pukul 10:27 am
    @ ndarualqaz,
    Wah hebat, syukur sudah maju, berarti telaga Ngebel tambah ramai. Kalo Ponorogo agak hapal dong, apalagi Sumoroto, Jenangan, Slahung dll. Kami ke sana (semacam KKN, dulu namanya CM: community medicine) dari tingkat III sampai tingkat V sewaktu belum jadi dokter muda (ko-as), setiap 6 bulan sekali selama 2 minggu. Tahun 1982-1983. Iya saya salut warga Ponorogo, mantan carik Singgahan ketemu di Kaltim masih ingat, malah saya agak lupa (malu). Terakhir ke Ponorogo tahun 2002, sayang gak sempat ke Pulung. Jadi inget “sate ayam” :D
    @ Saiful Adi,
    Iya Pak betul, orang tua saya juga guru, apalagi dokter kan masih bisa praktek. Dan yang penting, masih bisa ngeblog. Hehehe
  23. senyumsehatFebruari 24, 2007 pukul 12:42 pm
    Buat yang ingin tahu penghasilan spesialis
    Pengalamanku waktu kerja di RSUD, gaji sih sama aja spt golongan 3C lainnya. Jasa medis tgtg pasien2 yg di operasi. Nah pasien ini rata2 kelas 3, biayanya tgtg kasus, kasusnya di golongkan operasi ringan, sedang, besar atau khusus.
    Contoh operasi khusus rahang atas dan bawah patah dan harus dibuka (open reduksi)lalu dipasang plat dan screw, itu aku cuman di bayar 900 ribu, pasien pernah minta keringanan, aku ga ngerti tadinya kalau RS nge-charge sampai 42 jt…so sad, pasien tahunya itu buat dokternya padahal itu biaya perawatan, obat2an dsb.
    Klo pasien sumbing, malah aku terpaksa ngemis2 ke yayasan karena tetep kudu bayar RS,aku ga tega nolak pasien lagian aku happy ngelihat hasilnya stlh satu jam, ngalahin bayaran seberapun. Nah tapi dulu waktu aku kerja di jkt kita boleh kerja di beberapa RS, aku jd konsultan di 2 RS Swasta dan di beberapa tempat praktek. Di RS swasta colek2 dikit ambil M3 bayaranya bisa dua kali lipat operasi besar di RSUD, kenapa aku tetep kerja di RSUD, ya aku pikir hidup kudu seimbang bergaul dan berbagi ke org susah penting untuk membuat hati tetap sehat.
    But anyway kalau di bandingkan suamiku yg sekolah tehnik di universitas cap gajah cuman 4 th lulus, kerja di perusahaan asing, aku kuliah 12 th ditambah ke Jerman bolak balik total 15 th, penghasilanku masih ga ada apa2nya…, jd sekali lagi seperti cak Moki bilang dokter bukan pilihan untuk cari uang, kalau ga seneng dan menikmati jangan jd dokter. kalau di US lain lagi, tp ntar kepanjangan critanya…
  24. cakmokiFebruari 24, 2007 pukul 3:30 pm
    Operasi khusus, dokternya 900 ribu, habisnya pasien 42 juta ?
    Perawatannya obat dll, 41 juta yo. Wah itu pihak manajemen RSUD perlu ditanya Mbak. Perawatan opo tho ?
    Mungkin termasuk Mijet, Spa, Keriting, mandi lulur, mandi susu, bilas wajah (opo sih namanya), antar jemput helikopter. Hiyyy bisa jebol dompet pasien. Yang tertuduh operatornya. Hehehe, nasib :D
  25. tukangkomentarFebruari 24, 2007 pukul 8:20 pm
    Servis all in? Ooops, maaf, pikiran saya nggak kotor lho! Cuma kecewa, jengkel dan apa aja dah. :)
  26. cakmokiFebruari 25, 2007 pukul 12:17 am
    @ tukangkomentar,
    Hehehe, sekali-sekali mbahas gaji dokter pns Pak. Konon urusan di depkes paling ruwet dan gaji paling kecil se Asia Tenggara.
    Mau nulis RSUD belum tega terkait servisnya yang super slow :)
  27. tukangkomentarFebruari 25, 2007 pukul 1:20 am
    Cakmoki:
    dua hal yang termasuk paling penting untuk negara dan bangsa diabaikan dan disia-siakan, ini yang bikin jengkel saya. Yaitu: Kesehatan masyarakat dan pendidikan.
    Quo vadis?
    Sesudah adaptasi (tahun 86-an) saya pernah kerja jadi dokter umum di sebuah RS Swasta. Gajinya? Minta ampun juga. Saya waktu itu cuma mampu nyewa rumah yang belum jadi (tembok belum dilabur dsb.) dan itupun bersama dengan 2 mahasiswa yang lebih miskin dikit dari saya. Seneng kalau saya beberapa bulan sekali dapat tunjangan beras (yang saya berikan ke pak Satpam yang punya anak banyak, yang kadang nganter saya pulang naik sepedamotornya yang sudah tua).
    Untung ada yang mbantu sedikit, jadi lumayan.
  28. EvyFebruari 25, 2007 pukul 1:37 am
    41 juta seratus ribunya, buat bayar kamar operasi, bayar rawat inap klas 3 lho katanya ucman 5 ribu sehari, tapi bayar plat dan screw, obat2an, kabeh wis markab, embuhlah pak, aku ga mudeng ndelok bill pasien, operator ming sak cuplik, lha kok tenagane diperes temen…hiks
  29. cakmokiFebruari 25, 2007 pukul 2:32 am
    @ tukangkomentar,
    Jadi dulu sempat ngontrak “rumah sangat sederhana, sempit, setengah jadi” ya, hehehe. Koq ya melas tho Pak :(
    Berarti saya mendingan, dapat rumah dinas kayu, persis kotak sabun, gak ngontrak selama 8 tahun. Air sumur agak butek, jalan tanah, jauh tetangga, banyak ular. Pokoke siiiip.
    Dulu bisa memaklumi, tapi sekarang era otonomi yang konon lebih maju, ternyata sejawat yang baru masih mirip saya dulu.
    Sarana Kesehatan dan Pendidikan memang lumayan di Kota, tapi di pinggiran bisa menitikkan air mata ketika melihatnya. Mana mungkin mau memperhatikan pelaksana lapangan, nuwun sewu, kami sudah kenyang diberi setumpuk penghargaan berupa kalimat: “pengabdian” *halah*
    Kenangan tersebut mendorong kita untuk ikut memperjuangkan nasib teman-teman generasi berikutnya agar tidak mengalami seperti kita-kita. Hanya diperintah kerja optimal tanpa sarana memadai, sama saja disuruh ngapusi pasien.
    Tulisan di sini dibaca pejabat kesehatan kota kami koq Pak.
    Jadi saya tulis pedas dan apa adanya biar kroso. Hahaha
    @ Evy,
    Ternyata kebanyakan kita-kita ini kerja bakti ya.
    Yo yo, mugo-mugo akeh pahalane Mbak. Amiiinnnnn :D
  30. tukangkomentarFebruari 25, 2007 pukul 3:37 am
    Mas Cakmoki,
    ini saya tambahi biar kerasa pedasnya:
    Cari pejabat yang sholat susah, tapi cari pejabat yang (rajin) bekerja (untuk rakyat) mungkinkah itu???? :)
  31. anisFebruari 25, 2007 pukul 6:16 am
    cakmoki:
    Ini gaji apa total pendapatan termasuk gaji ? Nampaknya pendapatan. Nanti saya tanya kepada beliau2nya deh. Soalnya, yang disurvei pun bervariasi. Mulai dari yang baru lulus (yang praktek sambil neploki nyamuk) sampai dengan yg udah karatan praktek dokter.
    evy:
    …seperti cak Moki bilang dokter bukan pilihan untuk cari uang, kalau ga seneng dan menikmati jangan jd dokter Artinya, kalo sudah jadi dokter, merasa miskin terus dan tidak menikmati lebih baik pindah profesi lain? Jangan-jangan pernyataan tersebut jadi alasan bagi mereka yang mempekerjakan dokter untuk memberikan gaji di bawah kepantasan tanggung jawab profesi. Btw, kalau dokter di RS pemerintah dituntut pasien dan kebetulan disuruh ngganti rugi, yang ngganti pemerintah atau dari duitnya sendiri?
  32. minaFebruari 25, 2007 pukul 7:16 am
    wah, cakmoki ngomongin masalah sensitif. gaji PNS di Indonesia memang menyedihkan. dulu saya suka cari tambahan dengan praktek di mana-mana, sampe capek sendiri, cuma kan ya waktu itu masih imut2 :D sekarang? secukupnya aja lah, sudah capek, asal bisa ke jogja beberapa bulan sekali *hehehe* btw nis, aku ke jogja bulan depan, dititipi ambil formulir SIMKES (bukannya ada di situsnya ya) -lah kok bilangnya di blognya cakmoki ya?
    nis, jadi kamu tu bukan PNS ya? lalu yang di UGM itu? dosen “luar biasa”? :D
    pertama2 mau bilang: cak, itu slip gaji jaman jebot masih disimpan???
    tentang PNS:
    gak sukanya PNS, aturan naik pangkatnya ribet sekali, terlalu administratif. harus ngopi SK banyak2, lalu minta ttd dekan di tiap kopian SK, belum dibolak-balik oleh tim penilai jumlah angka kredit, belum lirik2 menyeramkan dari bagian kepegawaian yang belum lagi kita anik pangkat sudah minta dikasi duit, belum bagian kepegawaian rektorat yang sama sadisnya (kami ngurusin ke lain kota lo bu, SK ini -lah kalo males ngurusnya, ya sini saya saja), kalo dikasi duit dikit, ntar naik pangkat berikutnya dibiarin tu berkas2 berbulan2 di meja gak dianggep. saya jadi malas naik pangkat. sudah gitu naiknya tunjangan fungsional gak sesuai dengan usaha dan duit yang diminta bagian yang ngurus.
    @drg evy, menurut saya, di antara seluruh dokter, yang penghasilan terbesar setelah praktek tu dokter gigi hehehehe…. kan selalu ada tindakan tuh. minimal bersih2… :D
  33. cakmokiFebruari 25, 2007 pukul 9:33 am
    @ tukangkomentar,
    Jan pedas tenan Pak :D
    Mungkin saja, siapa sih yang tahu seseorang sholat apa enggak?
    Rakyat pun sudah bosen dicekoki kata-kata indah, mereka (termasuk saya rakyat juga) menghendaki pimpinan yang rajin bekerja untuk rakyat.
    Tapi mungkin saja ada yang senang diceritani mimpi-mimpi (???) :(
    @ anis,
    Yuk survey, dijadikan makalah atau surat terbuka. Ramai deh, ntar kita malah dikira nuntut, nggak pengabdian.
    Praktek di Jogja kalo pendapatan misalnya 4 juta opo yo cukup Pak.
    Belum bayar kontrak tempat praktek, bayar yang bantu-bantu. Lima tahun lagi anak dokter ada yang di bawah garis merah :(
    yang praktek sambil neploki nyamuk, hehehe saya pernah ngalami itu ditambah suara kodok ngorek. Syukur, sekarang diteploki duit mambu lengo klentik *nggaya*
    @ mina,
    Sudah terlanjur buka dapur. Maksudnya bukan menghiba, khalayak kan perlu tahu juga, mau nanya segan, dibukak pisan saja.
    pertama2 mau bilang: cak, itu slip gaji jaman jebot masih disimpan???.
    Yang nyimpan bendahara Mbak, itu lho yang amplopnya kertas buram dan kertas coklat untuk layangan, masih rapi dibundeli pertahun. Saya sebetulnya kudu ngguyu :D
    Urusan naik pangkat sama, disolap salip, akhirnya males ngurus. harus ke Jkt-lah, mending ngeblog.
  34. arifkurniawanFebruari 25, 2007 pukul 5:01 pm
    Waduh, dokter dengan pengalaman bertahun-tahun seperti itu? Ya Ampun… Gimana kalau hidup di JKT yaaa Pak?
  35. martaFebruari 25, 2007 pukul 7:42 pm
    dok, kalo yang pernah saya wawancarai, dokter forensik memang tidak dapat praktik sesuai spesialisasinya. Tapi narasumber saya itu praktik sebagai dokter umum. Dan saya pikir kalo tidak dari sana, dia mungkin juga mengalami kesulitan atur kebutuhan hidup bulanannya.
    Kan forensik itu bukan lahan ‘basah’ bagi dokter. tidak mendapatkan duit. di RSU Dr Soetomo saja, dari tahun 1997-sekarang hanya ada delapan dokter PPDS.
  36. cakmokiFebruari 26, 2007 pukul 6:25 am
    @ Arif Kurniawan,
    Tidak seperti yang digambarkan kebanyakan orang ya ?
    Di Jakarta kata teman saya tunjangannya lebih tinggi Pak, mungkin disesuaikan dengan biaya hidup setempat. Itupun harus nambah waktu ekstra, di luar jam dinas kerja di klinik-klinik untuk tambahan.
    Kalo saya nikmat di ndeso. Hahaha
    @ marta,
    Betul Mbak, hal itu bisa dimaklumi. Sama halnya yang ahli anatomy dan sejenisnya, walau Profesor tetap praktek umum.
    Wah menyedihkan, sepuluh tahun hanya 8 PPDS. Kebalik dengan Pediatri, yang daftar tiap tahun belasan ya :D
  37. rajaiblisFebruari 27, 2007 pukul 1:18 am
    hiks …
    kalo dah bicara soal standar mutu selalu dikaitkan dengan keprofesionalitasan … ala modern … ala amerika … ala eropa … dan ala-san lainnya …
    namun kalo dah bicara soal honor … masih suka berkelit dengan ngebilang ala kadarnya …
    wakkkkakaaaa …
  38. cakmokiFebruari 27, 2007 pukul 1:36 am
    @ rajaiblis,
    hiks, standar mutu berubah-ubah sesuai selera yang bikin.
    hiks, honor suka-suka yang pegang palu.
    Honor gak honor yang penting, enjoy dan ngeblog. hahaha
  39. juliachFebruari 27, 2007 pukul 2:39 am
    Percaya deh, soalnya adik-adik mami + banyak saudara-saudara yg jadi dokter dibuangnya di ujung dunia : Ambon, Irja, Way Kanan. Waduh kalo mau berkujung, perjalanannya aja bisa lebih dari sehari.
    Belum kalo buka praktek sendiri, sering dibayar pakai hasil bumi.
    Sungguh salut & selamat berjuang!
  40. rajaiblisFebruari 27, 2007 pukul 3:22 am
    pernah kebayang gak …
    iblis juga capek dan bosen ngegoda manusia …
    cuma karena itu perintah dari tuhannya …
    mana sanggup iblis nolak …
    apalagi dokter … nafsunya gede …
    wakkakakaaa …
  41. cakmokiFebruari 27, 2007 pukul 4:14 am
    @ juliach,
    Terimakasih supportnya Bu.
    Saya krasan di ndeso, uenaak tenaannn :D
    @ rajaiblis,
    Gimana nih kalo rajanya iblis capek nggoda, padahal itu kan kerjaan wajib. Banyak honornya nggak ?
    Yang gede-gede itu keberhasilan rajiblis. Selamat ya :(
  42. juliachFebruari 27, 2007 pukul 5:31 pm
    Ajak semua dokter seluruh Indonesia Raya unjuk rasa, misalnya dengan menempel di punggung/dada/dinding tulisan “DOKTER/PARAMEDIS PNS MINTA KENAIKAN GAJI + KESEJAHTERAAN” dan tetap bekerja spt biasa jadi tdk meninggalkan servis.
    Kalau bisa plus petisi dr masyarakat.
  43. rajaiblisFebruari 27, 2007 pukul 8:48 pm
    @cakmoki
    biarlah itu menjadi “deal” khusus antara raja iblis dan penguasa jagad !
  44. Ine.. rahmawatiFebruari 27, 2007 pukul 10:36 pm
    ass.
    begini nih, sy baru kelas 3 SMA jurusan IPA.. dan sebentar lagi mo lulus..
    pengennya masuk jurusan kedokteran…tapi takut nggak menguasai materi yang di ajarkan,, karena nilai kimia saya nggak bagus2 amat nih! kira2 bisa ngga ya masuk kedokteran ? n menguasai materi.. karena di desa saya belum ada Dokter yang tinggal disana!
    wass.
  45. cakmokiFebruari 28, 2007 pukul 2:35 am
    @ juliach,
    Untuk paramedis mungkin cocok, kalo dokter ntar diketawain orang Bu.
    Lagian sepertinya gak sempat. Pernah ada demo paramedis RS swasta di kota kami karena gajinya 750 ribu perbulan. Itupun dikecam. Uang segitu tiap hari bisa makan sayur kangkung, hik
    @ rajaiblis,
    Tumben nih rajaiblis gak mau buka rahasia. Iya deh, dah maklum, jangan godain saya ya, hiiiyyyyy.
    @ Ine..rahmawati,
    jika ingin masuk kedokteran, jangan lupa niatnya memberikan pelayanan.
    Syarat pertama tentu harus lulus test. Berikutnya, rajin dan belajar setiap hari (jangan nunggu ujian).
    Nah mulai sekarang belajar, belajar, belajar, selanjutnya ikut test.
    Tentang materi kedokteran sama dengan ilmu yang lain, tidak ada yang istimewa. Asalkan punya minat dan rajin tentu bisa menguasai.
    Selamat belajar ya, semoga sukses
  46. PaijoMaret 1, 2007 pukul 11:07 am
    Bicara gaji, saya bersyukur hari kemarin barusan naik gaji dan terima bonus juga tapi belum sempat ambil slipnya. Biar gaji kecil, yang penting saya bersyukur dulu karena banyak orang lain yang tidak punya pekerjaan. Terimakasih dan salam eksperimen.
  47. andreMaret 6, 2007 pukul 4:33 pm
    Cak Moki,
    dokter yang bergaji kecil belum tentu take home pay-nya rendah, apalagi dokter yang bekerja di Pulau Jawa (pada area tertentu)dan daerah spesifik lain.
    Kalo ada dokter gajinya kecil dan THP-nya kecil, saya bisa langsung prediksi, bahwa dokter tersebut salah pilih mertua…ha..ha..ha..Karena pasti karakteristiknya sbb: dokter umum, umurnya mid ages, tinggal di daerah remote, PNS (too long..).
    Atau dokter ini karakteristiknya unik: cinta tanah air, jiwa sosial kuat, berani membela rakyat kecil dan sangat perduli dengan surga.
    Tapi jangan kuatir, gaji dokter kecil juga terjadi di Vietnam, Kuba, dan beberapa negara lain. Eehh..jangan salah lho, besarnya pendapatan dokter tidak ada hubungannya dengan status kesehatan masyarakat. Belum tentu daerah yang memberikan pendapatan tinggi untuk dokter, status kesehatannya tinggi juga. Gak percaya? Coba dicek….
    Salam,
    Andre
  48. rajaiblisMaret 6, 2007 pukul 9:53 pm
    saat para dokter “berdoa” …
    ya tuhan … berilah kami rezeki yg berlimpah …
    maka pada saat itu pulalah … manusia yg laen jatuh sakit …
    wakkkakkaaa …
  49. cakmokiMaret 7, 2007 pukul 12:16 am
    @ paijo,
    Ya Pak, yang penting bersyukur
    Gaji besar tanpa rasa syukur bisa-bisa malah menguap.
    Salam ber-eksperimen
    @ andre,
    Soal gaji emang sangat relatif ya.
    Eehh..jangan salah lho, besarnya pendapatan dokter tidak ada hubungannya dengan status kesehatan masyarakat
    Gak mau membuktikan ah, ntar malah ketahuan hasilnya, digaji gede kesehatan masyarakatnya memble, hahaha.
    @ rajaiblis,
    Hahaha, do’anya salah tuh, gimana kalo diganti:
    Ya Tuhan, berilah kami rejeki yg bermanfaat di dunia dan akhirat …
    Berilah kami, keluarga kami, anak cucu kami dan bangsa kami, kesehatan dan keselamatan.
    Gimana, setuju ?
  50. rajaiblisMaret 7, 2007 pukul 9:14 am
    mmmhhhh …
    kalo semua manusia pada sehat …
    kira2 dokter masih diperlukan lagi gak ya ?
    wakakkakkakaa …
  51. cakmokiMaret 7, 2007 pukul 3:49 pm
    @ rajaiblis,
    Kalo memang sehat semua, bukan dokter gak laku, tapi lebih tepat gak perlu dokter. Lha yang terlanjur jadi dokter, banting stir ganti jualan sembako. Hahaha
  52. klikharryMaret 11, 2007 pukul 6:47 pm
    gaji dokter pns di indonesia memang masih sangat rendah, hal ini justru mengakibatkan dokter tidak dapat sepenuhnya mengabdi, akibatny ya mencari sampingan di tempat praktek
    terutama dokter yang juga berprofesi sebagai pendidik dan periset, yang tidak dapat menjadi seorang pendidik profesional karena terbatasnya gaji dan tunjangan yang diberikan
  53. cakmokiMaret 11, 2007 pukul 8:02 pm
    @ klikharry,
    Pilihan yang sulit ya
    Walaupun demikian, keduanya bisa dilakukan sepenuh hati.
    Sebagai pns tetap sepenuh hati, praktek juga sepenuh hati.
    Menurut sejawat yang jadi pendidik dan periset, bilangnya memang agak berat, seperti yang Mas Harry tulis itu, konon seperti di persimpangan.
    Semoga di masa mendatang ada perbaikan.
  54. doblehMaret 12, 2007 pukul 7:14 pm
    kalo menurut saya sih besaran gaji tergantung kita, kalo dokter mesti mengejar prestige penampilan tinggi, emang jatuh2nya nanti hutang sana-sini, tunggakan kartu kredit,etc. wong saya sudah PNS IV B dokter umum masih suka pake angkot/ bis kemana2 walau udah punya kereta roda 4 dan roda 2 di rumah,lha yang penting kita cari harta halal jangan korupsi tapi ditabung buat biaya sekolah lagi yang notabene investasi buat anak2 kita,anakku wis 2 orang, istri saya juga PNS, dan kami sama2 dari keluarga tak berpunya alias kaum miskin kota, masuk PNS gak pake duwit, cuma modal semangat, prestasi, yang bikin pejabat simpati dan luluh hatinya liat ketabahan kita, trus mbantu kita jadi PNS (he2 ada KKN nya juga), lha wong gimana gak luluh, aku kuliah di universitas top
    Indonesia tapi masih nyempet2in cari duit najar privat, jadi porter hotel, etc2, lha wong kuliah kedokteran itu cuapeknya minta ampun mas…..
  55. cakmokiMaret 13, 2007 pukul 12:17 am
    @ dobleh,
    udah punya kereta roda 4 dan roda 2 di rumah = keluarga tak berpunya alias kaum miskin kota ?. Hehehe, nanti dikira gak bersyukur lho.
    Apa ada dokter masuk PNS harus bayar ? Seingat saya, dulu malah dibayari. Sebelum inpres dipanggil ke Jakarta, prajabatan, terus dikirim ke daerah diberi uang saku. Apalagi kalo IV.B, berarti kan di atas saya, atau sayanya yang langganan telat ngurus pangkat.
    Setujuuu, selalu bersyukur dan cari yang halal.
    Selamat berjuang.
  56. TylesMaret 15, 2007 pukul 12:14 pm
    Saya cuma membandingkan aja pns di Indonesia dan di luar negeri. Teman saya pns kontrak di kuwait yang hanya seorang paramedis aja dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…
    Tapi ga papa emang rejeki sudah ada yang mengatur
  57. cakmokiMaret 15, 2007 pukul 2:43 pm
    @ Tyles,
    dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…
    Memprihatinkan.
    Setuju, rejeki dah ada yang ngatur dan kita tetap berusaha. Ya kan?
  58. raja iblisMaret 22, 2007 pukul 12:33 pm
    @ Tyles,
    dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…
    ya sudah … mari ramai2 ke kuwait !
    atu bila perlu suruh amerika ngebom kuwait lg …
    biar dokter di indo bisa ‘ngobyek’ ke sono …
    wakkkkakkaa …
  59. siNungMaret 24, 2007 pukul 3:49 am
    berita gembira :)
    http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=134466
    Rabu, 14 Maret 2007
    Pemerintah Tambah Insentif Dokter Spesialis
  60. cakmokiMaret 24, 2007 pukul 4:49 am
    @ siNung,
    Hehehe, semoga para ts spesialis terpacu untuk ke daerah (sesuai alasan ditambahnya insentif).
    Apa mau ? Kebanyakan ke daerah sebentar sebagai batu loncatan, trus mintah pindah ke kota, menumpuk di kota, akhirnya harapan layanan spesialis di daerah tinggal kenangan.
    Maaf, hanya kekhawatiran saja.
    Bagaimanapun tetap berita gembira, setidaknya ada perhatian pemerintah.
    Trims infonya.
    Rajin blogwalking ya :D
  61. MaMaret 24, 2007 pukul 8:51 am
    Kalo gitu cita cita mau jadi dokter biar cepet kaya ga ngaruh lagi ya,, :)
  62. siNungMaret 29, 2007 pukul 3:20 pm
    ke daerah cuma menjadi batu loncatan ya … :)
    boleh saja, dengan asumsi, tiap tahun ada lulusan_baru yang mau menggantikan yg pindah/pensiun,
    sekali-kali jalan-jalan,
    kalau ketemu yg menarik dan cocok
    bisa jadi bahan numpang nampang di blog sampean :) )
    tanya : sudah ada belum tulisan/penelitian
    perbandingan takehomepay pns dokter/medis_lainnya
    di penyelenggaralayanankesehatan (rs/pkm)
    dengan adanya pola remunerasi badan.layanan.umum (blu)
    dibandingkan dg rs/pkm tanpa pola blu ?
    maturnuwun pak :)
  63. cakmokiApril 3, 2007 pukul 4:26 am
    @ Ma,
    Menurut saya, tujuan utama jadi dokter adalah agar dapat memberi manfaat kepada sesama. Jika karena keseriusannya lalu mendapat karunia rejeki berlebih, itu namanya barokah. hehehe
    Seperti pesan di atas, sungguh-sungguh, ikhlas dan ikhtiar, niscaya rejeki datang sendiri. Tul nggak :D
    @ siNung,
    saya tidak termasuk batu loncatan lho :)
    Saya belum menemukan penelitian soal perbandingan remunerasi BLU dan tanpa BLU. Saya lebih cenderung BLU. Perundangan Menkeu (edisi revisi) tidak secara tegas mencantumkan nominal, yang ada adalah persentase.
    Justru saya mau nanyakan ini :D
  64. MonicApril 9, 2007 pukul 4:00 pm
    Halo….
    Gaji dokter pns kecil ? iya sih..klo dibanding dengan pengorbanan yang telah ia lakukan…yang lbh menyedihkan klo dokter spesialis gajinya keccciiiiiiiiiiil sekali…
    Tapi itu gaji…pendapatan bisa lain. Biar dokter spesialis dengan gaji 1 jt, menjadi ndak masalah karena dokter bukan profesi untuk menambang uang, kan bisa bikin pom bensin, bisa bikin usaha lain…(klo tepat milih mertuanya ha ha ha)
    Karena klo di pikir didiskusikan tambah sakit hati, tambah hopeless…ya udah mending energynya buat hunting mertua yang tepat, buat mikir bikin business plan dll
    Biarlah para pembesar dan pemikir kita menilai, mempertimbangkan sistem penggajian dokter agar lebih proporsional…
    Bye
    Monic
  65. cakmokiApril 9, 2007 pukul 4:46 pm
    @ monic,
    hehehe, dapat kecil ya. Setuju, yang penting tetap memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Rejeki bisa datang dari mana saja tanpa diduga.
    Selamat hunting mertua, moga punya POM bensin :D
  66. siNungMei 20, 2007 pukul 10:43 pm
    update mengenai blu cak :)
    (ma’af dari koran ke koran dulu)
    Sabtu, 19 Mei 2007,
    Mesti Ajukan Prognosa Keuangan Lima Tahun
    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285880
    Sabtu, 19 Mei 2007,
    Lima RS Akan ”Diswastakan”
    Dokter Spesialis Tak Boleh Nyambi
    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285844
  67. cakmokiMei 20, 2007 pukul 11:46 pm
    @ siNung,
    Trims.
    Kalo baca sekilas di koran tsb, kayaknya RSUD type c plus dengan TT lebih 100 dan tingkat hunian lebih 60 persen (yg bayar), sangat mungkin bisa BLU. Saya pernah ngelola Pusk Rawat Inat swakelola (obat dan cairan, infus set, dll beli sendiri) bisa setor hampir 100 jt, padahal hanya 12 TT. Syarat minimal 300 jt kan?
  68. Nur MartonoMei 25, 2007 pukul 9:55 am
    Wah Cak Moki lebih enak, dokter kan sabetannya lebih banyakkan Cak.
    Coba perawat ndak ada yang bisa disabet. Gimana ke Kuwait saja Cak, Belum ada dokter Indonesia disini (Biar banyak teman). Di Aab Saudi sudah ada beberapa dokter Indonesia.
    Sebagai Info tambahan dokter expatriat di Kuwait Gajinya Naik Turun setiap Bulan (Tergantung Kurs U$ Harian). Cuma jangan tanya Jauh dari Bojo Cak,,,,,Ngak Kuku juga
    Dokter Expat Bergaji min (700 – 1000 Kuwait Dinnar)
    1 KD Bulan lalu = Rp. 31.000
    Bulan ini turun sejalan penguatan rupiah Rp. 30.000 an
    Seru juga cak Blognya
    Tukar tukar Info bacaan
  69. cakmokiMei 25, 2007 pukul 11:24 am
    @ Nur Martono,
    iya, banyak sabetan. temen yg di pedalaman sabetannya buanyak, nyabet bebek. hahaha.
    Saya dah mukim di ndeso™ dulu mau sih, trus gak jadi, soalnya dipanggil depkes, inpres ke Kaltim, TKI dalam negeri. hahaha
    ok bisa, saya dah sering baca koq :D
  70. chieliciousMei 25, 2007 pukul 5:27 pm
    Hmm aku kira jadi dokter itu kehidupannya wah..ternyata gak selalu.. sama aja kayak guru donk yah..klo gak diniatin buat bantu orang lain kayaknya ‘males’ bertahan..
    jadi inget temen yang guru tk dan akhirnya ganti kerjaan gara2 gajinya kecil..
    salut wat cak moki ^ ^
  71. cakmokiMei 25, 2007 pukul 5:45 pm
    @ chielicious,
    Itulah gambaran temen-temen di pedalaman. Alhamdulillah saya tetep betah di desa.
    Trims tambahan semangatnya ;)
  72. rigaJuli 7, 2007 pukul 1:57 pm
    gw cuma percaya okter lulusan ptn pulau jawa (UI, Unpad, UGM, Unair, Unbraw, UNDIP). dokter lulusan univ swasta?? banyak bertobatlah kau, kau tipu pasien2mu dengan otak pas2anmu
  73. cakmokiJuli 7, 2007 pukul 9:49 pm
    @ riga,
    hehehe, masa sih ?
    walau sy lulusan unair bukan berarti lebih baik dari swasta, sy tetap hormat kepada sesama sejawat lulusan manapun. Ketrampilan tidak selalu berbanding lurus dengan tempat menimba ilmu, asalkan mau terus belajar tanpa henti niscaya bertambah ilmunya darimanapun alumninya. Sebaliknya, dokter lulusan pt yg dianggap terkenalpun tidak bertambah ilmunya jika tidak belajar.
    Kalo soal perilaku, darimanapun seorang dokter berasal, punya peluang yg sama untuk menjadi baik dan tidak baik bukan? :D
    Trims udah mampir :)
  74. mellaJuli 16, 2007 pukul 1:56 pm
    biarkata si riga ngomong pedas, tapi terkadang gw juga ngerasa gitu, banyak dokter2 yang memiliki kemampuan intelektual yang “agak kurang”, dan memang yang dari ptn pulau jawa boleh dibilang top student, jadi dapat di andalkan.. (pendapatku pribadi aja lhoo…)
  75. cakmokiJuli 16, 2007 pukul 2:11 pm
    @ mella,
    eh, gitu ya … ;)
    Kalo memang demikian perlu kajian kompetensi dari direktorat pendidikan tinggi untuk evaluasi. Jika memang dipandang tidak merata kayaknya perlu perbaikan sistem agar bisa lebih merata ya …
    Trims pendapatnya, kita boleh dan bebas berpendapat koq, hehehe
  76. kuda lumpingJuli 19, 2007 pukul 4:21 pm
    ato jangan2 itu ya penyebab seringnya kasus malpraktik di indonesia?? krena yang jd dokter kurang kompeten?? salah diagnosis, salah kasih resep dsb?? oh tidaaaaaaak, aku takut ke dokter ;) ]
  77. cakmokiJuli 20, 2007 pukul 12:34 am
    @ kuda lumping,
    Malpraktek? … beda om, malpraktek lebih kepada prosedur teknis medis.
    hehehe, syukurlah gak perlu ke dokter, berarti sehat kan … :)
  78. sibermedikJuli 21, 2007 pukul 10:10 am
    cak niy ada pesan dr Prof. di Jakarta..
    Terpampang didepan salah satu lab Fak.Kedokteran..
  79. sibermedikJuli 21, 2007 pukul 10:14 am
    Rumus Farmasi Cak!
    Obat Murah + Ampuh = biasanya g aman.
    Obat Murah + Aman = biasanya g ampuh.
    Obat Ampuh + Aman = biasanya g murah.
    Jadi….
    1. Jadi dokter itu baik.
    2. Jadi pedagang itu baik.
    3. Jadi dokter kayak pedagang??? Itu g baik!!!!!!
  80. sibermedikJuli 21, 2007 pukul 10:40 am
    coment postinganku po’o??
  81. cakmokiJuli 21, 2007 pukul 12:42 pm
    @ sibermedik,
    Prof siapa? Prof Iwan ya
    Obat murah+aman= bisa ampuh
    Obat ampuh+aman= bisa murah, hehehe
    aq bisa !!!
    ok, udah gitu, ada yg baru po ?
  82. dr.Dimas prasetyio Skp.Juli 24, 2007 pukul 3:42 pm
    aduh pusing mikirin gaji………………kenapa harus pusing pusing kerja di indonesia dengan tingkat pengangguran nya yang saya rasa pemerintah kurang memperhatikan nasib warganya untuk hidup layak dan sejahtera lebih baik kalian kerja diluar negeri jadi perawat saja gajinya berkisar 10 jt – 60 jt di luar negeri gak usah biongung bingung ayo kita jadi perawat saja berbondong bondong keluar negeri
  83. johanJuli 24, 2007 pukul 4:52 pm
    dimas ktua osis?
  84. cakmokiJuli 24, 2007 pukul 11:55 pm
    @ dr.Dimas prasetyio Skp.,
    benar, sy sependapat, …dah cukup banyak tenaga kesehatan yg ke luar negeri karena di negeri sendiri mungkin diabaikan.
    menurut sy, ada yg keluar negeri dan harus ada pula yg di dalam negeri sebagai penjaga gawang.
    Ini untuk keseimbangan, agar warga kita ada yg ngurusi. Dan menjadi kewajiban temen-temen yg di dalam negeri untuk terus memperjuangkan nasib sejawat terutama yg di pelosok-pelosok. Mereka bekerja tanpa kenal waktu namun cenderung diabaikan.
    @ johan:) ketemu kokega ya
  85. nasa tulakbarJuli 26, 2007 pukul 12:46 pm
    assalamualaikum
    pertama saya ingin mengucapkan selamat buat kalian yang di terima di PTN favourit. disini saya hanya ingin meminta doa dari rekan semua supaya mendoakan saya agar bisa di terima di Fakultas Kedokteran UNPAD lewat jalur SPMB walaupun memang gaji dokter kecil tapi disini saya tidak mempermasalahkan gajitapi saya ingin mengabdi kepada masyarakat fdan memajukan sistem kesehatan yang ada di indonesia tapi kalaupun saya gak lulus kedokteran saya berencana untuk kuliah di keperawatan dan insya Allah berencana bekerja di luar negeri soalnya saya dapat informasi bahwa gaji perawat di luar negeri melebihi gaji dokter di Indonesia bayangkan di Amerika saja gaji perawat bisa mencapai rata rata per bulan 10.000.000 – 60.000.000.- jt waw…sungguh sangat pantastis bukan sebaliknya gaji mahasiswa yang baru lulus kedokteran gajinya hanya 1.400.000.- sama dengan gaji PNS tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan semasa kuliah ……….. dari itu kepada rekan rekan seangkatan saya yang bingung mencari perkuliahan yang menjamin kehidupan masa depan jangan tanggung tanggung untuk memilih fakultas yang diminati dan sesuai kemampuan anda . semoga informasi ini menjadi inspirasi kalian untuk mentap masa depan yang gemilang.
    terima kasih
    nasa tulakbar
  86. cakmokiJuli 26, 2007 pukul 4:06 pm
    @ nasa tulakbar,
    Pertama:
    Sy ucapkan selamat berjuang dan moga berhasil di FK Unpad :)
    Kedua:
    jadi sedikit heran, … pernyataan di atas “siap mengabdi” untuk warga masyarakat biarpun gaji kecil, sedang pernyataan di bawah mengejar gaji fantastis …. jadi gimana nih.
    Btw, apapun pilihannya saya ucakan semoga sukses :D
  87. ginnaAgustus 21, 2007 pukul 10:57 am
    Hi cakmoki!
    Duh, waktu lulus jadi dokter, sumpah aku nyesel buaangeeet.. kenapa gak manut aja ama bapak jadi arsitek.
    setelah sekolah 4 tahun S.Ked dan 2 tahun program profesi yang “amit-amit” (lebih parah daripada dijajah Jepang!) jadi babu seribu umat, lebih hina dari debu dibawah keset! (beneran lho di almamaterku kayak gitu,, ndak tau ditempat laen).. buat adek yang mau masuk FK UNPAD, he.he.. tanya-tanya yang jelas dech gimana rasanya jadi Ko-ass di sono..kalee aja sekarang mah sudah berubah.
    Setelah sekolah yang luaama itu, (temen2ku yang SE or SH dah kerja 2 taunan) mulai kerja dong, jaga klinik 24 jam cuma dibayar 50 rebu doang huukk.. mamah ngapain aku jadi dokter..
    Belum lagi waktu lulus di media digembar-gemborkan sekali tuduhan malpraktik, pemberitaannya gak seimbang, menyudutkan, koq kayanya mereka sirik banget sich ama dokter, pedahal cobaiin aja sendiri gak enaknya jadi dokter. Kerja di rumah sakit juga sama aja, dibangunin malem-malem, dibentak-bentak keluarga pasien,orang libur lebaran kita cengo nungguin pasien, lagi huamil gede masih harus lari-lari resusitasi pasien, pokonya gak ada enaknya jadi dech jadi dokter, palagi cuma dibayar 6 rebu doang perpasien, tapi kalau ada tuntutan buntutnya penjara dan ganti rugi yang gak tau kapan bisa dibayarnya. aku benci banget ama media kita yang menurut pandanganku kurang ajar dan gak seimbang (he.he. emosional bo!)makanya aku bikin media sendiri, berusaha ngasih sudut pandang laen
    lalu menkes juga sama aja, ribut bilang gaji dokter ampe 7 juta? kesannya oke banget kalau buat awam, pedahal Mas ku yang lagi “dipaksa” PTT ditempat sangat terpencil yang bahkan sinyal pun tak ada, jauh dari anak istri, gak dapet ampe 5 juta. gak bisa praktek karena masyarakatnya muiskin buanget, dipotong pajak, mobil ambulans rusak diperbaiki atas biaya sendiri, ngerujuk pasien pun atas biaya sendiri, obat kurang ditombokin juga, ah kalau diterusin kayanya muna ya? tapi yang pasti, janji pemerintah tidak pernah seindah yang dikatakan..
    walau gimana, aku sich pasrah mungkin ini memang tugas dari Allah SWT kali ya buat aku didunia ini, dibalik “ketidakadilan” terhadp profesi ini, banyak koq yang bisa disyukuri, senyum tulus pasien waktu sembuh, ucapan terima kasih tulus atas apa yang kita lakukan (walau sebenarnya gak hebat-hebat amat..(gak ada yang hebat kan yang bisa kita lakukan)).. tidak ternilai,tidak terbayar.. Namun, kasian anakku, ia masih perlu susu yang harus dibayar, pendidikan yang harus dibayar, dan waktu yang hilang karena emak-bapanya kerja kaya orang gila untuk membayar itu semua.. he,he,,
    Pokoknya.. jangan muauu jadi dokter! kecuali dah kaya sebelumnya..
    Salam
    (muaaf ya curhat.. gak punya temen curhat seech. lagi ditinggalin PTT huk)
  88. cakmokiAgustus 21, 2007 pukul 1:24 pm
    @ ginna,
    huahahaha hahaha hahaha …
    Maaf mbak Ginna, bukan menertawakan, … ungkapan ini nyaris seragam disampaikan teman-teman nun di pinggiran …
    gelar sih dokter, penghasilan kalah ama tukang cukur … eh, mak, tukang cukur di dekat rumah ongkosnya 6.500,- … pasiennya perhari bisa 60 orang lho :D
    Saat ditanya sekolah anaknya di mana?
    weleh … saya langsung grogi mode ON, … lha piye, sekolah di kelurahan ini, kecamatan ini nun jauh di sana dan tidak dikenal, … hehehe asyik
    Akhirnya, apapun itu … saya sangat sependapat bahwa profesi ini (dokter), dipuji ataupun dicela, … tetaplah sebuah profesi yang patut dipertanggung jawabkan dan berharap memberi manfaat bagi sesama.
    Biarlah para penggede sibuk dengan janji dan jargon, yg penting kita bekerja walaupun gak kenal hari raya …
    Merdeka !!! :D
  89. pencari berkahAgustus 21, 2007 pukul 9:00 pm
    salut buat pengabdian para dokter yang mau membantu masyarakat miskin.. saya bukan dokter, tapi saya juga setuju, kalau pemberitaan terhadap dokter2 di indonesia tidak berimbang, selalu terlihat image buruknya, padahal mereka tuh nggak ngerasain yang pahitnya menjadi seorang dokter.. yah moga moga Allah SWT membalas segala kebaikan para dokter di indonesia, amien
  90. cakmokiAgustus 21, 2007 pukul 10:31 pm
    @ pencari berkah,
    thank you, Bos …
    bagi kami, image jelek gak papa, sebagai feedback untuk perbaikan pelayanan … kritik konstruktif tentu kami terima dengan lapang dada.
    mungkin benar, andai media mau hidup bersama dokter di pedalaman selama seminggu saja (kalo mau) mungkin penilaian sedikit berbeda.
    Terimakasih atas do’a dan supportnya. Amin
  91. widyaswaraSeptember 16, 2007 pukul 8:03 am
    menurut sy taking this major is a hard work, time consuming, jd ya wajar klo bny calon dokter yang orientasinya lb k finansial..tp klw gajinya cm segitu mnurutq g sebanding sm all the hard work a doctor do, napa nggak jadi lecturer d malaysia aja..btw klw diitung2 gaji dokter d indo sm d luar negri koq bda jauh y..pdhal medical school d Indo juga ok, kedok UGM aja ud bs msk 100 bsr dunia..tapi emg kuliah di kedok UGM kayaknya intense bgt
  92. cakmokiSeptember 16, 2007 pukul 3:33 pm
    @ widyaswara,
    Andai finansial menjadi tujuan utama, kali banyak dokter eksodus ke LN, … org kita yg bekerja di semenanjung eropa, cuman 3 minggu dlm sebulan, dapet biaya transport pp enam bulan sekali. Gaji sebulan setara dg gaji 3 tahun di Indo …. lha kalo di sana 3 tahun sama dengan di Indo berapa tahun tuh, …hahaha
  93. vicarNovember 13, 2007 pukul 2:11 pm
    eh….ada usulan? untuk pembagian JP/JS yang adil ?….ada rumah sakit mau bikin sistem remunerasi baru (RSUD) buat adilnya……?
  94. Melly AngganiaNovember 28, 2007 pukul 9:39 am
    Ass Wr Wb
    Pak Cakmoki.Saya dulu angkatan pertama PTT tahun 1992…..dapat daerah biasa gaji 350 ribu lalu berubah 500 ribu.Dapat daerah yang pas dengan tempat kerja suami diperkebunan walau harus sejam perjalanan ke PKm di kab Bandung..jarak pendek tapi medan jalan penuh batu2 besar jadi merayap jalannya kendaraan. Saya nikmati,…..3 tahun .Setuju dengan Bapa dimana pun apapun profesi kita yakin dengan ketentuan dari Alloh akan diturunkan pertolongan dariNya dari arah yang tidak terduga duga…… niatkan lurus saja kita jadi dokter untuk menolong sesama…Saya jadi tergugah dengan tulisan2 Bapa bahwa menjadi dokter memang beginilah penuh suka dan duka…tergugah jua karena anak ke 2 saya berminat menekuni profesi ini….Doakan saja baru akan menjalani ujian SMUN tahun depan ini….Para Dokter dokter sekalian…..teteup….semangat…..terus…….wass
  95. cakmokiNovember 28, 2007 pukul 11:45 am
    @ vicar,
    Ada, salah satu RSD type C plus di kota kami moga memulai hal tersebut. Kebetulan saya dapet tugas bikin sistem pengelolaan dan draft Perda. Udah selesai tahun lalu dan moga dapat diaplikasikan oleh pihak manajemen RS.
    @ Melly Anggania,
    Saluut !!!
    Moga teman sejawat yang lain dimanapun berada juga membaca tanggapan mbak Melly.
    Moga ananda tercinta dapat meneruskan profesi ibunya, dan semoga dapat memebri manfaat bagi sesama.
    Amin
  96. JuliachJanuari 8, 2008 pukul 11:36 pm
    Wah ketemu juga artikelnya yg lama sudah nylempit.
    Sejak malam natal hingga saat ini dokter2 UGD, para medis UGD, dokter anestesi dan re-animateurnya di seluruh Perancis pada unjuk rasa, nih. Mereka minta gaji 23jt Euros yg belum terbayar gara-gara kelebihan jam kerja.
    Hari ini saya dengar sindikat dokter sedang negosiasi dengan menteri kesehatan.
    Ini ada artikelnya dari TV france3 : http://aquitaine.france3.fr/info/37929849-fr.php
    Sayang artikel yang sama tidak saya ketemukan di koran Indonesia.
    Saya pikir dokter-dokter dan paramedis di Indonesia berhak unjuk rasa untuk memperjuangkan soal gaji.
    Kita bisa tekan Menteri Kesehatan untuk memberi gaji yg layak. Paling enggak kita harus menghargai kerja mereka dan memanusiakan dan mensejahterakan manusia di Indonesia yang hidup di pedalaman, baik dokter/paramedis dan masyarakat.
  97. cakmokiJanuari 9, 2008 pukul 3:26 am
    @ Juliach:
    di Indonesia, kalo dokter dan paramedis nuntut kenaikan gaji dianggap aneh bin ajaib karena dianggap bisa praktek untuk cari tambahan penghasilan … hehehe. Jangankan nuntut, lha tulisan ini saja sudah dicibir, dianggap gak bersyukur … belum lagi masih dituntut kalimat sakti yg berjudul “pengabdian”, layanan optimal … dan bla bla bla
    Ada beberapa teman yg memilih keluar dari PNS dengan beribu alasan. intinya sih saatnya ngurusi diri sendiri dengan mencari penghasilan yg layak setelah dirasa cukup “mengabdi” kepada negara *halah, ngabdi lagi* … Masalah lainnya, pola pikir petinggi negeri ini gak sama dengan di sono, di sini kan sibuk cari “sabetan” dibanding benar-benar ngurus rakyat *maksudnya oknum, biar gak ada yg tersungging* :roll:
  98. cakmokiJanuari 9, 2008 pukul 3:28 am
    @ Juliach:
    huaaaaa, link-nya bhs perancis … ampun deh :D
  99. tataJanuari 9, 2008 pukul 6:18 pm
    yang aku tahu dari crita kakakku yang kerja di salah satu perusahaan farmasi, ngeri banget.. “sebagian besar” dokter cari uang dengan cara yang kurang baik. membuat perusahaan farmasi terpaksa menyesuaikan harga obat untuk “marketing cost”
    masyarakat ingin anaknya jadi dokter bukan hal yang aneh. karena masyarakat melihat kbanyakan dokter hidup dalam ekonomi yang baik. ini tak terbantahkan kan?? tapi kalau lihat tulisan-tulisan yang cerita gaji dokter ga seberapa, aku jadi bingung.. kesejahteraan yang baik itu selisihnya didapat dari mana. dari situ sepertinya aku mulai meng-iya-kan cerita kakakku.
    entahlah.. biaya masuk untuk kuliah kedokteran juga konon besar sekali. tentu “pikiran dasar” manusia adalah ogah rugi.. kemana biaya itu musti dicari gantinya.
    entahlah.. entahlah
    semoga kita semua ga menilai orang dari materi yang dimiliki.setiap orang ingin dinilai bagus. kalau bagus adalah tingkat kepemilikan materi ukurannya, orang akan berusaha ngejar materi. dan itu memancing orang di profesi apapun untuk ngejar materi.. akhirnya cara-cara yang tidak sebaiknya pun ditempuh.
  100. cakmokiJanuari 9, 2008 pukul 11:29 pm
    @ tata:
    ya, saya paham kebingunan yang dialami setelah melihat antara gaji dan kenyataan.
    Namun percayalah bahwa menempuh jalan yang benar dan diridhoi jauh lebih mulia dibanding cara-cara yang tidak terpuji :)
    Kesejahteraan atau tambahan penghasilan bisa didapat dari praktek atau kerja tambahan di luar jam dinas. Kesempatan menjalani hidup jujur selalu terbentang di depan mata.
    Lagipula, Tuhan Maha Adil lagi Maha Bijaksana.
  101. tataJanuari 13, 2008 pukul 2:09 pm
    hmm… fenomena dokter nyari duit dengan ngejar bonus penjualan dari perusahaan farmasi sebenernya sudah jadi rahasia umum. (ga usah ditutup-tutupi atau dicari2 dalih untuk membenarkannya banyak orang dah ) namun sepertinya pihak “umum” tidak punya kekuatan apa2 untuk menghadapinya. yang ada kalau sudah sakit cmn nggerundel dan ga bisa apa2..
    orang dalam keadaan sakit itu seperti ga punya pilihan lain, bahkan segala cara dilakukan.
    semoga keterpaksaan orang sakit tidak dimanfaatkan untuk aji mumpung mencari penghasilan.
    mengerikan sekali kalau hal-hal seperti itu terus berjalan. orang yang melihat dan berharap malaikat yang akan menolong sakitnya, ternyata dibalik kemalaikatannya ada sosok yang…………………
    semoga kedepan dokter2 kita makin baik. pihak-pihak pembuat regulasi mestinya lebih tegas.. atau ketidak tegasannya selama ini juga karena dapat bagian??? aku juga kurang tahu… waaupun kakakku yang kerja di farmasi, kenalanku yang di farmasi dll sering cerita begitu…
  102. cakmokiJanuari 13, 2008 pukul 8:22 pm
    @ tata:
    iya bener, rahasia umum, tapi tidak bisa dibenarkan dari sudut manapun :)… silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang: Sponsorship Bagian 1.
    kalo sudah begitu, dokter ibarat sosok yang sangat mengerikan.
    Saya sendiri tidak berharap banyak pada para pembuat regulasi, karena sebagian mereka juga terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam “hajatan” mengerikan itu.
    So, tulisan ini mengajak para teman sejawat agar tidak memanfaatkan orang sakit untuk kepentingannya sendiri dengan dalih apapun, apalagi smapi menipu, … contohnya Bantuan untuk Pasien Miskin yang melalui Askes … itu bohong !!!
    Dan tidak perlu terlalu cemas, karena selalu ada para dokter yang masih menjunjung tinggi harkat dan integritas keilmuannya ;)
  103. tataJanuari 18, 2008 pukul 10:47 am
    @cakmoki
    Dan tidak perlu terlalu cemas, karena selalu ada para dokter yang masih menjunjung tinggi harkat dan integritas keilmuannya
    hehe.. mudah-mudahan ga “selalu ada” dalam jumlah sedikit.
    usaha realnya para dokter yang baik seperti apa cakmoki? ada ga sih kelompok dokter yang berani menyatakan sikap. kalo perlu IDI bubarin aja.. bikin asosiasi baru dokter-dokter bersih.
    aku pernah nonton film patch adams.. kapan kita punya orang2 seperti itu.
    beberapa dokter kenalanku aja juga banyak yang ga bener. sempet dia marah2 sama orangfarmasi karena uangnya blum ditransfer.. pas ketemu ama orang farmasi tersebut baru crita kalo si dokter minta ini itu.. kalo ditraktir ama dia ihh… kebawa makannya ga enak. jijik banget. anggap ditraktir soto ayam, ngebayanginnya orang2 yang sakit sakitan ditipu pula. mana enak makannya..ehhgrh.. soto daging ayam.. nglihatnya kaya soto daging manusia gitu..
    kasian banget anaknya dikasi makan pake uang gituan.. hmm.. ga tega aku nglihatnya.
    ada juga kenalan dokter yang kulihat cukup bersih. aku lihat sendiri kalo mahasiswa rantau dateng ke tempat dia, atau orang ga mampu.. dia kasi gratis.. kehidupannya juga biasa-biasa aja. dia ngasih solusi sehat.. bukan obat2an macem2.. kadang ngasi tau yang baek2.
    tapi koq aku jarang banget melihat yang seperti ini.
  104. cakmokiJanuari 19, 2008 pukul 12:18 am
    @ tata:
    “selalu ada” menurut rilis majalah Tempo September 1999, konon lebih 50% dokter kehilangan idealismenya, sekarang gak tahu tinggal berapa, hehehe
    usaha realnya mudah koq: gak korupsi, gak nerima angpao dari manapun (farmasi dll), gak meras pasien, murah meriah, bersahabat and ramah dan merakyat, dijamin hidup tentram dan damai, bahagia … hehehe
    Tentu ada kelompok dokter yang berani menyatakan sikap, cuman gak pernah dibuka untuk umum, kali takut dianggap mencemari dunia medis *tolah-toleh* .. dan solusinya menurut saya bukan membubarkan IDI tapi mengubah IDI menjadi institusi profesi yang memberi manfaat bagi sesama. IDI di tempat kami pernah membantu puluhan rumah warga miskin yang berlantai tanah menjadi berlantai semen sehingga mereka bisa menikmati tinggal di rumahnya tanpa khawatir becek saat musim hujan dan berdebu saat kemarau. Itu bergantung kepada nakhodanya kan? Dan itu bisa !!! ini bukan cita-cita lho tapi udah berjalan, hehehe *gak pamer lho ya* … jujur saja, teman yang ndableg poll juga ada :P
    kasian banget anaknya dikasi makan pake uang gituan.. hmm.. ga tega aku nglihatnya.
    hmmm moga blockquote ini dibaca para sejawat.
    Blog ini dibaca teman-teman dokter koq, so monggo sampaikan uneg-uneg di sini tanpa perlu khawatir, paling ntar yang diomeli saya dan omelan tersebut gak mempan deh … soale akan tetap nulis sesuai kenyataan, yang buruk maupun yang baik.
    sekali lagi, masih ada (moga masih banyak) dokter yang baik seperti gambaran di atas. Thanks atas share nya :)
  105. danielJuli 21, 2008 pukul 10:31 am
    Kalau dokter digaji layak sebagai tenaga ahli (dokter umum saja seperti nya sebagai tenaga ahli; sekolahnya paling cepat 6 tahun), dan masyarakat sakit ditanggung asuransi kesehatan oleh pemerintah. maka tidak akan atau mungkin kecil kejadian dokter nyambi2 dibanyak tempat, bahkan lalai terhadap pasien2nya. Tetapi dijamin dokter tidak akan mengabaikan pasiennya apalagi menyangkut nyawa dan reputasinya yang tidak bisa disembunyikan/rekayasa. Pemerintah sangat kurang perhatian pada tenaga ahlinya. Bandingkan juga jumlah lapangan kerja dengan adanya fakultas hukum, fakultas sospol, dan ekonomi yang sangat banyak dan ada pada hampir seluruh universitas ternama/abal. setiap fakultas tersebut di atas 3-4 tahun lulus, calon mahasiswanya rata2 150-200 orang. Padahal tidak semua universitas ada fakultas kedokterannya. Kenyataannya yang teriak2 dan keadaan dokter yang ditangani oleh pemerintah dikuasai oleh politisian, bukan oleh negarawan. Apalagi departemen keuangan (si pencetak uang/perintah pencetakan uang kertas) merasa kerjanya menggaji semua jenis PNS/aparatur negara sebagai anak buah, bukan sebagai pengelola keuangan sehingga merasa yang diprioritaskan adalah pegawai keuangan dengan gaji/tunjangan yang lebih tinggi, demikian cakmoki sharing dari saya
  106. cakmokiJuli 22, 2008 pukul 1:33 am
    @ daniel:
    hehehe, sangat berani … salut :)
    …pemerintah dikuasai oleh politisian, bukan oleh negarawan
    seorang profesor dalam kajiannya menyebutkan bahwa sebagian besar daerah tingakt I dan II bukan dikelola oleh negarawan (teknokrat) melainkan oleh aktor politik … itukah yg dimaksud dengan politisian.. kalo iya, cocok banget yaaa…
    Thanks sharenya, moga para petinggi ikut membacanya (kalo sempet) :D
  107. danielJuli 24, 2008 pukul 10:07 am
    Jadi politisian tersebut berasal dari anggota-angota partai yang awalnya tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan biasanya baru taraf membela perut sendiri melalui partai-partai dan umumnya mereka sarjana-sarjana yang ‘menganggur’ yang diakomodasi oleh para orangkaya yang berpolitik melalui perpanjangan tangan para sarjana yang menganggur yang pimtar ngomong sewaktu mahasiswanya, serta ada juga dari para preman intelek yang mampu mengerahkan massanya. Begitu mereka masuk jadi anggota legislatif atau bahkan departemen2 melalui para menteri2 non karier, maka mulailah kelihatan ilmu aji mumpungnya. Minta tunjangan2 yang nggak masuk diakal dan semuanya untuk; kepentingan diri, profesi2 yang gak jelas kerjanya, partai2 dan baru saudara2nya sekampung/KKN yang pernah berjasa pada kampanye mereka. Semua kekayaan negeri ini dikuras habis mulai dari sumber kekayaan alam seperti migas/mineral ‘djualin’ dan ‘dicaloin’ (dicilok boleh juga, bahasa padangnya dimalingin), telekomunikasi ‘dikartelkan’ agar dapat selisih tarif untuk mereka tersebut. sehingga pendidikan dan kesehatan sangat mahal sementara dokter dan guru dibayar semurah-murahnya. Semua rakyat kena pajak berganda. Kata slogannya: “Bayar pajaknya, awasi penggunaannya”? Bagaimana mengawasi penggunaannya, wong laporan keuangannya aja nggak pernah dipublikasikan, gimana direktorat jendeal ‘penjajah’?
  108. danielJuli 24, 2008 pukul 10:45 am
    Pendidikan dan kesehatan sangat mahal di Indonesia “tercinta”, termasuk harga obat (obat: pajak bahan baku obat tinggi, promosi obat dipajakin lagi, belum lagi ada dokter praktek laris yang disanguin perusahaan obat) Dokter dan guru digaji semurah-murahnya. Dokter/guru ingin mencari penghasilan tambahan dari murid2/pasien2nya. jadi dokter yang kaya di Indonesia adalah kekayaannya dari orang sakit bukan dari program pemerintah untuk mengentas kebodohan dan kepenyakitan. Dokter dan guru sangat dipersulit untuk dapat bekerja di luar negeri, sementara sarjana WNI non dokter/guru banyak bekerja untuk negeri lain seperti di Singapore, Malaysia, Arab, dll. Di negara lain banyak guru/dokter dapat bekerja di luar negaranya. Diknas sudah harus menjaga keseimbangan fakultas-fakultas yang mencetak terlalu banyak sarjana yang menganggur, kalau perlu tutup sementara. Daerah otonom/Depdagri harus menggaji yang layak untuk para dokter/gurunya, dan rakyatnya dibebaskan biaya pengobatan, depkes harus membuka seluas-luasnya pendidikan tambahan untuk para dokter di luar depkes seperti yang dilakukan pada diknas. DepKeu: Pajak harus jelas dan sederhana jangan terlalu banyak fitur seperti perpajakan menurut ukuran tingkat kekayaan, kemewahan barang, contoh lain: 1 porsi mi ayam yang kita makan saja kira-kira ada lebih dari 10 item yang kena pajak, dll. Sampai saat ini tol jagorawi masih berbayar, seharusnya gratis, padahal untungnya dan dana obligasi yang didapat sudah bisa membuat jalan tol lainnya
  109. cakmokiJuli 24, 2008 pukul 11:27 am
    @ daniel:
    Hmmm, ahli banget mengurai sebagian masalah di negeri ini…
    Lengkap nih … sebegitu parah yaaa?
    Tengkyu infonya … moga bermanfaat untuk perbaikan :)
  110. vampire_surferAgustus 21, 2008 pukul 5:47 pm
    sebenarnya hal seperti ini mirip sebuah lingkaran siklus dimana satu hal ke hal yang lain saling berhubungan. Kalo yang saya perhatikan dari tulisan bung cakmoki, menurut aku kemungkinan faktor yang berpengaruh adalah : 1. biaya sekolah sampai menjadi dokter , 2. di indonesia gak ada standar salary untuk dokter ( self employee toh ), 3. umumnya instansi2 baik pemerintah dan swasta juga gak memiliki standar yang relevant mengenai profesi yang satu ini. Jadi kurang lebih kemungkinan beberapa praktisi berpikiran ” gmn nutup biaya sekolah dan biaya yang akan datang” ( ini bagi yang berpikir secara ekonomi loh. Karena layaknya sebuah rumah sakit yang memiliki norma dan segala aspek sosialnya, namun di dalamnya juga terkait yang namanya Ekonomi kesehatan.
    Makanya kadang pasien kurang mampu kadang di tolak oleh rumah sakit, bukan karena rumah sakit gak mau nampung, tapi mereka memikirkan bagaimana menutup cost ini itunya dan siapa yang akan membayarnya ? pemerintah ? kalo dari berita baru baru ini sih kalo gak salah instansi pemerintah dan berbagai asuransi kesehatan banyak memiliki tunggakan pembayaran kesehatan yang belum terbayarkan.
    Saya rasa begitu juga dengan dokter ( bukan membela hanya melihat beberapa fakta yang kebetulan terlihat ), dokter memang memiliki aspek suatu profesi yang syarat dengan aspek sosial. Tapi jangan lupa loh mereka juga manusia yang butuh biaya hidup untuk anak dan keluarganya.
    Jadi anggapan selama ini kalo dokter itu kan banyak uangnya makanya sekolahnya mahal, mestinya sosial dikit donk. Yang pasti jiwa sosial itu pasti ada pada semua dokter , cuma beda takarannya alias proporsinya aja, karena kembali ke sifat-karakter dan kebutuhannya sebagai manusia.

PENCARIAN